Kardus bekas mau dibuang?
Tunggu dulu.
Botol plastik yang sudah kosong juga jangan langsung masuk tempat sampah. Begitu pula gulungan tisu, tutup botol, stik es krim, kotak sepatu, sampai kertas bekas yang bagian belakangnya masih kosong.
Kalau kamu melihatnya sebagai barang tidak terpakai, mungkin memang terlihat seperti sampah.
Tapi kalau dilihat dari sudut pandang anak?
Wah, benda benda itu bisa berubah menjadi apa saja.
Kardus bisa menjadi papan permainan. Tutup botol bisa menjadi pion. Gulungan tisu bisa menjadi terowongan. Bahkan kotak bekas makanan bisa berubah menjadi tempat anak bereksperimen.
Nah, menariknya, permainan edukatif dari barang bekas tidak harus dibuat rumit. Justru semakin sederhana bendanya, semakin luas ruang anak untuk menggunakan imajinasi.
Dan kamu tidak perlu jago membuat kerajinan tangan, kok.
Yang dibutuhkan hanya sedikit kreativitas, beberapa barang bekas yang aman, dan kesediaan untuk bermain bersama anak.
Kardus Bukan Sekadar Kotak Biasa
Punya kardus bekas paket di rumah?
Jangan buru buru dilipat dan disimpan.
Bentangkan kardus, kemudian buat beberapa lingkaran atau jalur sederhana. Anak bisa diminta menggerakkan tutup botol dari titik awal menuju titik akhir tanpa keluar jalur.
Kelihatannya cuma bermain.
Padahal, anak sedang belajar mengontrol gerakan, memperhatikan arah, dan mencari strategi.
Kamu juga bisa membuat beberapa jalur dengan tingkat kesulitan berbeda.
“Yang mana lebih cepat?”
“Kalau lewat sini, kira kira bisa sampai tidak?”
Nah, pertanyaan seperti ini membuat permainan berubah. Anak bukan cuma mengikuti aturan, tetapi mulai memikirkan pilihan.
Kalau sudah bosan dengan satu pola, ubah lagi.
Hari ini menjadi labirin.
Besok menjadi arena balapan.
Lusa bisa menjadi papan cerita.
Satu kardus, banyak kemungkinan.
Tutup Botol Bisa Jadi Permainan Berhitung
Tutup botol sering kali dianggap barang kecil yang tidak berguna.
Padahal, benda ini bisa menjadi alat belajar matematika sederhana.
Kumpulkan beberapa tutup botol dengan warna berbeda. Kalau tidak punya warna berbeda, kamu bisa memberi tanda menggunakan spidol.
Kemudian ajak anak mengelompokkannya.
“Mana yang warnanya sama?”
“Berapa jumlah yang merah?”
“Kalau dua tutup ditambah tiga, jadi berapa?”
Nah, dari sini permainan bisa berkembang.
Anak yang lebih kecil bisa belajar mengenali warna dan jumlah. Anak yang lebih besar bisa menggunakannya untuk penjumlahan, pengurangan, bahkan perkalian sederhana.
Yang membuatnya menarik adalah anak memegang benda secara langsung.
Angka tidak lagi hanya muncul sebagai simbol di buku.
Ada lima tutup botol di depannya.
Kalau satu diambil, tinggal berapa?
Wah, matematika jadi terasa lebih nyata, kan?
Gulungan Tisu Bisa Jadi Terowongan
Ada gulungan tisu bekas?
Susun beberapa gulungan di lantai. Gunakan bola kecil atau benda ringan yang aman untuk dimainkan.
Tantang anak memasukkan bola dari satu sisi dan melihat apakah bola bisa keluar di sisi lainnya.
Setelah itu, ubah posisi gulungan.
Buat jalurnya lebih panjang.
Kemudian tanyakan:
“Kalau yang ini dimiringkan, bolanya bergerak ke mana?”
Nah, di sinilah permainan mulai menjadi eksperimen kecil.
Anak mengamati.
Mencoba.
Gagal.
Mengubah posisi.
Mencoba lagi.
Tidak perlu menjelaskan teori fisika panjang lebar. Biarkan anak menemukan hubungan sebab akibat melalui permainan.
Justru pengalaman seperti ini sering lebih mudah diingat.
Kotak Sepatu Bisa Menjadi Papan Tebak
Kotak sepatu bekas juga bisa disulap menjadi permainan yang mengasah indera.
Buat beberapa lubang kecil pada bagian atas kotak. Masukkan benda yang aman dan mudah dikenali melalui sentuhan.
Misalnya bola kecil, spons, kain, atau mainan dengan bentuk berbeda.
Kemudian anak memasukkan tangan tanpa melihat.
“Menurut kamu, benda apa ini?”
Anak meraba.
Menebak.
Lalu membuka kotak untuk memeriksa jawabannya.
Wah, sederhana sekali, ya?
Tapi aktivitas ini mengajak anak menggunakan indera peraba, mengingat karakteristik benda, dan membuat dugaan sebelum melihat jawabannya.
