Ada satu momen yang sering bikin orang tua mulai gelisah.
Anak sedang bermain, lalu kamu melihat anak seusianya sudah bisa membaca kata sederhana. Ada yang sudah menulis namanya sendiri. Bahkan ada yang mulai menghitung dengan lancar.
Seketika muncul pikiran, “Anakku kapan bisa seperti itu?”
Nah, kalau kamu pernah merasakan hal yang sama, tarik napas dulu.
Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung memang penting. Tetapi perkembangan anak tidak bekerja seperti jadwal kereta yang harus tiba pada menit yang sama. Ada yang datang lebih cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang.
Jadi, sebelum buru buru memasukkan anak ke latihan calistung, coba lihat sesuatu yang sering terlupakan yakni kesiapan anak.
Wah, ternyata pertanyaan tentang calistung bukan hanya soal kapan harus mulai. Cara memulainya juga sangat menentukan.
Anak Belum Bisa Membaca Bukan Berarti Belum Siap Belajar
Yuk kita bayangkan anak yang setiap hari melihat kamu membaca pesan di ponsel, membaca buku, melihat tulisan di kemasan makanan, atau membaca papan nama ketika bepergian.
Tanpa sadar, anak sedang melihat bahwa tulisan memiliki fungsi.
Mereka mungkin belum mampu membaca kata “makan”, tetapi sudah memahami bahwa tulisan tertentu berhubungan dengan sesuatu.
Nah, dari sinilah kemampuan literasi awal mulai tumbuh.
Kamu tidak perlu langsung menguji, “Ini huruf apa?”
Lebih menyenangkan kalau kamu menunjuk tulisan di sekitar dan mengajaknya memperhatikan.
“Itu huruf apa, ya?”
“Namamu ada huruf ini juga, lho.”
Pertanyaan kecil seperti itu bisa menumbuhkan rasa penasaran tanpa membuat anak merasa sedang diuji.
Calistung Bisa Di mulai dari Aktivitas yang Tidak Terlihat Seperti Belajar
Kalau mendengar kata calistung, sebagian orang tua langsung membayangkan meja belajar dan buku latihan.
Padahal, anak bisa mengenal konsep membaca, menulis, dan berhitung melalui aktivitas sehari hari.
Sedang memasak?
Ajak anak menghitung telur atau buah.
Sedang belanja?
Minta mereka mencari angka tertentu pada label harga.
Mau membaca buku cerita?
Biarkan anak memilih buku dan membolak balik halamannya.
Sedang menggambar?
Tanyakan apa yang mereka gambar, lalu bantu menuliskan satu atau dua kata tentang gambar tersebut.
Ternyata rumah bisa menjadi ruang belajar yang jauh lebih fleksibel daripada yang kita bayangkan.
Anak belajar tanpa merasa sedang duduk mengikuti pelajaran.
Jangan Jadikan Usia sebagai Perlombaan
“Umur segini seharusnya sudah bisa membaca.”
Kalimat seperti itu sering membuat orang tua panik.
Padahal, usia memang dapat menjadi gambaran umum perkembangan, tetapi bukan satu satunya patokan untuk menentukan kapan seorang anak harus menguasai kemampuan tertentu.
Ada anak yang cepat tertarik pada huruf karena sering berinteraksi dengan buku.
Juga Ada yang lebih suka angka karena senang bermain dengan permainan berhitung.
Ada pula yang belum menunjukkan ketertarikan sama sekali.
Semuanya bisa berbeda.
Yang perlu kamu perhatikan adalah perkembangan anak secara keseluruhan.
Apakah ia mulai penasaran?
Atau Apakah ia mampu mengikuti instruksi sederhana?
Apakah ia tertarik mendengarkan cerita?
Dan Apakah ia mulai mengenali simbol tertentu?
Nah, tanda tanda tersebut sering kali lebih berguna daripada sekadar membandingkan usia.
