Tidak semua pintu tertutup karena kamu kurang pintar. Kadang pintu itu tidak pernah terbuka karena kamu mengetuknya dengan penuh keraguan.
Kelihatannya sederhana ya. Namun coba perhatikan kehidupan sehari hari. Dua orang memiliki kemampuan yang hampir sama. Pendidikan mereka mirip. Pengalamannya tidak jauh berbeda. Anehnya, yang satu lebih dulu mendapat kesempatan, sementara yang lain masih berdiri di tempat.
Lho, apa bedanya?
Sering kali bukan karena siapa yang paling hebat. Melainkan siapa yang lebih dulu berani berkata kepada dirinya sendiri, “Aku siap mencoba.”
Sayangnya, banyak orang justru menjadi hakim paling kejam bagi dirinya sendiri. Bahkan sebelum dunia memberi penilaian, mereka sudah lebih dulu menjatuhkan vonis bahwa dirinya tidak cukup baik.
Dunia Membaca Sikapmu Sebelum Mendengar Ceritamu
Bayangkan kamu sedang mencari arsitek untuk membangun rumah impianmu.
Datanglah orang pertama.
“Sejujurnya saya masih ragu. Semoga hasilnya bagus, ya.”
Lalu datang orang kedua.
“Mari kita diskusikan dulu kebutuhan rumahnya. Setelah itu saya buatkan rancangan terbaik.”
Siapa yang lebih membuatmu tenang?
Lucunya, manusia memang seperti itu. Kita tidak hanya mendengar kata kata. Kita menangkap energi di balik cara seseorang berbicara.
Kepercayaan diri tidak mengeluarkan suara, tetapi kehadirannya selalu terdengar.
Nah, itulah alasan mengapa orang lain sering memutuskan percaya bahkan sebelum mereka benar benar mengenalmu.
Keraguan Itu Licik, Datangnya Memakai Suaramu Sendiri
Musuh terbesar ternyata bukan kritik.
Bukan cibiran.
Bukan komentar pedas.
Yang paling sering menjatuhkanmu justru kalimat yang lahir dari kepalamu sendiri.
“Aku pasti gagal.”
“Orang lain lebih pantas.”
“Nanti saja.”
Kalimat itu memang terdengar pelan. Namun setiap kali diulang, ia seperti tetesan air yang terus mengenai batu. Sedikit demi sedikit mengikis keberanianmu.
Wah, yang menyedihkan bukan ketika orang lain meremehkanmu. Yang menyedihkan adalah ketika kamu mulai mempercayai keraguanmu sendiri.
Jangan Menjadi Penonton dalam Hidupmu Sendiri
Ada orang yang setiap hari menyaksikan mimpinya lewat begitu saja.
Bukan karena tidak punya kesempatan.
Bukan karena tidak punya bakat.
Melainkan karena terlalu sibuk menunggu waktu yang katanya tepat.
Padahal waktu yang benar benar sempurna hampir tidak pernah datang.
Kesempatan itu seperti bus. Kalau terus kamu biarkan lewat sambil berpikir, “Mungkin yang berikutnya lebih baik,” jangan kaget kalau akhirnya kamu hanya berdiri di halte, sementara orang lain sudah lebih dulu sampai tujuan.
Nah, keberanian sering kali bukan tentang melompat tinggi. Kadang keberanian hanya berupa satu langkah kecil yang akhirnya mengubah seluruh perjalanan.
Orang Tidak Bisa Menghargai Cahaya yang Terus Kamu Sembunyikan
Coba bayangkan sebuah lampu yang sangat terang, tetapi selalu di tutup kain tebal.
Apakah ruangan menjadi terang?
Tentu tidak.
Masalahnya bukan pada lampunya.
Masalahnya karena cahaya itu tidak pernah diberi kesempatan keluar.
Begitu juga dengan dirimu.
Kamu boleh memiliki ide yang luar biasa.
Kamu boleh memiliki pengalaman yang panjang.
Kamu boleh menyimpan kemampuan yang tidak di miliki banyak orang.
Namun selama semuanya hanya tinggal di dalam kepalamu, dunia tidak akan pernah tahu.
