Buat kamu yang mungkin belakangan ini sering bertanya tanya dalam hati.
“Kenapa ya, setiap obrolan selalu berakhir tentang dirinya?”
Atau mungkin kamu pernah mengalami momen yang lebih menguras energi. Saat kamu sedang butuh di dengarkan, pasangan justru sibuk membahas pencapaiannya. Saat kamu terluka karena perkataannya, eh, malah kamu yang akhirnya meminta maaf.
Kalau situasi seperti ini terasa familiar, bisa jadi kamu sedang berhadapan dengan pasangan yang memiliki kecenderungan NPD atau Narcissistic Personality Disorder.
Nah sahabat, sebelum kita membahas bagaimana menghilangkan NPD pada pasangan kita, ada satu fakta yang mungkin membuatmu mengernyitkan dahi.
Kamu tidak bisa “menghapus” NPD seperti menghapus aplikasi dari ponsel loh!
Wah kedengarannya mengecewakan ya?
Tunggu dulu. Justru di sinilah bagian menariknya dari pembahasan kali ini!
Karena tujuan sebenarnya bukan menghapus seseorang menjadi pribadi baru. Tujuannya adalah membantu membuka pintu kesadaran yang selama ini mungkin terkunci rapat.
Kamu Bukan Tukang Servis Kepribadian Lho!
Coba sini jujur sebentar.
Pernah nggak kamu mikir seperti ini?
“Aku harus lebih sabar.”
Lalu “Aku harus lebih memahami dia.”
“Aku harus jadi orang yang bisa menyembuhkan luka batinnya.”
Apa kalimat kalimat itu terasa akrab?
Sebenarnya Karena banyak orang yang mencintai pasangan dengan kecenderungan narsistik tanpa sadar berubah menjadi tukang servis hubungan dan mengalah banget.
Seperti ketika Ada masalah, di perbaiki.
Ada konflik, di selesaikan.
Lanjut Ada drama, di rapikan.
Ada kekacauan, di bereskan.
Sementara pasangan hanya duduk nyaman menikmati hasilnya.
Nah kawan, hubungan itu bukan bengkel. Kamu bukan mekanik yang bertugas memperbaiki seluruh kerusakan sendirian. Pasti kamu yang kasihan
Kalau sampai kamu kehilangan dirimu sendiri demi memperbaiki orang lain, itu bukan cinta yang sehat. Itu kelelahan yang di beri nama cinta.
Kesalahan yang Berbahaya
Banyak orang mengira kasih sayang terbaik adalah selalu memaklumi. Tapi? Maklum terus tidak mau sama sama belajar? Bahaya sih!
Pasangan meremehkan perasaanmu?
Di maklumi.
Pasangan selalu ingin menang sendiri?
Di maklumi.
Pasangan membuatmu menangis berkali-kali?
Di maklumi lagi.
Nah, hati hati ya!
Karena ada perbedaan besar antara memahami dan membiarkan.
Memahami berarti kamu mengerti alasan di balik perilakunya.
Membiarkan berarti kamu memberi izin perilaku itu terus terjadi.
Dua hal ini sangat berbeda.
Jangan Memberi Makan Monster Ego Setiap Hari
Tenang, ini bukan berarti pasanganmu monster sungguhan ya.
Tapi bayangkan saja seperti ini.
Setiap kali seseorang selalu mendapatkan apa yang di inginkannya tanpa konsekuensi, perilaku itu akan semakin kuat. Saat dia memotong pembicaraanmu lalu kamu diam. Lalu Saat dia mengabaikan kebutuhanmu lalu kamu mengalah. Saat dia menyalahkanmu lalu kamu menerima.
Nah, tanpa sadar di sini kamu sedang memberi makan pola yang sama berulang ulang.
Lucunya, semakin sering di lakukan, semakin sulit pula pola itu berubah.
Makanya, salah satu langkah penting bukan mengubah pasangan terlebih dahulu.
Melainkan berhenti menjadi bahan bakar bagi perilaku yang merugikan hubungan.
Cobalah kamu jadi Cermin, Bukan Hakim
Eh guys sebenarnya sih ada satu pendekatan yang sering lebih berhasil di bandingkan ceramah panjang.