Sebelum Menulis Huruf, Latih Tangannya
Kalau anak masih kesulitan memegang pensil, jangan buru buru meminta mereka menulis satu halaman penuh.
Menulis membutuhkan banyak kemampuan yang bekerja bersama.
Tangan harus bergerak sesuai arah yang diinginkan. Mata harus mengikuti gerakan. Jari perlu memiliki kontrol yang cukup.
Karena itu, aktivitas sederhana seperti menggambar, bermain plastisin, meronce, menyusun balok, menggunting sesuai usia, atau membuat garis bisa menjadi latihan yang berarti.
Kamu mungkin melihat anak hanya sedang bermain.
Padahal, otot tangan dan koordinasi mereka sedang di latih Lo!
Nah, daripada mengatakan, “Ayo tulis huruf A sepuluh kali,” coba berikan kertas kosong dan biarkan anak membuat garis atau gambar sesuka hati.
Dari coretan itulah keterampilan menulis berkembang sedikit demi sedikit.
Belajar Angka Tidak Harus Di mulai dari Buku
Anak sebenarnya bertemu konsep matematika hampir setiap hari.
Ada dua sepatu.
Tiga potong buah.
Lima mainan di lantai.
Satu gelas yang masih kosong.
Semua itu bisa menjadi bahan belajar.
Coba saat membereskan mainan, ajak anak menghitung.
“Sekarang kita punya berapa mobil?”
“Kalau satu dimasukkan ke kotak, tinggal berapa?”
Sederhana sekali.
Tetapi anak sedang belajar bahwa angka bukan hanya simbol yang harus dihafalkan. Angka menunjukkan jumlah.
Wah, konsep yang terlihat kecil ini justru menjadi dasar untuk memahami matematika berikutnya.
Bagaimana Kalau Anak Tidak Mau Belajar?
Ini bagian yang sering membuat orang tua bingung.
Sudah di siapkan buku.
Dan Sudah di belikan pensil warna.
Sudah di buatkan jadwal.
Anak malah memilih bermain.
Jangan langsung menyimpulkan bahwa anak malas.
Bisa jadi aktivitasnya belum menarik.
Mungkin tingkat kesulitannya terlalu tinggi.
Atau memang sedang bukan waktunya.
Coba ubah pendekatan.
Anak suka mobil? Gunakan mobil mainan untuk berhitung.
Senang memasak? Ajak menghitung bahan.
Suka bermain toko tokoan? Kenalkan angka melalui uang mainan.
Suka cerita? Gunakan buku bergambar untuk mengenalkan kata.
Nah, ketika materi masuk ke dunia yang disukai anak, proses belajar biasanya terasa lebih ringan.
Jangan Terlalu Cepat Membetulkan Semua Kesalahan
Anak sedang mencoba menulis namanya.
Hurufnya terbalik.
Bentuknya belum rapi.
Jaraknya berantakan.
Kemudian kamu langsung membetulkan semuanya.
“Begini yang benar.”
Boleh mengoreksi, tetapi jangan sampai setiap percobaan anak terasa seperti ujian.
Untuk tahap awal, keberanian mencoba justru perlu dihargai.
Kamu bisa mengatakan, “Wah, kamu sudah mencoba menulis namamu sendiri.”
Setelah itu, perlahan tunjukkan bentuk yang benar.
Anak tetap mendapatkan arahan tanpa merasa gagal.
Ingat, anak yang takut salah bisa menjadi anak yang enggan mencoba.
Padahal, belajar membutuhkan banyak sekali percobaan.
Membaca Bersama Lebih Berharga daripada Mengejar Banyak Halaman
Kalau kamu ingin mengenalkan membaca, jangan hanya mengejar berapa banyak huruf yang berhasil dihafalkan anak.
Bacakan cerita.
Gunakan ekspresi.
Berhenti sesekali dan tanyakan, “Menurut kamu setelah ini apa yang terjadi?”
Biarkan anak menunjuk gambar.
Biarkan mereka bertanya.
Bahkan kalau mereka meminta cerita yang sama berkali kali, tidak perlu langsung bosan.
