Makanan yang Membantu Daya Ingat Anak

Ada banyak anak begitu hafal dialog dari film kesukaannya, tetapi ketika ditanya pelajaran yang baru saja di baca, jawabannya malah, “Lupa.”
Nah, kamu mungkin langsung berpikir, “Kok bisa sih?”
Tapi Itu bukan berarti anak malas atau tidak pintar.
Otak anak memang bekerja dengan cara yang menarik. Informasi yang dianggap menyenangkan, penting, atau sering di ulang biasanya lebih mudah melekat. Sementara itu, informasi yang terasa membosankan bisa cepat menguap.


Ternyata urusan daya ingat anak memang tidak sesederhana menyuruh mereka belajar lebih lama.
Ada banyak hal yang ikut berperan. Tidur, aktivitas fisik, stimulasi, kondisi emosi, kebiasaan belajar, sampai makanan yang di konsumsi sehari hari.
Nah, bagian makanan ini sering kali justru luput dari perhatian.
Kita sibuk mencari cara supaya anak cepat menghafal, tetapi lupa bertanya, “Sudah cukup belum ya, nutrisi hariannya?”
Padahal, otak membutuhkan energi dan zat gizi agar tubuh dapat menjalankan berbagai fungsi dengan baik.
Jadi, kalau kamu ingin mendukung daya ingat anak, coba mulai dari sesuatu yang paling dekat dulu.
Piring makan mereka

.

Telur bukan Sekadar Lauk Sarapan Lo!


Kalau di rumah kamu sering menyediakan telur, pertahankan kebiasaan baik itu.
Telur mengandung protein dan kolin, salah satu zat gizi yang berperan dalam fungsi tubuh termasuk sistem saraf.
Tapi jangan sampai kamu berpikir, “Berarti anak harus makan telur setiap hari supaya pintar.”
Nah, bukan begitu konsepnya.
Tidak ada satu makanan yang secara ajaib membuat anak memiliki daya ingat super.
Yang lebih penting adalah variasi.
Hari ini telur dadar.
Besok telur rebus.
Lusa bisa di buat omelet dengan sayuran.
Kalau anak mulai bosan, kamu bisa mengubah bentuk dan cara penyajiannya.


Wah, kadang anak bukan tidak suka telurnya. Mereka hanya bosan dengan menu yang sama.
Ikan dan Omega 3 untuk Menu Anak
Sekarang coba lihat menu ikan di rumah.
Kalau anak suka ikan, bagus banget.
Beberapa jenis ikan, terutama ikan berlemak seperti salmon dan sarden, menyediakan asam lemak omega 3 termasuk DHA. DHA merupakan komponen penting pada otak dan retina.
Namun, kamu tidak perlu merasa harus membeli salmon setiap minggu.
Ikan yang mudah di temukan di sekitar kamu juga bisa menjadi bagian dari pola makan sehat.
Yang penting, pilih jenis ikan yang sesuai, perhatikan kebersihan dan cara pengolahannya, serta variasikan dengan sumber protein lainnya.
Nah, daripada memikirkan satu makanan “paling hebat”, lebih baik kamu membangun kebiasaan makan yang beragam.

Alpukat dan Lemak yang Di butuhkan Tubuh



Kalau anak suka alpukat, wah, kamu bisa memanfaatkannya sebagai salah satu variasi buah.


Alpukat mengandung lemak tidak jenuh serta sejumlah vitamin dan mineral.
Kamu bisa menyajikannya dalam bentuk potongan, campuran roti, atau smoothie tanpa harus menambahkan gula berlebihan.
Anak suka rasa manis?
Boleh saja menyesuaikan rasa, tetapi jangan sampai tambahan gula lebih dominan daripada bahan utamanya.
Nah, di sinilah orang tua sering terjebak.
Makanan sehat dibuat sangat manis supaya anak mau makan.
Akhirnya, yang lebih dominan justru gula.
Padahal, kita ingin anak belajar menikmati rasa makanan alaminya juga, kan?
Buah Tidak Harus yang Mahal
Sekarang pertanyaannya, buah apa yang bagus untuk daya ingat anak?
Jawabannya tidak harus buah impor.
Pisang, pepaya, jambu, jeruk, mangga, semangka, dan berbagai buah lokal lainnya bisa menjadi pilihan.


Yang menarik bukan hanya jenis buahnya, tetapi kebiasaan mengenalkan beragam makanan kepada anak.
Hari ini anak mau pisang.
Besok coba pepaya.
Lusa mungkin jeruk.
Kalau di tolak?
Santai saja.
Coba lagi di kesempatan lain.
Nah, kamu tidak perlu menjadikan waktu makan sebagai arena negosiasi panjang.
Kenalkan.
Tawarkan.
Berikan contoh.
Anak membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan rasa dan tekstur baru.

Sayur Bisa Masuk Lewat Menu yang Anak Suka


“Anakku nggak suka sayur.”
Kalau kamu pernah mengucapkan kalimat itu, kamu tidak sendirian.
Tapi daripada langsung menyerah, coba ubah cara menyajikannya.
Bayam bisa di masukkan ke telur dadar.
Wortel bisa menjadi bagian dari sup.
Brokoli bisa dipotong kecil dan dicampurkan dengan nasi.
Jagung bisa di tambahkan ke omelet.
Nah, bukan berarti sayuran harus selalu di sembunyikan.
Justru, perlahan kenalkan anak pada bentuk aslinya.
“Ini wortel.”
“Coba lihat warnanya.”
“Rasanya bagaimana?”
Wah, percakapan kecil seperti ini juga membuat waktu makan menjadi kesempatan untuk belajar.

