Sering kah kamu membuka ponsel cuma karena ingin melihat satu notifikasi, lalu tiba tiba sudah 40 menit berlalu? Niat awalnya hanya sebentar, tetapi jempol ternyata punya agenda sendiri. Nah, kebiasaan scroll seperti ini sering terasa begitu biasa sampai kita lupa bahwa otak juga sedang belajar dari apa yang terus menerus kita lakukan.
Bayangkan sekarang kamu berhenti scroll media sosial selama tujuh hari. Bukan berarti hidup tanpa ponsel sama sekali, lho. Kamu tetap boleh menggunakannya untuk bekerja, berkomunikasi, mencari informasi, atau keperluan penting. Yang di hentikan adalah kebiasaan membuka konten tanpa tujuan dan terus menggulir hanya karena penasaran.
Wah, apakah tujuh hari cukup untuk membuat hidup berubah drastis?
Belum tentu. Namun, justru perubahan kecil selama seminggu itu yang menarik untuk diamati.
Hari Pertama, Jempolmu Bisa Terasa Lebih Sibuk dari Biasanya
Hari pertama mungkin bukan soal merasa lebih produktif. Malah sebaliknya, kamu bisa merasa agak aneh.
Saat sedang menunggu makanan, biasanya tangan otomatis mengambil ponsel. Ketika duduk sebentar, keinginan membuka media sosial muncul lagi. Bahkan setelah menyelesaikan satu pekerjaan, ada dorongan kecil untuk mencari hiburan.
Di sinilah kamu mulai menyadari sesuatu. Ternyata sebagian aktivitas scrolling bukan muncul karena kamu benar-benar ingin melihat sesuatu, tetapi karena otak sudah menghubungkan momen kosong dengan ponsel.
Begitu kebiasaan itu di hentikan, ruang kosong tersebut terasa lebih jelas.
Kamu mungkin akhirnya melihat langit dari jendela, memperhatikan suara di sekitar, atau sekadar duduk tanpa melakukan apa-apa. Kedengarannya sepele, sih. Namun kemampuan merasa nyaman ketika tidak sedang diberi rangsangan terus menerus adalah sesuatu yang menarik untuk di latih.
Hari Kedua dan Ketiga, Bosan Mulai Punya Wajah
Banyak orang mengira kebosanan harus segera di hilangkan.
Padahal, selama ini mungkin kita terlalu cepat melarikan diri dari rasa bosan. Baru menunggu dua menit, scroll. Sedang antre, scroll. Sebelum tidur, scroll. Bahkan ketika ngobrol dengan seseorang, tangan kadang masih mencari layar.
Ketika kebiasaan itu di hentikan, rasa bosan menjadi lebih terasa.
Nah, bagian ini justru menarik.
Dari rasa bosan tersebut, ide lain bisa muncul. Kamu mungkin tiba tiba ingin merapikan meja, membaca beberapa halaman buku, memasak sesuatu, berjalan sebentar, atau menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya terus di tunda.
Bukan karena tiba tiba kamu berubah menjadi manusia super produktif. Kamu hanya kehilangan satu jalan pintas untuk mengusir rasa tidak nyaman.
Hari Keempat, Kamu Mulai Tahu Betapa Seringnya Kamu Terdistraksi
Setelah beberapa hari, kemungkinan yang paling terasa bukan jumlah pekerjaan yang selesai, melainkan kesadaran tentang betapa sering perhatianmu berpindah.
Mengerjakan sesuatu selama 20 menit tanpa membuka media sosial bisa terasa berbeda. Bukan karena tugasnya mendadak menjadi menyenangkan, tetapi karena tidak ada puluhan informasi baru yang masuk setiap beberapa detik.
Coba perhatikan juga saat membaca.
Satu paragraf yang biasanya dilewati mungkin sekarang benar benar di baca. Video panjang yang sebelumnya terasa membosankan bisa mulai lebih mudah diikuti. Percakapan dengan orang lain pun terasa sedikit berbeda karena perhatian tidak terus-menerus menunggu notifikasi.
Wah, ternyata fokus bukan selalu soal memaksa diri bekerja lebih keras. Kadang masalahnya adalah terlalu banyak hal yang meminta perhatian secara bersamaan.
