Pagi pagi rumah sudah di rapikan. Bantal di kembalikan ke tempatnya, meja di bereskan, lantai di sapu, mainan anak di masukkan ke keranjang.
Rasanya lega.
“Ah, akhirnya rapi juga.”
Tapi coba tunggu sampai sore.
Ada pakaian yang kembali tergeletak. Gelas berpindah ke ruang tamu. Barang belanjaan belum masuk tempatnya. Meja mulai penuh lagi. Belum lagi mainan yang entah kenapa sudah menyebar ke berbagai sudut.
Kamu pun mungkin mulai bertanya, “Kenapa sih rumah gampang banget berantakan?”
Nah, sebelum menyalahkan diri sendiri karena merasa kurang rajin, coba lihat persoalannya dari sisi lain.
Bisa jadi masalahnya bukan kamu kurang sering merapikan rumah.
Bisa jadi sistem di rumahmu memang membuat barang lebih mudah berantakan daripada kembali ke tempatnya.
Wah, ternyata rumah rapi bukan cuma soal rajin beres beres, ya.
Barang Terlalu Banyak untuk Ruang yang Tersedia
Yuk kita Coba perhatikan isi rumahmu.
Apakah setiap barang benar benar punya fungsi?
Atau ada benda yang sebenarnya jarang digunakan tetapi tetap mengambil tempat?
Ketika jumlah barang terlalu banyak, rumah akan lebih mudah terlihat berantakan meskipun kamu sudah membersihkannya.
Satu barang keluar dari tempatnya mungkin masih terlihat biasa. Tetapi kalau ada puluhan barang yang tidak memiliki ruang penyimpanan yang jelas, kekacauan akan muncul lagi dan lagi.
Nah, sebelum membeli lemari tambahan, coba kurangi dulu barang yang memang sudah tidak digunakan.
Bisa jadi kamu bukan membutuhkan lebih banyak tempat.
Kamu hanya membutuhkan lebih sedikit barang.
Setiap Barang Tidak Punya “Rumah”
Ini penyebab yang sering tidak disadari.
Bayangkan kamu selesai menggunakan gunting.
Mau dikembalikan ke mana?
Tidak tahu.
Akhirnya ditaruh di meja.
Begitu juga dengan charger, remote, kunci, tas, dokumen, atau barang kecil lainnya.
Kalau sebuah benda tidak memiliki tempat khusus, kemungkinan besar benda tersebut akan berpindah pindah.
Nah, coba beri setiap barang sebuah “rumah”.
Kunci punya tempat.
Remote punya tempat.
Dokumen punya tempat.
Tas punya tempat.
Mainan punya tempat.
Tidak harus menggunakan wadah mahal. Kotak sederhana pun bisa.
Yang penting, kamu dan anggota keluarga tahu ke mana barang tersebut harus di kembalikan.
Tempat Penyimpanannya Terlalu Ribet
Ada juga rumah yang sebenarnya sudah punya banyak tempat penyimpanan, tetapi tetap berantakan.
Kok bisa?
Karena tempat menyimpannya terlalu merepotkan.
Misalnya, kamu harus membuka beberapa kotak sebelum bisa menyimpan satu benda. Akhirnya, daripada repot, barang di letakkan begitu saja.
Wajar, kan?
Sistem penyimpanan yang baik justru membuat orang malas berantakan karena menyimpan barang terasa lebih mudah daripada meninggalkannya sembarangan.
Kalau barang yang sering di pakai harus di simpan di tempat yang sulit di jangkau, coba pindahkan.
Barang yang di gunakan setiap hari sebaiknya berada di tempat yang mudah diambil dan mudah di kembalikan.
Nah, rumah yang rapi itu bukan cuma soal tampilan. Sistemnya juga harus praktis.
Kamu Terlalu Sering Menunda “Nanti Saja”
“Nanti di bereskan.”
Kalimat pendek ini ternyata bisa menjadi sumber kekacauan yang panjang.
Gelas selesai di gunakan, nanti dicuci.
Pakaian baru di pakai sekali, nanti di lipat.
Surat datang, nanti di baca.
Barang belanjaan, nanti disimpan.
Masalahnya, “nanti” sering bertemu dengan “nanti” lainnya.
Akhirnya pekerjaan kecil menumpuk menjadi pekerjaan besar.
Coba ubah kebiasaannya sedikit.
Kalau sesuatu hanya membutuhkan waktu kurang dari satu atau dua menit, kerjakan saat itu juga.
Gelas langsung di bawa ke dapur.
Pakaian langsung di masukkan ke tempatnya.
Sampah langsung di buang.
Kelihatannya sepele, lho.
Tetapi kebiasaan kecil seperti ini bisa mencegah kekacauan berkembang biak.
Semua Orang di Rumah Menganggap Ada yang Akan Membereskan
Kalau kamu tinggal bersama keluarga.
Rumah adalah milik bersama, tetapi kadang pekerjaan merapikan rumah hanya dianggap sebagai tugas satu orang.
Akhirnya ada satu orang yang sibuk mengembalikan barang ke tempatnya, sementara anggota keluarga lain terus mengeluarkan barang.
Kalau seperti ini, kamu bisa merapikan rumah berkali kali dan hasilnya tetap terasa tidak pernah selesai.
