Hari pertama sekolah sering kali lebih menegangkan bagi orang tua daripada anaknya.
Tas sudah disiapkan.
Sepatu sudah dicoba.
Seragam sudah digantung rapi.
Tetapi ada satu pertanyaan yang diam diam terus berputar di kepala kamu.
“Anakku sudah siap belum, ya?”
Nah, pertanyaan itu sangat wajar.
Apalagi kalau kamu melihat anak lain yang sudah lancar membaca, menulis namanya sendiri, atau bahkan berhitung. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan.
“Wah, anakku kok belum seperti itu, sih?”
Eits, tunggu dulu.
Kesiapan masuk sekolah ternyata tidak bisa diukur hanya dari seberapa banyak huruf yang sudah dikenal anak. Kemampuan akademik memang penting, tetapi ada bekal lain yang sering justru lebih menentukan: kemampuan berkomunikasi, mengurus diri, mengikuti rutinitas, berinteraksi, menghadapi rasa kecewa, dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Jadi, sebelum sibuk mengejar anak agar bisa membaca, yuk lihat dulu tanda tanda lain yang mungkin sudah ada pada dirinya.
Perpisahan Tidak Lagi Terasa Menakutkan
Coba bayangkan kamu mengantar anak ke sekolah.
Begitu sampai di gerbang, tangannya menggenggam tangan kamu lebih erat.
“Jangan tinggalin aku.”
Hati langsung meleleh, ya?
Tenang.
Anak menangis ketika berpisah bukan otomatis berarti belum siap sekolah. Perpisahan memang bisa membuat anak merasa tidak nyaman, terutama ketika menghadapi lingkungan yang belum dikenalnya.
Yang lebih penting adalah kemampuan anak untuk perlahan kembali tenang.
Misalnya, setelah kamu pergi dia mulai mau bermain. Kemudian bersedia mengikuti guru. Beberapa waktu kemudian, dia bisa menikmati kegiatan di kelas.
Nah, kemampuan untuk beradaptasi itulah yang perlu kamu perhatikan.
Jadi, jangan menjadikan “tidak menangis” sebagai satu satunya ukuran kesiapan.
Anak boleh menangis.
Anak boleh takut.
Yang penting, dia perlahan belajar bahwa berpisah sebentar bukan berarti kehilangan orang yang dia sayangi.
Bisa Mengatakan Apa yang Sedang Dirasakan
Bayangkan anak berada di dalam kelas.
Perutnya terasa sakit.
Dia haus.
Atau mungkin ada teman yang membuatnya tidak nyaman.
Lalu, apakah dia mampu mengatakan apa yang terjadi?
Kalimatnya tidak harus panjang.
“Bu, saya haus.”
“Saya mau ke toilet.”
“Perut saya sakit.”
“Saya takut.”
“Saya belum mengerti.”
Nah, kemampuan menyampaikan kebutuhan seperti ini sangat berharga.
Kamu bisa melatihnya dari percakapan sehari hari di rumah.
Ketika anak terlihat kesal, jangan langsung menebak.
Coba tanyakan, “Kamu sedang merasa apa?”
Kalau dia belum tahu jawabannya, bantu dengan pilihan.
“Sedih atau marah?”
“Wah, ternyata kamu kecewa, ya?”
Dengan cara seperti ini, anak belajar mengenali perasaannya sekaligus mengomunikasikannya.
Tidak Langsung Menyerah Ketika Sulit
Ada satu tanda kesiapan yang sering luput.
Bukan kemampuan membaca.
Bukan kemampuan berhitung.
Tetapi kemauan untuk mencoba lagi.
Coba perhatikan ketika anak memakai sepatu sendiri.
Kalau gagal, apa yang dia lakukan?
Langsung melempar?
Menangis?
Atau mencoba lagi setelah mendapatkan sedikit bantuan?
Nah, yang terakhir merupakan kebiasaan yang bagus untuk terus dikembangkan.
Sekolah akan penuh dengan hal baru.
Ada tugas yang belum bisa.
Juga Ada permainan yang belum pernah dilakukan.
