Temanmu Menjauh? Bisa Jadi Kamu NPD!

Pernah merasa teman temanmu tiba tiba berubah?
Dulu mereka sering menghubungi.
Sekarang, balasan chat mulai pendek.
Dulu kamu selalu di ajak.
Sekarang, kamu tahu acara mereka dari unggahan media sosial.
Dulu mereka bercerita banyak hal.
Sekarang, kamu hanya mendapat jawaban, “Nggak ada apa apa kok.”
Wah.
Kalimat “nggak ada apa apa” kadang justru menyimpan terlalu banyak apa apa.
Lalu kamu mulai berpikir.
“Mereka kenapa, sih?”
“Jangan jangan iri.”
“Mungkin mereka berubah.”
“Atau memang tidak bisa menghargai aku.”
Nah, coba berhenti sebentar.
Bagaimana kalau kali ini masalahnya bukan mereka?
Bagaimana kalau ada sesuatu dari caramu memperlakukan orang lain yang perlahan membuat mereka mundur?
Dan sebelum kamu buru buru mengatakan, “Jadi aku NPD?”
Tenang dulu.

NPD atau narcissistic personality disorder


bukan sekadar suka selfie, percaya diri, ingin di puji, atau sesekali bersikap egois. Gangguan kepribadian narsistik merupakan kondisi kesehatan mental dengan pola yang menetap, seperti kebutuhan berlebihan untuk dikagumi, rasa diri yang sangat penting, rasa berhak mendapat perlakuan khusus, serta kesulitan memahami kebutuhan dan perasaan orang lain. Diagnosis tidak bisa ditebak hanya dari satu kejadian atau satu kebiasaan. (Cleveland Clinic)
Jadi, pertanyaannya bukan cuma, “Apakah kamu narsis?”
Pertanyaannya adalah:
“Apakah orang-orang di sekitarmu selalu merasa harus mengecilkan diri agar kamu tetap merasa besar?”

Kamu selalu menjadi tokoh utama, bahkan dalam cerita orang lain


Temanmu sedang bercerita.
Dia baru saja putus.
Atau Dia sedang mengalami masalah keluarga.
Dia gagal dalam sesuatu yang sangat penting baginya.
Lalu kamu mendengarkan.
Selama tiga detik.
Setelah itu, kamu berkata:
“Aku juga pernah.”
Kemudian cerita berpindah kepadamu.
Bukan lagi tentang temanmu.
Tentang kamu.
Juga Tentang pengalamanmu.
Tentang masalahmu.
Atau Tentang betapa berat hidupmu.
Awalnya, orang mungkin masih mendengarkan.
Namun, lama-lama mereka belajar satu hal.
Bercerita kepadamu berarti kehilangan kesempatan untuk didengarkan.
Karena pada akhirnya, semua jalan akan kembali ke kamu.
Nah, orang tidak selalu menjauh karena kamu memiliki masalah.
Kadang-kadang, mereka menjauh karena setiap kali datang membawa cerita, mereka pulang dengan perasaan tidak pernah benar-benar didengar.

Kamu minta kejujuran, tetapi hanya menerima pujian


“Jujur ya, menurutmu aku salah nggak?”
Temanmu menjawab jujur.
“Kali ini menurutku kamu memang agak berlebihan.”
Tiba-tiba wajahmu berubah.
Kamu marah.
Menyebut dia tidak suportif.
Mengungkit kesalahan masa lalu.
Lalu mungkin, hubungan kalian berhenti di sana.
Padahal, beberapa menit sebelumnya kamu sendiri yang meminta kejujuran.
Wah, ini menarik.
Banyak orang ingin didukung.
Namun, tidak semua orang benar-benar ingin mendengar kebenaran.
Orang dengan NPD dapat sangat sensitif terhadap kritik atau penolakan dan bisa merespons dengan kemarahan, penghinaan, atau usaha untuk merendahkan orang lain. Namun, lagi-lagi, satu reaksi marah tidak otomatis berarti seseorang memiliki NPD. Yang dilihat dalam diagnosis adalah pola yang menetap dan berdampak luas dalam kehidupan. (Cleveland Clinic)
Jadi, coba tanyakan kepada dirimu sendiri.
Apakah kamu ingin kejujuran?
Atau kamu hanya ingin mendapatkan jawaban yang sudah kamu tentukan sebelumnya?

Kamu meminta maaf dengan kata tetapi tidak dengan perilaku



Ini bagian yang sering membuat hubungan perlahan mati.
Kamu berkata:
“Maaf.”
Temanmu memaafkan.
Lalu kamu mengulangi hal yang sama.
Kamu berkata lagi:
“Maaf, aku memang begini.”
Lalu mengulanginya lagi.
Dan lagi.
Sampai akhirnya, temanmu tidak lagi marah.
Bukan karena masalahnya selesai.
Mungkin karena dia sudah tidak punya energi untuk menjelaskan.
Ini yang sering tidak terlihat.
Hubungan tidak selalu berakhir dengan pertengkaran besar.
Kadang-kadang, hubungan berakhir setelah seseorang terlalu sering terluka oleh pola yang sama.
Pada titik tertentu, dia tidak lagi ingin memperbaiki hubungan.
Dia hanya ingin keluar.
Dan ketika itu terjadi, kamu mungkin bertanya:
“Kenapa semua orang meninggalkanku?”
Mungkin, pertanyaan yang lebih jujur adalah:
“Apakah aku pernah benar-benar berubah setelah seseorang mengatakan bahwa aku menyakiti mereka?”

