Ngomongin apa kekurangan anak yang gampang di bully itu sensitif banget lho. Banyak orang langsung mikir oh berarti salah korbannya. Padahal bukan begitu cara bacanya. Yang di bahas di sini bukan untuk menyalahkan kamu yang pernah jadi korban, tapi untuk memahami pola yang sering dimanfaatkan sama pelaku bullying.
Kalau kamu pernah ngerasa kok aku terus yang jadi sasaran, tulisan ini mungkin bisa bantu kamu lihat polanya dengan lebih jujur dan tanpa menghakimi diri sendiri.
Sinyal Pertama Terlalu Ingin Di terima Semua Orang
Anak yang gampang di bully biasanya punya keinginan kuat untuk diterima di semua lingkaran sih. Kamu pengen semua orang suka, semua orang nyaman sama kamu. Akhirnya kamu jadi susah bilang tidak. Dimintai contekan di kasih, di suruh ngelakuin hal yang tidak kamu suka kamu iyain juga.
Sikap selalu mengiyakan ini kebaca sama pelaku bully sebagai celah. Mereka tahu kamu tidak akan melawan kalau di perlakukan tidak adil. Lama lama batas kamu makin tipis dan mereka makin berani. Padahal niat kamu cuma pengen punya teman, tapi yang datang malah orang yang manfaatin kebaikan kamu.
Kekurangan di sini bukan baiknya kamu, tapi skill menjaga batas yang belum sempat kamu latih. Kamu belum belajar cara nolak dengan tetap sopan tanpa harus merasa bersalah.
Sinyal Kedua Bahasa Tubuh Yang Mengirim Kode Tidak Aman
Banyak anak tidak sadar kalau bahasa tubuh ngaruh besar lho. Jalan menunduk, suara pelan banget, jarang kontak mata, duduk selalu di pojok dan berusaha tidak terlihat. Semua itu tanpa sadar ngasih sinyal aku tidak yakin sama diriku sendiri.
Pelaku bully itu peka sama sinyal seperti ini. Mereka cari target yang kecil kemungkinan melawan balik. Bukan karena kamu lemah fisik, tapi karena postur kamu bercerita bahwa kamu akan diam saja kalau diserang.
Ini bukan salah kamu sepenuhnya sih. Bisa jadi kamu memang dibesarkan di lingkungan yang jarang kasih ruang untuk percaya diri. Akhirnya tubuh kamu belajar untuk mengecilkan diri supaya aman. Padahal di lingkungan sekolah yang keras, mengecilkan diri justru bikin kamu makin terlihat.
Sinyal Ketiga Tidak Punya Cerita Pembela
Anak yang gampang di bully sering terlihat sendirian secara sosial. Bukan berarti kamu tidak punya teman sama sekali, tapi kamu tidak punya satu atau dua orang yang jelas jelas akan berdiri di samping kamu kalau ada masalah.
Kamu mungkin punya banyak teman ngobrol, tapi tidak punya teman yang berani bilang eh jangan gitu dong kalau kamu dijahilin. Pelaku bully menghitung itu. Mereka berani karena tahu tidak ada konsekuensi sosial.
Kekurangan ini bukan soal kamu tidak asik. Seringnya kamu terlalu mandiri sampai tidak pernah minta tolong. Kamu mikir kalau cerita ke orang lain itu ngerepotin. Akhirnya kamu hadapi semuanya sendiri dan kelihatan seperti target yang aman.
Sinyal Keempat Reaksi Yang Mudah Dipancing
Ada pola yang jarang dibahas. Anak yang gampang di bully biasanya reaksinya sangat terbaca. Sedikit di ejek langsung nangis, langsung marah besar, atau langsung diam mematung lama. Reaksi yang besar itu justru jadi hiburan buat pelaku.
Mereka dapat apa yang mereka cari yaitu rasa berkuasa. Semakin kamu terlihat terpukul, semakin mereka merasa berhasil. Akhirnya ejekan di ulang lagi besok dengan versi yang lebih parah.
Bukan berarti kamu harus jadi kebal rasa. Kamu hanya perlu belajar cara merespon yang tidak memberi mereka panggung. Misalnya jawab pendek dan datar lalu tinggalkan tempat. Tidak memberi bahan bakar emosi itu bikin aksi bully jadi tidak seru lagi buat mereka.
Sinyal Kelima Suka Menyalahkan Diri Sendiri Terlalu Cepat
Kalau kamu habis di bully dan kalimat pertama yang muncul di kepala adalah emang aku salah, emang aku aneh, emang aku pantas digituin, itu tanda pola pikir kamu sudah kemakan sama perlakuan mereka lho.
Anak yang sering menyalahkan diri sendiri akan minta maaf padahal tidak salah. Dia akan berusaha mengubah diri jadi orang lain supaya tidak di bully lagi. Padahal semakin kamu mengubah diri demi pelaku, semakin kamu kehilangan pegangan tentang siapa kamu sebenarnya.
Pola ini bikin kamu susah keluar dari lingkaran. Kamu sibuk memperbaiki diri di bagian yang sebenarnya tidak perlu diperbaiki. Sementara pelaku tidak pernah belajar bahwa perlakuannya salah.
Gimana Cara Pelan Pelan Nutup Celah Itu Tanpa Harus Jadi Orang Galak
Kamu tidak harus berubah jadi orang yang kasar biar tidak di bully. Kamu cuma perlu upgrade beberapa skill kecil.
Mulai dari latihan bilang tidak dengan kalimat pendek. Misalnya maaf aku tidak bisa bantu yang itu. Tidak perlu jelasin panjang lebar. Semakin pendek dan tenang, semakin jelas batas kamu.
Lalu perbaiki bahasa tubuh pelan pelan. Tidak harus jadi paling percaya diri seketika. Cukup biasakan jalan dengan kepala agak tegak, duduk dengan punggung tidak terlalu bungkuk, dan tatap mata lawan bicara dua detik lebih lama dari biasanya. Perubahan kecil ini ngirim sinyal baru bahwa kamu mulai menghargai diri sendiri.
Cari satu orang yang bisa jadi teman jaga. Tidak harus satu geng besar. Cukup satu orang yang kalau kamu lagi di posisi tidak enak, kamu bisa panggil namanya. Keberadaan satu orang itu saja sudah bikin pelaku mikir dua kali.
Terakhir latih respon datar. Kalau di ejek, jawab dengan kalimat netral seperti oke lalu lanjut aktivitas kamu. Tidak usah nangis di depan mereka, tidak usah marah meledak. Simpan emosi kamu untuk diceritakan ke orang yang aman, bukan ke orang yang memang cari emosi kamu.
Kamu Yang Pernah Ada Di Posisi Itu
Kalau kamu membaca ini dan merasa semua poinnya ada di kamu, tarik napas dulu. Kamu tidak rusak dan kamu tidak pantas di bully. Kekurangan yang dibahas di sini bukan alasan untuk membenarkan pelaku. Ini cuma peta supaya kamu tahu bagian mana yang bisa kamu kuatkan pelan pelan.
Kamu berhak punya batas, berhak punya suara, dan berhak punya teman yang bela kamu. Prosesnya tidak instan, tapi setiap kali kamu berani jaga satu batas kecil, kamu sedang ngasih tahu dunia bahwa kamu tidak lagi jadi target yang gampang.
Pelan pelan saja, mulai dari hari ini. Satu batas, satu kata tidak, satu teman jaga. Lama lama kamu akan lihat lingkungan kamu berubah, bukan karena mereka tiba tiba baik, tapi karena kamu sudah tidak ngasih celah yang sama lagi.