Jadilah cermin dan Bukan hakim.
Hakim berkata:
“Kamu egois.”
“Kamu narsis.”
“Kamu selalu salah.”
Sementara cermin berkata:
“Aku merasa sedih ketika tidak di dengarkan.”
“Aku merasa tidak di hargai saat pendapatku di abaikan.”
“Aku kecewa ketika kebutuhanku di anggap tidak penting.”
Lihat bedanya?
Yang satu menyerang identitas.
Yang satu menjelaskan dampak.
Orang biasanya lebih mudah menerima cermin daripada palu.
Kalimat Kecil yang Bisa Mengubah Dinamika Hubungan
Kamu Tahu gak? Untuk merubah itu semua, Kadang perubahan besar tidak di mulai dari percakapan besar lho!
Justru di mulai dari kalimat-
kalimat kecil.
Misalnya:
“Aku tidak setuju.”
“Aku punya pandangan berbeda.”
Dan “Aku ingin di dengarkan juga.”
“Aku tidak nyaman dengan cara bicara seperti itu.”
Kelihatannya mungkin sederhana ya?
Tapi bagi seseorang yang terbiasa menjadi pusat perhatian, mendengar batasan yang sehat bisa menjadi pengalaman baru.
Bukan untuk menjatuhkan dirinya.
Melainkan mengingatkan bahwa hubungan terdiri dari dua orang, bukan satu pemeran utama dan satu figuran.
Pertanyaan yang Sering Ditakuti
Sekarang coba tanyakan satu hal kepada dirimu sendiri.
Bukan kepada pasangan.
Kepada dirimu.
“Apakah dia mau berubah?”
Nah, pertanyaan ini sering membuat orang terdiam.
Karena kenyataannya, perubahan tidak terjadi karena kamu menangis lebih keras.
Tidak terjadi karena kamu berkorban lebih banyak.
Tidak terjadi karena kamu mencintai lebih dalam.
Perubahan terjadi ketika seseorang merasa perlu berubah.
Kalau kesadaran itu belum muncul, sekeras apa pun usaha orang lain biasanya hanya menghasilkan kelelahan.
Wah, Jadi Harus Menyerah Dong?
Eits, kamu jangan buru buru mengambil kesimpulan.
Bukan berarti harapan tidak ada.
Justru banyak orang berkembang menjadi pribadi yang lebih sehat ketika mereka mulai menyadari dampak perilakunya terhadap orang-orang yang di cintai.
Ada yang berubah setelah kehilangan hubungan penting.
Terus Ada yang berubah setelah menjalani terapi.
Ada yang berubah setelah akhirnya mau mendengarkan sudut pandang orang lain.
Perubahan itu mungkin terjadi.
Sangat mungkin.
Tetapi perubahan terbaik selalu datang dari dalam diri, bukan dari paksaan luar.
Buat Kamu, Jangan Lupa Menjaga Diri Sendiri
Sebelum artikel ini berakhir, ada satu hal yang ingin aku titipkan.
Saat menghadapi pasangan dengan kecenderungan NPD, jangan sampai seluruh perhatianmu hanya tertuju pada proses mengubah dirinya.
Tanyakan juga pada dirimu:
“Kapan terakhir kali aku merasa tenang?”
Lalu “Kapan terakhir kali aku merasa dihargai?”
“Kapan terakhir kali aku merasa di dengarkan?”
Karena hubungan yang sehat bukan hanya tentang pasangan yang bertumbuh.
Kamu juga berhak bertumbuh.
Dan Kamu juga berhak di hargai.
So, Kamu juga berhak merasa aman.
Nah sahabat, jika ada satu kalimat yang perlu kamu ingat dari seluruh pembahasan ini, mungkin kalimatnya sederhana saja yakni:
Kamu boleh mencintai seseorang dengan sepenuh hati, tetapi jangan sampai kehilangan dirimu sendiri dalam prosesnya.
Dan lho, percaya deh, ketika kamu mulai menghargai dirimu sendiri, sering kali arah hubungan menjadi jauh lebih jelas daripada sebelumnya.
Semoga pembahasan kali ini bermanfaat untuk kamu ya!