Kamu merasa semua orang iri


Temanmu sukses.
Kamu berkata dia beruntung.
Temanmu membeli sesuatu yang bagus.
Kamu bilang dia hanya ingin pamer.
Temanmu mendapat perhatian.
Kamu merasa dia sedang mencari validasi.
Temanmu mengkritikmu.
Kamu yakin dia iri.
Nah, kalau setiap orang yang tidak setuju denganmu selalu dianggap iri, ada satu masalah kecil yang mungkin perlu diperhatikan.
Bisa jadi, tidak semua orang iri.
Bisa jadi, sebagian dari mereka memang melihat sesuatu yang tidak ingin kamu lihat.
Karena kritik tidak selalu merupakan serangan.
Dan pujian tidak selalu merupakan bukti bahwa kamu benar.
Kadang-kadang, orang yang paling menyayangimu justru menjadi orang yang berani berkata:
“Kamu salah.”
Pertanyaannya, apakah kamu mampu mendengarnya?

Kamu ingin menjadi orang paling penting dalam hidup semua orang


Nah Kamu ingin temanmu selalu tersedia.
Kamu ingin menjadi orang pertama yang diberi tahu.
Lalu Kamu ingin selalu diprioritaskan.
Ketika temanmu punya hubungan baru, kamu merasa ditinggalkan.
Atau Ketika dia memiliki kelompok pertemanan lain, kamu merasa digantikan.
Ketika dia tidak membalas pesan dengan cepat, kamu merasa tidak dihargai.
Lalu kamu mulai menghukum.
Diam.
Menjauh.
Membuat unggahan sindiran.
Atau berkata:
“Sudahlah, aku memang tidak penting.”
Kalimat ini terdengar seperti kesedihan.
Namun, kadang-kadang, kalimat tersebut juga bisa menjadi cara untuk membuat orang lain merasa bersalah.
Dan ini bukan berarti setiap orang yang berkata demikian memiliki NPD.
Manusia bisa bersikap egois, defensif, atau membutuhkan perhatian tanpa mengalami gangguan kepribadian.
Namun, jika pola seperti rasa berhak mendapat perlakuan khusus, kebutuhan berlebihan akan kekaguman, eksploitasi terhadap orang lain, dan kurangnya empati muncul secara menetap di berbagai hubungan, itu memang layak menjadi bahan refleksi dan, bila mengganggu kehidupan, dibicarakan dengan profesional kesehatan mental.

Mungkin temanmu tidak membencimu



Mungkin mereka hanya lelah.
Lelah harus memilih kata-kata.
Juga Lelah menghadapi kemarahanmu.
Lelah merasa bersalah karena memiliki kehidupan sendiri.
Dan Lelah menjadi pendengar tanpa pernah di dengarkan.
Lelah terus menerus membuktikan bahwa mereka menyayangimu.
Dan ketika seseorang lelah, dia tidak selalu mengumumkan kepergiannya.
Kadang-kadang, dia hanya mengurangi percakapan.
Mengurangi pertemuan.
Mengurangi kedekatan.
Sampai suatu hari, kamu baru sadar bahwa orang yang dulu selalu ada sudah tidak lagi berada di sana.
Bukan karena mereka tiba-tiba berubah.
Mungkin karena mereka sudah terlalu lama menunggu kamu berubah.

Jadi, apakah kamu NPD?


Tidak bisa dijawab hanya karena temanmu menjauh.
Teman bisa menjauh karena banyak hal.
Bisa karena konflik.
Juga Bisa karena perbedaan hidup.
Bisa karena hubungan yang memang sudah tidak sehat.
Dan Bisa juga karena kamu memiliki pola perilaku yang membuat orang lain merasa tidak aman atau tidak dihargai.
Dan jika kamu benar-benar ingin tahu apakah perilakumu berkaitan dengan narcissistic personality disorder, diagnosis hanya dapat dilakukan oleh tenaga profesional yang berkualifikasi.
Namun, kamu tidak harus menunggu diagnosis untuk mulai bercermin.
Coba tanyakan:
Apakah aku bisa meminta maaf tanpa menambahkan kata “tapi”?
Apakah aku bisa menerima kritik tanpa langsung menyerang?
Lalu Apakah aku bisa mendengarkan cerita orang lain tanpa mengambil alih?
Apakah aku bisa bahagia ketika orang lain berhasil?
Dan Apakah aku bisa menerima bahwa orang lain memiliki kehidupan yang tidak selalu berpusat padaku?
Nah, mungkin di situlah refleksi yang sebenarnya dimulai.


Karena orang yang benar-benar ingin berubah tidak selalu langsung menjadi sempurna.
Tetapi dia mulai memperhatikan.
Mulai mendengar.
Mulai merasa tidak nyaman ketika menyadari bahwa dirinya mungkin telah menyakiti orang lain.
Dan yes! rasa tidak nyaman itu tidak selalu buruk.
Kadang kadang, rasa tidak nyaman adalah pintu pertama menuju kesadaran.
Jadi, kalau temanmu menjauh, jangan langsung berkata:


“Mereka semua toxic.”
Mungkin memang mereka toxic.
Namun, mungkin juga ada sesuatu yang perlu kamu lihat dari dirimu sendiri.
Bukan untuk menyalahkan diri.
Juga Bukan untuk memberi label.
Bukan untuk mencari siapa yang paling jahat.
Tetapi untuk bertanya dengan jujur:
“Apakah aku kehilangan orang-orang karena mereka tidak mampu mencintaiku?”
Atau…
“Apakah mereka pergi karena terlalu lama merasa tidak dicintai olehku?”
Wah.
Pertanyaan kedua memang lebih sakit.
Tapi, kadang kadang, pertanyaan yang paling sakit justru adalah pertanyaan yang paling jujur.
Dan kalau setelah membaca ini kamu langsung ingin marah karena merasa disindir, tenang.
Belum tentu kamu NPD.
Tapi mungkin…
Nah, mungkin saja artikel ini menyentuh bagian yang selama ini kamu hindari.