Hari Kelima, Hiburan Mulai Terasa Lebih Dipilih
Ada perbedaan antara mencari hiburan dan menerima hiburan secara otomatis.
Saat scrolling tanpa tujuan, kamu sebenarnya tidak selalu memilih apa yang ingin dilihat. Satu video membawa ke video berikutnya. Konten yang menarik muncul, lalu konten lain menyusul. Akhirnya, waktu berjalan tanpa terasa.
Setelah beberapa hari berhenti, kamu mungkin mulai memilih hiburan dengan lebih sadar.
Mau nonton film? Ya, pilih filmnya.
Mau membaca? Ambil bukunya.
Mau mendengarkan musik? Pilih playlist.
Perbedaannya memang kecil, tetapi ada satu hal penting di sana: kamu kembali menjadi orang yang menentukan aktivitas, bukan sekadar mengikuti apa yang muncul di layar.
Hari Keenam, Waktu Luang Tidak Lagi Terasa Harus Diisi
Ini salah satu perubahan yang cukup menarik.
Sebelumnya, lima menit kosong mungkin terasa seperti kesempatan untuk membuka media sosial. Setelah hampir seminggu, waktu kosong bisa terasa sebagai waktu milik sendiri.
Kamu mungkin duduk sambil minum kopi tanpa membuka ponsel. Bisa juga berjalan sebentar tanpa merasa harus mendokumentasikan semuanya. Bahkan menunggu seseorang datang tidak lagi terasa seperti situasi yang harus segera diisi.
Nah, kemampuan menikmati jeda seperti ini sebenarnya bisa membuat hari terasa lebih panjang.
Bukan karena waktu bertambah, tentu saja. Kamu hanya mulai mengalami waktu tanpa memecahnya menjadi puluhan potongan kecil.
Hari Ketujuh, Kamu Mungkin Tidak Ingin Kembali Seperti Semula
Setelah tujuh hari, jangan berharap tiba-tiba kamu tidak tertarik lagi pada media sosial. Itu bukan tujuan utamanya.
Yang mungkin berubah justru hubunganmu dengan kebiasaan scrolling.
Kamu mulai tahu kapan benar-benar ingin membuka media sosial dan kapan hanya melakukannya karena refleks. Kamu juga bisa lebih mudah menyadari bahwa satu jam scrolling ternyata tidak selalu memberikan rasa puas yang sebanding dengan waktunya.
Menariknya lagi, kamu mungkin menemukan bahwa tidak semua hal perlu di ketahui saat itu juga.
Tidak harus tahu apa yang sedang dilakukan semua orang. Lalu Tidak harus mengikuti setiap tren. Tidak harus melihat semua video yang lewat.
Ada informasi yang boleh dilewatkan, lho.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Terjadi Setelah 7 Hari?
Berhenti scroll selama tujuh hari bukan detoks ajaib yang otomatis membuat hidup lebih baik. Tubuh dan otak manusia tidak bekerja sesederhana itu.
Namun, eksperimen kecil ini bisa menjadi cara untuk melihat hubunganmu dengan teknologi secara lebih jujur.
Mungkin kamu menemukan bahwa masalahnya bukan media sosial. Masalahnya adalah kebiasaan membuka sesuatu setiap kali muncul sedikit rasa bosan.
Mungkin pula kamu menyadari bahwa selama ini kamu bukan kekurangan waktu, tetapi terlalu sering kehilangan potongan perhatian.
Dan bisa jadi, setelah tujuh hari, kamu tetap kembali scrolling. Tidak apa-apa.
Bedanya, kali ini kamu mungkin lebih sadar kapan jempol bergerak karena memang ingin dan kapan ia bergerak hanya karena sudah terbiasa.
Nah, kalau kamu penasaran, coba saja selama tujuh hari. Tidak perlu menghilangkan ponsel dari hidupmu. Cukup hentikan scrolling tanpa tujuan.
Siapa tahu, setelah seminggu, hal yang paling mengejutkan bukan betapa sedikitnya konten yang kamu lihat, melainkan betapa banyak hal kecil dalam hidup yang ternyata selama ini kamu lewatkan.