Karbohidrat Tetap Di butuhkan Anak


Kadang ada kekhawatiran berlebihan terhadap karbohidrat.
Padahal, anak membutuhkan energi untuk bermain, bergerak, belajar, dan menjalani aktivitas sepanjang hari.
Nasi, kentang, ubi, jagung, oatmeal, dan sumber karbohidrat lainnya bisa menjadi bagian dari pola makan seimbang.
Kamu tidak perlu menghilangkan nasi hanya karena ingin membuat menu anak lebih sehat.
Yang perlu di perhatikan justru keseimbangannya.
Nasi bisa di temani telur.
Tambahkan sayuran.
Berikan buah.
Lengkapi dengan air putih.
Nah, sesederhana itu.
Menu rumahan tidak harus terlihat seperti menu restoran untuk bisa bergizi.

Air Putih Sering Terlupakan



Sekarang coba kamu perhatikan.
Dalam sehari, anak lebih sering minum air putih atau minuman manis?
Pertanyaan ini kelihatannya sederhana, lho.
Tapi kebiasaan minum juga penting dalam pola hidup sehat.
Air putih bisa menjadi pilihan utama sehari hari. Sementara minuman tinggi gula sebaiknya tidak menjadi kebiasaan utama.
Kalau anak sudah terbiasa minuman manis, jangan langsung mengubah semuanya dalam satu hari.
Kurangi perlahan.
Sediakan air putih lebih mudah di jangkau.
Bawa botol minum ketika bepergian.
Nah, kebiasaan kecil yang di lakukan terus menerus biasanya lebih mudah di pertahankan daripada perubahan besar yang hanya bertahan beberapa hari.

Makan Sambil Mengingat Juga Bisa



Ini yang mungkin agak berbeda.
Kalau kamu ingin melatih daya ingat anak, meja makan ternyata bisa menjadi tempat yang menarik.


Bukan dengan memberikan kuis seperti ujian.
Cukup ngobrol.
“Tadi di sekolah belajar apa?”
“Siapa teman yang duduk di sebelah kamu?”
“Tadi pagi sebelum berangkat kita makan apa?”
Pertanyaan seperti ini mengajak anak mengambil kembali informasi dari ingatan.
Kamu bahkan bisa bermain tebak makanan.
“Buah yang tadi kita makan warnanya apa?”
Anak menjawab.
“Rasanya bagaimana?”
Sederhana, kan?
Tetapi percakapan seperti ini membuat waktu makan tidak hanya menjadi urusan menghabiskan makanan.
Ada komunikasi.
Juga Ada interaksi.
Ada kesempatan bagi anak untuk mengingat pengalaman.
Wah, ternyata meja makan bisa menjadi ruang belajar juga.

Jangan Cari Satu Makanan yang Katanya Bikin Pintar



Nah, ini yang perlu kamu garis bawahi.
Tidak ada makanan ajaib yang langsung membuat daya ingat anak menjadi tajam.
Jadi, kamu tidak perlu panik kalau hari ini anak tidak makan salmon, blueberry, atau makanan yang sedang populer di sebut sebagai makanan untuk otak.
Fokuslah pada pola makan yang beragam dan seimbang.
Ada protein.
Lalu Ada sayur.
Ada buah.
Juga Ada sumber karbohidrat.
Ada lemak sehat.
Dan Ada air putih.
Kemudian jangan lupakan hal yang sering di anggap sepele, yaitu tidur yang cukup, aktivitas fisik, bermain, dan interaksi dengan orang tua.
Karena kemampuan mengingat tidak berdiri sendirian.


Otak anak membutuhkan tubuh yang mendapatkan nutrisi dan istirahat yang baik. Anak juga membutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa aman dan nyaman untuk belajar.
Jadi, kalau besok kamu menyiapkan sarapan dan hanya punya nasi, telur, sayur, serta buah di rumah, jangan merasa menunya kurang istimewa.
Justru dari makanan rumahan seperti itulah kebiasaan sehat bisa di bangun.
Lalu sambil makan, ajak anak ngobrol.
“Tadi malam kita membaca cerita apa?”
Biarkan dia berpikir.
Biarkan dia menjawab.
Kalau lupa?
Bantu sedikit.
Tidak perlu di marahi.
Nah, proses sederhana seperti ini justru bisa membuat waktu makan terasa lebih hangat.
Karena mendukung daya ingat anak bukan cuman masuk ke tubuh mereka.
Tetapi juga bagaimana mereka menjalani hari.


Makan dengan cukup.
Tidur dengan baik.
Bermain.
Bergerak.
Berbicara.
Mendengar.
Dan mengingat banyak hal bersama orang yang mereka sayangi.
Jadi kita harus mulai dari rumah.
Tidak perlu mengejar makanan yang mahal.
Tidak perlu membuat menu yang rumit.
Lihat apa yang tersedia di dapur kamu hari ini.
Kemudian susun menjadi makanan yang beragam, bergizi, dan tentu saja di sukai anak.
Karena pada akhirnya, makanan terbaik bukan hanya makanan yang terlihat sehat di atas kertas.
Makanan terbaik adalah makanan bergizi yang bisa di nikmati anak dan menjadi bagian dari kebiasaan baik mereka setiap hari.
Dan siapa tahu, dari satu meja makan sederhana itu, bukan hanya tubuh anak yang tumbuh.
Daya ingat, rasa ingin tahu, dan kenangan indah mereka bersama kamu pun ikut tumbuh. .