Pengulangan justru membantu anak mengenali kata, alur, karakter, dan hubungan antara gambar dengan cerita.
Nah, dari kebiasaan membaca bersama inilah anak bisa membangun hubungan positif dengan buku.
Dan itu jauh lebih penting daripada membuat mereka merasa membaca adalah tugas yang harus segera di selesaikan.
Kapan Harus Mulai Lebih Terarah?
Ketika anak sudah menunjukkan minat dan kemampuan dasar mulai berkembang, kamu bisa memberikan aktivitas yang sedikit lebih terstruktur.
Misalnya mengenalkan huruf secara bertahap, permainan mencocokkan huruf dengan bunyinya, latihan menulis sederhana, atau permainan angka.
Durasi pun tidak perlu panjang.
Untuk anak kecil, beberapa menit yang menyenangkan bisa lebih berarti daripada duduk lama tetapi penuh tekanan.
Kalau hari ini anak hanya mampu mengikuti aktivitas selama sepuluh menit, tidak apa apa.
Besok bisa di coba lagi.
Yang penting prosesnya konsisten dan sesuai kemampuan anak.
Calistung Bukan Ajang Membuktikan Anak Pintar
Ini mungkin bagian yang paling penting.
Kemampuan membaca lebih cepat tidak otomatis membuat seorang anak lebih pintar daripada temannya.
Begitu juga anak yang belum bisa menulis dengan lancar bukan berarti kurang cerdas.
Anak memiliki kekuatan yang berbeda.
Ada yang cepat memahami bahasa.
Juga Ada yang kuat dalam visual.
Ada yang suka bergerak.
Ada yang senang bereksperimen.
Karena itu, jangan sampai calistung menjadi alat untuk memberi label pada anak.
Tujuannya bukan membuat anak terlihat hebat di depan orang lain.
Tujuannya adalah memberikan bekal agar mereka perlahan mampu memahami informasi dan mengekspresikan pikirannya.
So, Kapan Waktu yang Tepat Memulai Calistung?
Kalau kamu berharap menemukan satu angka usia yang menjadi jawaban mutlak, sayangnya tidak sesederhana itu.
Waktu yang tepat sangat berkaitan dengan kesiapan dan perkembangan anak.
Pengenalan calistung bisa di lakukan secara bertahap melalui permainan, percakapan, buku cerita, aktivitas sehari hari, dan pengalaman nyata.
Ketika anak menunjukkan ketertarikan, kamu bisa mengikuti rasa ingin tahunya.
Lalu Ketika mereka belum siap, tidak perlu memaksa.
Ketika mereka melakukan kesalahan, bantu mereka mencoba lagi.
Nah, pendekatan seperti ini membuat calistung tidak terasa sebagai perlombaan.
Kamu pun tidak perlu sibuk menghitung apakah anak sudah tertinggal dibandingkan anak lain.
Lebih baik lihat kemajuan kecilnya sendiri.
Hari ini ia mengenali satu huruf.
Besok mulai mengenali namanya.
Minggu berikutnya mulai memahami jumlah.
Beberapa waktu kemudian, ia mungkin tiba tiba membaca kata sederhana.
Wah, prosesnya memang tidak selalu terlihat cepat. Tetapi perkembangan anak sering kali bekerja seperti itu. Pelan, diam diam, lalu suatu hari kamu sadar bahwa mereka sudah bisa melakukan sesuatu yang sebelumnya belum mampu.
Jadi, yuk, dampingi tanpa terburu buru.
Kenalkan tanpa menekan dan Ajak bermain tanpa membuat semuanya menjadi pelajaran.
Sebab calistung seharusnya bukan sekadar membuat anak cepat membaca, menulis, dan berhitung.
Lebih dari itu, kita sedang membantu mereka menemukan bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan.
Dan ketika rasa suka terhadap belajar sudah tumbuh, kemampuan lainnya akan punya tempat yang jauh lebih kuat untuk berkembang.
