Beberapa hari lalu mimin menemukan sebuah video pada akun Instagram yang menyatakan kelalaiannya membuat anaknya menjadi autis. Dalam video pendek tersebut sang ibu menjabarkan jika pola asuh menyebabkan autisme pada anak. Bahkan dalam video tersebut ia juga menyatakan jika terapis anaknya mengiyakan pola asuh dirinya yang salah menyebabkan kerugian yang fatal. Lantas, benarkah?
Bisakah Kesalahan Pola Asuh Menyebabkan Autisme Pada Anak?
Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan saraf. Biasanya terlihat oleh kesulitan interaksi sosial, komunikasi, dan adanya perilaku atau minat yang terbatas bahkan berulang. Masyarakat seringkali salah memahami penyebab autisme, dan salah satu mitos yang beredar adalah bahwa pola asuh orang tua.
Seperti gaya pengasuhan yang “tegas”, “lembut”, atau “kurang stimulasi” dapat menjadi penyebab autisme. Hal ini juga muncul pada video instagram yang sudah dapat jutaan penonton. Kabarnya karena anaknya sering nonton gadget makanya anaknya jadi autis. Padahal, ada beberapa faktor terkait autis, seperti:
1. Pola Asuh Tidak Menyebabkan Autisme
Bukti ilmiah mutakhir dari studi neuropsikiatri dan epidemiologi menegaskan bahwa pola asuh orang tua bukan penyebab autisme. Autism Spectrum Disorder adalah kondisi neurodevelopmental yang prosesnya sudah terjadi selama perkembangan otak janin dan masa awal kehidupan, jauh sebelum pola asuh berperan secara signifikan.
2. Penyebab Autisme Berdasarkan Penelitian Ilmiah
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penyebab autisme bersifat multifaktorial, berasal dari interaksi kompleks antara faktor genetik dan lingkungan biologis selama kehamilan atau periode awal kehidupan. Faktor-faktor yang dianggap berkontribusi antara lain:
- Predisposisi Genetik: Penelitian menunjukkan bahwa komponen genetik memiliki peran dominan dalam autisme. Sekitar sebagian besar kasus autisme dapat mengacu pada variasi genetik yang berasal dari orang tua atau mutasi gen terkait perkembangan otak.
- Faktor Prenatal Lingkungan: Ada bukti yang menunjukkan bahwa kondisi kesehatan ibu selama kehamilan, termasuk diabetes gestasional atau infeksi tertentu, dapat berhubungan dengan risiko gangguan perkembangan otak pada anak.
- Interaksi Gen–Lingkungan: Etiologi autisme melibatkan interaksi antara genetika dan faktor lingkungan, tetapi bukti menunjukkan bahwa pola asuh pascapersalinan bukan termasuk faktor penyebab utama.
Dengan kata lain, autisme lebih merupakan kondisi neurobiologis yang terkait dengan struktur dan fungsi otak, bukan hasil dari perilaku pengasuhan orang tua.
Sejauh Apa Peran Pola Asuh?
Walaupun pola asuh tidak menjadi penyebab terjadinya autisme. Namun penelitian menunjukkan bahwa pola asuh tetap memiliki peran penting terhadap perkembangan kemampuan adaptif dan kualitas hidup anak autis:
- Interaksi Sosial dan Kemampuan Self-Care: Pola asuh yang responsif dan komunikatif terbukti berkorelasi dengan interaksi sosial anak autis dan keterampilan self-care mereka.
- Perilaku dan Kejadian Tantangan Perilaku: Cara orang tua berinteraksi dapat memoderasi perilaku menantang pada anak. Terutama bila dikombinasikan dengan strategi intervensi berbasis bukti seperti parent-mediated interventions.
- Dukungan Perkembangan: Pola asuh yang konsisten dan adaptif membantu memperkuat pendekatan intervensi dini seperti terapi perilaku, komunikasi, dan keterampilan sosial yang efektif untuk anak ASD.
Dengan demikian, sementara pola asuh tidak menyebabkan autisme. Sebaliknya kualitas pengasuhan tetap berperan signifikan dalam optimasi perkembangan anak dengan ASD. Jadi, bisa kita simpulkan jika pernyataan pola asuh menyebabkan autisme pada anak adalah hoax yang belum terbukti.
