Eh, belakangan ini kamu pernah memperhatikan kalau teman atau rekan kerja yang kelihatannya lebih santai di banding dulu? Pulangnya nggak selalu malam, jarang mengeluh soal pekerjaan, tetapi anehnya hasil kerjanya tetap bagus. Lho, kok bisa begitu? Bukannya orang yang ingin sukses harus terus sibuk, ya?
Nah, pertanyaan seperti itulah yang membuat istilah quiet thriving mulai ramai di bicarakan. Sekilas memang terdengar mirip dengan quiet quitting yang sempat viral beberapa waktu lalu. Eits, jangan buru-buru menyamakan keduanya, ya. Meski sama-sama memakai kata quiet, maknanya justru berbeda jauh.
Quiet thriving bukan berarti kehilangan semangat bekerja. Wah, justru sebaliknya. Orang yang menjalani quiet thriving tetap ingin berkembang, tetap mengejar prestasi, tetapi tidak lagi rela mengorbankan kesehatan, waktu bersama keluarga, atau kebahagiaan pribadinya hanya demi terlihat sebagai pekerja paling sibuk. Menariknya lagi, pola pikir seperti ini mulai banyak di pilih oleh Gen Z yang memiliki cara pandang baru tentang arti sebuah kesuksesan.
Sibuk Belum Tentu Berarti Bertumbuh
Coba deh kamu ingat beberapa tahun ke belakang. Banyak orang bangga kalau pulang kantor paling malam. Semakin penuh jadwalnya, semakin dianggap keren. Bahkan, ada yang merasa bersalah kalau bisa pulang tepat waktu.
Nah, sekarang perlahan pola pikir itu mulai berubah. Banyak anak muda justru bertanya, “Kalau setiap hari hanya bekerja sampai kelelahan, kapan aku menikmati hidup?”
Lho, pertanyaan sederhana itu ternyata mengubah banyak hal. Gen Z mulai sadar bahwa bekerja memang penting, tetapi hidup bukan hanya tentang pekerjaan. Masih ada keluarga yang ingin ditemui, tubuh yang perlu dijaga, teman yang ingin diajak tertawa, hingga mimpi lain yang juga pantas di perjuangkan.
Bagi mereka, berkembang bukan berarti harus terlihat sibuk setiap saat.
Produktif Itu Soal Hasil, Bukan Soal Lembur
Wah, ini yang sering keliru dipahami, sih. Masih banyak orang menganggap produktif berarti bekerja dari pagi sampai malam. Padahal kenyataannya belum tentu seperti itu.
Bayangkan saja ada dua orang. Yang pertama terlihat sibuk seharian, bolak-balik rapat, membalas pesan tanpa henti, tetapi pekerjaannya justru banyak yang tertunda. Sementara yang kedua bekerja lebih tenang, fokus pada prioritas, lalu selesai tepat waktu.
Nah, menurutmu siapa yang sebenarnya lebih produktif?
Di sinilah quiet thriving mulai terlihat. Orang yang menjalani pola ini lebih memilih bekerja secara cerdas daripada sekadar terlihat sibuk. Mereka tidak merasa harus selalu mengatakan “iya” untuk setiap pekerjaan tambahan jika memang sudah di luar kapasitasnya.
Bukan karena malas, lho. Mereka hanya ingin menjaga kualitas kerja sekaligus menjaga dirinya sendiri.
Gen Z Mulai Berani Membuat Batasan
Kalau dulu banyak orang takut mengatakan tidak kepada atasan, sekarang kondisinya mulai sedikit berbeda.
Gen Z lebih berani membuat batasan yang sehat. Misalnya, setelah jam kerja selesai, mereka memilih benar-benar beristirahat. Saat sedang cuti, mereka berusaha tidak terus membuka email kantor. Ketika merasa kelelahan, mereka tidak malu mengakuinya.
Nah, jangan salah paham dulu. Membuat batasan bukan berarti tidak profesional. Justru dengan batasan yang jelas, seseorang bisa kembali bekerja dengan pikiran yang lebih segar.
