Kalau kamu lagi di fase pengen nyerah, kamu tidak sendirian lho. Banyak anak seumuran kamu ngerasain hal yang sama, cuma tidak semuanya berani cerita. Di luar keliatan fine, di dalam kepala rame banget. Tugas numpuk, omongan keluarga, tagihan, belum lagi timeline yang isinya teman sudah sukses duluan. Semua datang barengan dan rasanya berat banget buat dihandle sendirian.
Menyemangati gen z rentan menyerah dalam kehidupan itu tidak bisa cuma ditempel kata kata semangat tempelan. Kamu butuh sesuatu yang lebih jujur dan lebih dekat sama hidup kamu sehari hari.
Kenapa Rasanya Kamu Cepat Banget Mau Nyerah
Dulu orang capek karena kerja fisik. Sekarang kamu capek karena kerja mental sih. Pagi buka mata langsung disambut notifikasi. Grup kelas rame, grup kerja rame, story orang liburan, berita PHK, berita harga naik. Belum sempat sarapan, otak kamu sudah dipaksa mikir sepuluh hal sekaligus.
Kondisi itu bikin baterai kamu bocor halus. Kamu merasa sudah melakukan banyak hal, padahal belum kemana mana. Akhirnya muncul pikiran aku kok gini gini aja ya. Padahal kamu bukan kurang usaha, kamu cuma kebanyakan channel yang nyala barengan.
Ada lagi jebakan perbandingan yang tidak kamu sadari. Kamu ngebandingin proses kamu yang berantakan sama hasil jadi orang lain yang sudah diedit. Kamu lihat teman buka usaha, tapi tidak lihat dia pernah nangis karena sepi pembeli. Lalu Kamu lihat orang wisuda cepat, tapi tidak lihat dia begadang berbulan bulan. Lama lama kamu ngerasa tertinggal, padahal jalurnya memang beda dari awal.
Cara Pelan Pelan Balikin Semangat Tanpa Harus Jadi Superhero
Coba pakai cara yang lebih manusiawi. Bukan disuruh kuat terus, tapi diajak istirahat dengan pinter.
Pertama kecilkan arena main kamu. Jangan lawan semua masalah sekaligus. Hari ini kamu tidak harus beresin hidup. Cukup beresin satu jam ke depan. Misalnya habis baca ini kamu cuci piring, atau kamu balas satu chat kerja yang tertunda, atau kamu jalan kaki lima belas menit tanpa bawa HP. Kemenangan kecil itu ngaruh banget buat otak kamu. Pelan pelan rasa mampu itu balik lagi.
Kedua ganti cara kamu ngukur hari. Jangan cuma nilai hari dari produktif atau tidak. Nilai dari jujur atau tidak sama diri sendiri. Tanya malam hari, hari ini aku sudah jujur belum sama capekku. Kalau jawabannya sudah, itu sudah progres. Kamu jadi berhenti menghukum diri sendiri karena tidak seproduktif orang lain.
Ketiga bikin tempat parkir pikiran. Gen z itu kepalanya penuh ide, tapi jarang punya tempat buang. Sediakan satu catatan khusus, isinya cuma keluhan dan kekhawatiran yang belum sempat kamu urus. Tulis apa adanya, tanpa harus rapi. Misalnya aku takut skripsi tidak selesai, aku takut tidak dapat kerja, aku kangen rumah. Setelah ditulis, tutup bukunya. Pikiran kamu jadi lebih lega karena tidak semua harus disimpan di kepala.
Keempat atur ulang asupan digital dengan cara santai. Kamu tidak harus puasa media sosial total. Cukup bikin aturan jam. Di atas jam sembilan malam tidak buka akun yang bikin kamu overthinking. Ganti dengan aktivitas yang bikin tangan kamu sibuk, seperti masak mie, gambar random, atau beresin lemari. Tanpa sadar kecemasan kamu turun karena malam kamu tidak dipakai buat scroll hal yang bikin banding bandingan.
Lingkungan Yang Bikin Kamu Tetap Jalan Meski Pelan
Semangat itu jarang datang dari video motivasi. Biasanya datang dari orang yang tepat. Kamu butuh satu dua teman yang kalau kamu bilang aku capek banget hari ini, dia tidak langsung ceramah. Dia cuma bilang, mau cerita yang bagian mana dulu. Teman seperti itu mahal lho, jadi kalau sudah ketemu, jaga baik baik.
Bikin juga grup kecil yang isinya bukan pamer, tapi lapor jujur. Isinya tiga orang saja cukup. Aturannya simpel, tiap hari masing masing kirim satu hal yang berhasil dan satu hal yang gagal. Tidak ada yang menghakimi. Dari situ kamu belajar bahwa gagal itu normal, bukan aib. Kamu jadi berani coba lagi karena tahu tidak sendirian.
Kalau keluarga belum bisa jadi tempat cerita yang aman, tidak apa apa. Cari komunitas yang sefrekuensi. Bisa komunitas hobi, komunitas belajar skill, atau forum kecil yang anggotanya saling support. Rasa diterima di satu tempat saja bisa jadi bahan bakar untuk bertahan di tempat lain yang berat.
Mengubah Kata Menyerah Jadi Kata Istirahat
Banyak dari kamu mengira menyerah itu titik akhir. Padahal seringnya menyerah itu cuma kode dari tubuh yang minta jeda. Sama seperti laptop yang panas butuh di shutdown sebentar, kamu juga butuh mode pesawat.
Izinkan diri kamu untuk tidak ada target selama satu hari. Sehari saja. Tidak harus menghasilkan apa apa. Kamu boleh tidur siang lebih lama, makan makanan favorit, nonton film yang sudah kamu tonton berkali kali. Setelah itu biasanya ide baru muncul sendiri tanpa dipaksa.
Ingat juga hidup kamu tidak harus lurus. Jalan gen z itu memang belok belok. Hari ini magang, besok jualan online, lusa ikut volunteer. Dari luar keliatan tidak jelas, tapi sebenarnya kamu sedang ngumpulin bekal. Bekal itu nanti yang bikin kamu beda dari orang lain. Jadi jangan buru buru ngecap diri kamu gagal cuma karena belum lurus.
Kamu Yang Lagi Di Tengah Jalan
Menyemangati gen z rentan menyerah dalam kehidupan bukan soal membuat kamu jadi paling kuat. Tapi soal membuat kamu tetap tinggal, tetap bernapas, tetap mau mencoba lagi besok dengan cara yang sedikit lebih ramah buat diri sendiri.
Kamu tidak harus hebat dalam semalam. Kamu tidak harus membuktikan apa apa ke semua orang. Cukup buktikan ke diri kamu sendiri bahwa hari ini kamu masih mau lanjut, meski pelan.
Kalau hari ini rasanya berat, taruh dulu bebannya. Besok kalau sudah agak ringan, angkat lagi satu persatu. Kamu masih punya banyak waktu, masih punya banyak kesempatan, dan masih punya banyak versi diri yang belum kamu temui. Pelan pelan saja, yang penting kamu tetap jalan.