Mulai Bisa Mengikuti Instruksi
Ada aturan yang perlu di pahami.
Anak tidak harus langsung berhasil.
Yang kita harapkan adalah dia tidak langsung merasa, “Aku nggak bisa.”
Kamu bisa mengubah cara memberikan pujian.
Daripada hanya mengatakan, “Pintar!”
Sesekali bilang, “Wah, kamu tadi sempat kesulitan, tapi kamu coba lagi.”
Pujian seperti ini membantu anak memahami bahwa usaha juga memiliki nilai.
“Masukkan buku ke tas.”
“Setelah bermain, simpan mainannya.”
“Ambil sepatu, lalu taruh di rak.”
Instruksi sederhana seperti ini sebenarnya bisa menjadi latihan sebelum anak masuk sekolah.
Tidak perlu membuat sesi khusus.
Cukup masukkan ke dalam rutinitas.
Nah, kalau anak masih kesulitan mengikuti dua atau tiga perintah sekaligus, jangan langsung khawatir.
Mulai dari satu instruksi.
Setelah terbiasa, baru tingkatkan.
Tujuannya bukan membuat anak menjadi robot yang selalu menurut.
Justru, kamu sedang membantu anak memahami bahwa dalam sebuah kegiatan ada urutan dan aturan yang perlu di perhatikan.
Bisa Menunggu Giliran
Coba ajak anak bermain bersama.
Kamu mengambil giliran.
Anak menunggu.
Kemudian gantian.
Bagaimana reaksinya?
Kalau dia langsung berkata, “Aku dulu!” sebenarnya itu masih sangat wajar untuk anak kecil.
Namun, kemampuan menunggu bisa dilatih secara perlahan.
Permainan sederhana seperti ular tangga, kartu, lempar bola bergantian, atau permainan papan bisa menjadi latihan yang menyenangkan.
“Sekarang giliran Mama.”
“Setelah Mama, giliran kamu.”
Nah, lama lama anak belajar bahwa keinginannya penting, tetapi orang lain juga punya kesempatan.
Kemampuan seperti ini akan sangat berguna ketika dia mulai berada di kelas.
Bisa Mengurus Barang Miliknya
Kamu masih sering memasukkan semua barang anak ke tas?
Masih sering mencarikan sepatunya?
Masih sering membereskan semua mainannya?
Tidak masalah.
Namun, menjelang sekolah, yuk mulai memberikan sedikit tanggung jawab.
“Botol minumnya kamu masukkan sendiri, ya.”
“Setelah bermain, mainannya kita simpan.”
“Sepatunya ditaruh di rak.”
Hasilnya mungkin belum sempurna.
Tas bisa berantakan.
Mainan mungkin tidak tersusun rapi.
Sepatu bisa saja salah tempat.
Santai saja.
Tujuan awalnya bukan kerapian.
Tujuannya adalah membangun rasa tanggung jawab.
Wah, anak yang mulai terbiasa mengurus barang sendiri biasanya akan lebih mudah beradaptasi dengan rutinitas baru.
Berani Bertanya Ketika Tidak Tahu
Hal Ini penting sekali lho.
Ada anak yang ketika tidak memahami sesuatu akan bertanya.
Ada pula yang memilih diam karena takut salah.
Padahal, di sekolah nanti akan ada banyak hal yang belum diketahui anak.
Karena itu, biasakan mengatakan:
“Kalau kamu nggak tahu, boleh tanya.”
“Kalau sulit, bilang.”
“Kalau bingung, minta bantuan.”
Kalimat sederhana seperti ini membuat anak memahami bahwa tidak tahu bukan sesuatu yang memalukan.
Justru, bertanya adalah salah satu cara belajar.
Bisa Bermain Bersama Anak Lain
Anak yang siap sekolah tidak harus menjadi anak yang paling ramah.
Tidak harus langsung punya banyak teman.
Apalagi harus selalu mau berbagi semua mainannya.
Yang perlu dilihat adalah apakah anak mulai mampu berada bersama anak lain.
Mau bergantian.
Mau mengikuti permainan sederhana.
Mampu menyampaikan keinginan.