Lho, jangan marah kalau orang lain tidak menghargai sesuatu yang bahkan belum pernah mereka lihat.
Berhenti Memoles Kekurangan, Mulailah Mengasah Keberanian
Ada kebiasaan yang diam diam menguras rasa percaya diri.
Yaitu terlalu sibuk memperbaiki kekurangan sampai lupa menggunakan kelebihan.
“Aku harus lebih pintar.”
“Aku harus lebih cantik.”
“Aku harus lebih sempurna.”
Kalimat seperti itu memang terdengar positif.
Padahal sering kali hanya cara halus untuk terus menunda.
Padahal tidak ada manusia yang benar benar selesai memperbaiki dirinya.
Kalau menunggu sempurna, mungkin seumur hidup kamu hanya akan sibuk mengasah pisau tanpa pernah memakainya.
Percaya Diri Tidak Lahir dari Tepuk Tangan
Banyak orang mengira rasa percaya diri muncul setelah di puji.
Padahal kenyataannya justru sebaliknya.
Orang yang percaya diri tidak bergantung pada tepuk tangan.
Ia membangun keyakinannya dari janji janji kecil yang berhasil ia tepati.
Bangun ketika alarm berbunyi.
Menyelesaikan pekerjaan tanpa terus menunda.
Berani mengirim lamaran.
Berani mengangkat tangan saat punya pendapat.
Setiap tindakan kecil itu seperti batu bata.
Satu mungkin terlihat biasa.
Namun kalau terus di tumpuk, lama lama berdirilah sebuah bangunan bernama kepercayaan diri.
Jangan Sibuk Meminjam Kacamata Orang Lain
Wah, media sosial sering membuat kita lupa bahwa hidup bukan panggung yang memperlihatkan seluruh cerita.
Yang terlihat hanya senyumnya.
Tidak terlihat tangisnya.
Yang terlihat hanya keberhasilannya.
Tidak terlihat berkali kali di tolak.
Yang terlihat hanya garis finisnya.
Tidak terlihat jalan terjal yang harus di lewati.
Kalau setiap hari kamu mengukur hidup menggunakan penggaris milik orang lain, kapan kamu sempat melihat seberapa jauh langkahmu sendiri?
Orang Pertama yang Harus Berdiri di Pihakmu Adalah Dirimu Sendiri
Bayangkan seluruh dunia sedang meragukanmu.
Masih ada satu orang yang seharusnya tetap bertahan membelamu.
Yaitu dirimu sendiri.
Karena kalau benteng terakhir itu ikut runtuh, ke mana lagi kamu akan pulang saat keadaan sedang sulit?
Nah, percaya diri bukan berarti selalu merasa hebat.
Percaya diri adalah keputusan untuk tetap melangkah meski lutut masih gemetar.
Tetap berbicara meski suara belum sepenuhnya tenang.
Tetap mencoba meski hasilnya belum tentu sesuai harapan.
Sebelum Meminta Dunia Percaya, Mulailah dari Cermin di Rumahmu
Besok pagi, sebelum berangkat bekerja atau beraktivitas, berdirilah sebentar di depan cermin.
Bukan untuk mencari jerawat.
Bukan untuk mengeluhkan bentuk tubuh.
Bukan untuk menghitung kekurangan.
Tetapi untuk mengingatkan satu hal sederhana.
“Aku layak diberi kesempatan.”
Kalimat itu mungkin tidak langsung mengubah hidupmu hari ini.
Namun ia akan mengubah caramu berjalan.
Mengubah caramu berbicara.
Mengubah caramu mengambil keputusan.
Dan tanpa kamu sadari, perubahan kecil itulah yang mulai dilihat orang lain.
Kamu tahu? Kepercayaan tidak lahir dari wajah yang paling sempurna atau gelar yang paling tinggi. Kepercayaan tumbuh dari seseorang yang berani berdiri tegak sambil berkata, “Aku memang masih belajar, tetapi aku tidak akan terus bersembunyi.”
Jadi, kalau kamu tidak percaya diri, lalu siapa yang bisa mempercayai kamu?
Jawabannya tidak ada di tangan dunia.
Jawabannya selalu di mulai dari orang yang setiap pagi menatapmu di balik cermin. Yes! Kamu bisa!