Wah, daripada memaksakan diri sampai burnout, bukankah lebih baik menjaga energi agar tetap konsisten dalam jangka panjang?
Tidak Lagi Mengejar Validasi Lewat Kesibukan
Eh, pernah nggak kamu tanpa sadar merasa harus terlihat sibuk supaya dianggap rajin?
Padahal, kesibukan belum tentu menunjukkan kualitas.
Quiet thriving mengajak seseorang berhenti mencari pengakuan lewat kelelahan. Mereka tidak lagi merasa harus memamerkan lembur, mengunggah foto laptop tengah malam, atau terus mengatakan bahwa pekerjaannya sangat banyak.
Yang mereka kejar bukan lagi pujian karena sibuk, melainkan kepuasan karena benar-benar berkembang.
Nah, perbedaannya memang tipis, tetapi dampaknya sangat besar terhadap kesehatan mental.
Bertumbuh Sesuai Versi Diri Sendiri
Menariknya lagi, quiet thriving juga mengubah cara seseorang memandang kesuksesan.
Dulu, sukses sering diukur dari jabatan, gaji, atau posisi yang tinggi. Sekarang, banyak Gen Z mulai memiliki ukuran yang lebih personal.
Ada yang merasa sukses ketika bisa bekerja tanpa stres berlebihan. Juga Ada yang bahagia karena masih memiliki waktu olahraga setiap sore. Ada pula yang bangga bisa menyelesaikan pekerjaan tanpa harus membawa beban kantor sampai ke rumah.
Lho, ternyata setiap orang memang boleh memiliki definisi sukses yang berbeda.
Dan itu bukan berarti kurang ambisi.
Perusahaan Mulai Menyadari Perubahan Ini
Nah, bukan hanya karyawan yang berubah. Banyak perusahaan juga mulai ikut beradaptasi.
Mereka mulai memahami bahwa karyawan yang bahagia sering kali lebih kreatif, lebih loyal, dan mampu bekerja lebih baik dibanding mereka yang terus berada di bawah tekanan.
Karena itulah mulai banyak perusahaan yang menyediakan jam kerja lebih fleksibel, program kesehatan mental, hingga budaya kerja yang lebih menghargai keseimbangan hidup.
Wah, ternyata perusahaan juga mulai sadar bahwa manusia bukan mesin yang bisa di paksa bekerja tanpa henti.
Quiet Thriving Bukan Tren Orang Malas
Sayangnya, masih ada yang menganggap quiet thriving sebagai alasan untuk bermalas-malasan.
Padahal anggapan itu kurang tepat.
Orang yang menjalani quiet thriving tetap belajar, tetap meningkatkan kemampuan, tetap mengejar target, bahkan tetap ingin naik jabatan. Bedanya, mereka tidak lagi percaya bahwa keberhasilan harus di bayar dengan mengorbankan seluruh hidupnya.
Nah, mereka lebih memilih berkembang secara perlahan, tetapi konsisten. Bagi mereka, perjalanan karier bukan lomba lari cepat, melainkan maraton yang membutuhkan tenaga dalam jangka panjang.
Mungkin Tanpa Sadar Kamu Juga Sedang Menjalaninya
Coba deh perhatikan kebiasaanmu sekarang. Kalau kamu mulai memilih bekerja lebih fokus daripada sekadar sibuk, berani menjaga waktu istirahat, terus belajar tanpa memaksakan diri, serta tidak lagi menjadikan lembur sebagai simbol keberhasilan, bisa jadi kamu sedang menjalani quiet thriving.
Wah, siapa sangka, ya? Ternyata berkembang tidak selalu harus di lakukan dengan suara keras, pencapaian yang di pamerkan, atau jadwal yang penuh setiap hari.
Kadang, pertumbuhan terbaik justru terjadi ketika seseorang bekerja dengan tenang, menikmati prosesnya, dan tetap memberi ruang bagi dirinya untuk hidup. Sebab pada akhirnya, kesuksesan bukan hanya tentang seberapa tinggi kamu berhasil naik, tetapi juga tentang apakah kamu masih bisa tersenyum dan menikmati setiap langkah yang sudah di perjuangkan.