Kalau dimainkan bersama saudara, permainan ini bisa dibuat lebih seru dengan sistem bergantian.
Kertas Bekas Jangan Hanya Jadi Coretan
Kertas bekas yang satu sisinya masih kosong bisa menjadi bahan permainan yang murah meriah.
Potong menjadi beberapa kartu.
Kemudian tuliskan gambar atau kata sederhana.
Untuk anak kecil, kamu bisa membuat kartu pasangan.
Gambar apel dengan gambar apel.
Gambar kucing dengan gambar kucing.
Untuk anak yang lebih besar, tingkatkan tantangannya.
Tuliskan satu kata di satu kartu dan artinya di kartu lain.
Anak harus menemukan pasangannya.
Atau buat permainan cerita.
Berikan tiga kartu secara acak.
Misalnya kartu rumah, hujan, dan payung.
Lalu katakan, “Coba bikin cerita dari tiga kata ini.”
Nah, permainan mulai masuk ke wilayah imajinasi dan bahasa.
Tidak ada jawaban yang harus selalu sama.
Justru semakin unik ceritanya, semakin menarik.
Botol Plastik Bisa Jadi Bowling Mini
Botol plastik kosong bisa disusun menjadi pin bowling.
Masukkan sedikit air atau pasir agar botol tidak terlalu mudah jatuh, kemudian gunakan bola ringan untuk menjatuhkannya.
Tetapi jangan berhenti pada siapa yang paling banyak menjatuhkan botol.
Kamu bisa memasukkan unsur berhitung.
“Berapa botol yang jatuh?”
“Berapa yang masih berdiri?”
“Kalau tadi jatuh tiga, sekarang jatuh dua lagi, total berapa?”
Nah, satu permainan fisik berubah menjadi latihan matematika.
Anak bergerak.
Lalu Anak bermain.
Anak menghitung.
Belajar tidak terasa seperti belajar.
Jangan Terlalu Cepat Membantu
Ini justru bagian yang paling penting.
Saat membuat permainan dari barang bekas, jangan semuanya kamu kerjakan.
Biarkan anak ikut menentukan.
“Kardus ini mau kita jadikan apa?”
“Kalau tutup botolnya begini, bisa jadi apa?”
“Menurut kamu, jalurnya dibuat ke mana?”
Pertanyaan seperti ini memberikan anak ruang untuk berpikir.
Mungkin hasilnya tidak sesuai dengan bayangan kamu.
Tidak masalah.
Bahkan, bisa jadi hasil buatan anak jauh lebih kreatif.
Sebab tujuan permainan edukatif dari barang bekas bukan menghasilkan kerajinan yang bagus untuk difoto dan dipajang.
Tujuan utamanya adalah membuat anak aktif berpikir dan berkreasi.
Barang Bekas, Imajinasi yang Tidak Bekas
Ada satu hal menarik dari permainan menggunakan barang bekas.
Mainan jadi tidak memiliki satu fungsi tetap.
Mobil mainan biasanya memang digunakan sebagai mobil.
Tetapi kardus?
Bisa menjadi rumah.
Juga Bisa menjadi garasi. Bisa menjadi kapal.
Dan Bisa menjadi toko.
Bisa menjadi panggung boneka.
Nah, ruang kosong seperti inilah yang justru memberikan kesempatan besar bagi imajinasi anak.
Ketika sebuah benda tidak memberi tahu anak harus digunakan seperti apa, anak dipaksa untuk menciptakan kemungkinan sendiri.
Dan bukankah kemampuan mencari kemungkinan itu penting?
Anak belajar bahwa satu masalah bisa memiliki lebih dari satu solusi.
Tidak Perlu Mahal untuk Menjadi Bermakna
Kamu tidak harus membeli mainan edukatif mahal untuk menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan.
Lihat saja barang yang ada di sekitar rumah.
Kardus yang hampir dibuang bisa menjadi permainan strategi.
Tutup botol bisa menjadi alat berhitung.
Botol plastik bisa menjadi bowling.
Gulungan tisu bisa menjadi eksperimen sederhana.
Kertas bekas bisa menjadi kartu cerita.
Kotak sepatu bisa menjadi permainan tebak benda.
Wah, ternyata banyak sekali, lho.
Dan yang paling berharga bukan barangnya.
Bukan juga seberapa cantik hasil akhirnya.
Melainkan waktu ketika kamu duduk bersama anak dan berkata,
“Yuk, kita bikin sesuatu.”
Dari kalimat sederhana itu, anak mendapatkan kesempatan untuk mencoba, membuat kesalahan, memperbaiki, dan menciptakan sesuatu dengan tangannya sendiri.
Nah, mungkin setelah membaca ini kamu jadi melihat kardus bekas di rumah dengan cara berbeda.
Bukan lagi sebagai sampah.
Tetapi sebagai bahan permainan yang belum selesai.
Tinggal menunggu imajinasi kamu dan anak untuk menentukan akan menjadi apa.