Karena itu, buat aturan yang sederhana.
Barang yang digunakan dikembalikan.
Pakaian kotor masuk keranjang.
Piring kotor di bawa ke dapur.
Mainan selesai di mainkan dikumpulkan.
Anak pun bisa di libatkan sesuai usianya.
Tidak perlu menunggu mereka besar untuk belajar bertanggung jawab terhadap barang yang digunakan.
Nah, rumah bukan hotel yang selalu punya petugas untuk membereskan semuanya.
Permukaan Rumah Terlalu Mudah Dijadikan Tempat Menaruh Barang
Meja kosong memang menggoda.
Satu benda ditaruh.
Lalu datang benda kedua.
Kemudian ada surat.
Ada botol minum.
Juga Ada charger.
Ada kosmetik.
Tiba tiba meja yang tadinya kosong berubah menjadi tempat penyimpanan sementara.
Masalahnya, “sementara” bisa berlangsung berhari hari.
Kalau kamu punya kebiasaan seperti ini, coba kurangi permukaan yang bisa menjadi tempat menumpuk barang.
Sisakan meja untuk fungsi utamanya.
Misalnya meja makan untuk makan, bukan tempat menaruh semua barang yang belum tahu mau di letakkan di mana.
Wah, perubahan kecil ini sering kali membuat ruangan terlihat jauh lebih rapi.
Kamu Membeli Barang Sebelum Memikirkan Tempatnya
Ada satu kebiasaan yang diam diam membuat rumah semakin penuh.
Beli dulu, pikir tempatnya belakangan.
Melihat wadah lucu, beli.
Ada dekorasi menarik, beli.
Menemukan peralatan dapur yang sedang diskon, beli.
Padahal di rumah sudah ada benda yang fungsinya hampir sama.
Nah, sebelum membawa barang baru pulang, coba tanyakan tiga hal.
“Aku benar benar membutuhkan ini?”
“Akan di gunakan seberapa sering?”
“Di mana aku akan menyimpannya?”
Kalau pertanyaan terakhir saja sulit dijawab, mungkin barang tersebut belum perlu di beli.
Standar Rumah Rapi Kamu Mungkin Terlalu Tinggi
Rumah yang di huni manusia memang akan berubah sepanjang hari.
Ada anak bermain.
Juga Ada orang memasak.
Ada pakaian di cuci.
Dan Ada barang keluar masuk.
Jadi, kalau kamu membayangkan rumah harus selalu terlihat seperti foto katalog, kamu akan cepat lelah.
Rumah yang sehat bukan rumah yang tidak pernah berantakan.
Rumah yang sehat adalah rumah yang ketika berantakan bisa di kembalikan ke kondisi nyaman tanpa membutuhkan tenaga luar biasa.
Nah, ini bedanya.
Jangan mengejar rumah yang sempurna.
Cari sistem yang membuat rumah mudah kembali rapi.
Coba Terapkan “Reset Rumah” Sebelum Tidur
Tidak perlu menunggu akhir pekan untuk membereskan semuanya.
Luangkan sekitar 10 sampai 15 menit sebelum tidur untuk melakukan reset kecil.
Kembalikan barang yang berpindah tempat.
Masukkan pakaian ke tempatnya.
Rapikan meja.
Bawa gelas ke dapur.
Kumpulkan mainan.
Tidak perlu membersihkan seluruh rumah.
Fokus saja mengembalikan barang ke “rumahnya”.
Ketika bangun pagi, kamu akan merasakan perbedaan yang cukup menyenangkan.
Bangun dalam keadaan rumah sudah relatif rapi tentu membuat awal hari terasa lebih ringan, kan?
Jadi, Kenapa Rumah Selalu Berantakan?
Mungkin bukan karena kamu malas.
Bisa jadi barang terlalu banyak.
Bisa juga setiap benda tidak memiliki tempat yang jelas.
Mungkin tempat penyimpanannya terlalu merepotkan.
Atau semua orang di rumah belum memiliki kebiasaan mengembalikan barang setelah di gunakan.
Bahkan bisa saja standar “rumah rapi” yang kamu pasang terlalu tinggi.
Nah, daripada setiap hari mengulang siklus yang sama, coba perbaiki penyebabnya.
Kurangi barang.
Tetapkan tempat.
Sederhanakan penyimpanan.
Libatkan semua penghuni rumah.
Dan biasakan melakukan reset kecil setiap hari.
Kamu tidak perlu menghabiskan berjam jam untuk membuat rumah kembali nyaman.
Yang di butuhkan justru kebiasaan kecil yang di lakukan secara terus menerus.
Rumah yang selalu rapi bukan hasil dari seseorang yang tidak pernah berhenti membersihkan.
Rumah terasa rapi karena barang barang di dalamnya punya tempat, penghuninya punya kebiasaan, dan sistemnya di buat sesuai dengan kehidupan nyata.
Jadi, kalau sore ini rumahmu kembali berantakan padahal pagi tadi sudah kamu rapikan, jangan langsung menghela napas panjang.
Coba lihat sekeliling.
Mungkin rumahmu sedang memberi tahu cara yang lebih mudah. Dan kamu harus menemukannya!