Mulai memahami bahwa teman juga memiliki keinginan.
Kalau sesekali berebut?
Ya, namanya juga anak anak.
Tugas kita bukan membuat konflik itu tidak pernah terjadi.
Tugas kita adalah membantu mereka belajar menyelesaikannya.
Bisa Menerima Kekalahan
Coba main permainan sederhana dengan anak dan biarkan dia kalah.
Nah, perhatikan.
Apakah dia langsung marah?
Apakah dia menangis?
Atau setelah kecewa, dia mau bermain lagi?
Kemampuan menerima hasil yang tidak sesuai keinginan merupakan bagian penting dari perkembangan sosial emosional.
Kamu bisa mengatakan, “Kamu kecewa karena kalah, ya. Nggak apa apa. Kalau mau, kita coba lagi.”
Bukan, “Jangan nangis dong, cuma kalah.”
Perasaan anak tetap perlu dihargai.
Tetapi setelah emosinya lebih tenang, ajak dia kembali mencoba.
Belum Lancar Membaca Bukan Berarti Belum Siap
Anak yang belum lancar membaca bukan berarti otomatis belum siap masuk sekolah.
Kemampuan akademik memang akan berkembang melalui proses pendidikan. Sebelum itu, ada fondasi lain yang juga penting.
Anak bisa berkomunikasi.
Bisa mengikuti instruksi sederhana.
Mulai mandiri.
Mampu berinteraksi.
Mau mencoba.
Bisa meminta bantuan.
Dan perlahan mampu mengelola emosinya.
Jadi, kalau anak tetangga sudah membaca sementara anak kamu masih mengeja, jangan buru buru panik.
Perjalanan setiap anak berbeda.
Yang perlu kamu lihat bukan hanya “dia sudah bisa apa”, tetapi juga “dia sudah berkembang sejauh apa”.
Kesiapan Sekolah Tidak Harus Sempurna
Pada akhirnya, anak tidak perlu datang ke sekolah sebagai manusia kecil yang sudah bisa melakukan semuanya.
Dia boleh gugup.
Boleh malu.
Juga Boleh sesekali menangis.
Boleh lupa membawa sesuatu.
Dan Boleh bertanya berkali kali.
Namanya juga sedang belajar.
Yang penting, ada fondasi yang mulai tumbuh.
Ada keberanian untuk mencoba.
JuyAda kemampuan untuk meminta bantuan.
Ada rasa ingin tahu.
Dan Ada sedikit kemandirian.
Dan ada kepercayaan bahwa ketika sesuatu terasa sulit, dia tidak sendirian.
Nah, kalau kamu sedang mempersiapkan anak masuk sekolah, yuk kurangi sedikit tekanan untuk membuatnya terlihat “sudah pintar”.
Ganti dengan pertanyaan yang lebih bermakna.
“Apakah dia berani mencoba?”
“Apakah dia bisa mengatakan kebutuhannya?”
“Apakah dia mulai bisa mengurus dirinya?”
“Apakah dia bisa kembali tenang setelah kecewa?”
“Wah, ternyata banyak sekali hal yang perlu dilihat, ya?”
Jadi, jangan hanya siapkan seragam dan tas.
Siapkan juga keberanian kecilnya.
Latih kemandiriannya.
Dengarkan ceritanya.
Berikan kesempatan untuk mencoba.
Dan ketika suatu hari dia berdiri di depan pintu kelas dengan wajah sedikit gugup, kamu tidak perlu berkata, “Jangan takut.”
Kamu bisa berkata,
“Kalau kamu takut, nggak apa apa. Coba pelan pelan. Kamu bisa. Kalau ada yang sulit, kamu boleh minta bantuan.”
Nah, mungkin kalimat itu sederhana.
Tetapi bagi anak, bisa menjadi bekal yang jauh lebih berarti daripada sekadar hafalan huruf dan angka.
Karena sekolah bukan tempat untuk menunjukkan bahwa anak sudah bisa semuanya.
Sekolah adalah tempat anak belajar menjadi lebih mampu, sedikit demi sedikit, setiap harinya.
