Belajar di rumah sering kali terdengar sederhana. Tinggal duduk, buka buku, lalu mulai mengerjakan tugas. Kenyataannya, kamu mungkin pernah mengalami sendiri: baru lima menit belajar, anak sudah bilang bosan. Belum lagi pensil hilang, tiba tiba ingin minum, lalu menemukan mainan yang rasanya jauh lebih menarik daripada buku pelajaran.
Wah, kalau sudah begini, masalahnya belum tentu karena anak malas belajar lho. Bisa jadi cara belajarnya terlalu mudah ditebak. Setiap hari polanya sama, sementara anak sebenarnya membutuhkan pengalaman yang sedikit berbeda agar otaknya merasa penasaran.
Nah, di sinilah tips belajar anak di rumah perlu dibuat lebih manusiawi. Bukan menambah durasi belajar, tetapi mengubah cara anak memandang kegiatan tersebut.
Jangan Selalu Memulai Belajar dari Buku
Buku memang penting, tetapi tidak semua kegiatan belajar harus diawali dengan membuka halaman buku. Sesekali, kamu bisa memulai dari benda yang ada di sekitar rumah.
Misalnya, saat belajar berhitung, ajak anak menghitung sendok di dapur. Ketika mengenalkan warna, biarkan dia mencari benda berwarna merah, kuning, atau biru di dalam rumah. Kalau sedang belajar bahasa, kamu bisa meminta anak menceritakan apa yang baru saja dia lihat.
Cara seperti ini kelihatannya sederhana, tetapi justru membuat pelajaran terasa dekat dengan kehidupan sehari hari. Anak tidak merasa sedang menghafalkan sesuatu yang jauh dari dunianya.
Coba saja, kamu akan melihat bahwa satu benda di rumah ternyata bisa menjadi bahan belajar yang panjang.
Buat Anak Merasa Punya Pilihan
“Sekarang waktunya belajar.”
Kalimat itu sebenarnya biasa saja, tetapi bagi sebagian anak bisa terdengar seperti tanda bahwa waktu bermain sudah selesai. Nah, kamu bisa mengubah sedikit cara menyampaikannya.
Misalnya, “Hari ini kamu mau mulai dari menggambar atau berhitung?”
Keduanya tetap belajar, hanya anak diberi kesempatan memilih urutannya. Hal kecil seperti ini membuat anak merasa mempunyai kendali terhadap kegiatan yang sedang dilakukan.
Bukan berarti semua keputusan diserahkan kepada anak, ya. Kamu tetap menentukan batas dan tujuan belajarnya. Anak hanya diberi ruang untuk memilih cara memulainya.
Aneh tapi nyata, kadang anak lebih mudah diajak belajar ketika merasa ikut mengambil keputusan.
Gunakan Waktu Pendek, Tetapi Benar Benar Fokus
Belajar lama belum tentu menghasilkan pemahaman yang lebih banyak. Apalagi untuk anak yang masih kecil. Duduk selama satu jam dengan pikiran melayang ke mana mana tentu berbeda dengan belajar 20 menit tetapi benar benar terlibat.
Kamu bisa membuat sesi belajar menjadi beberapa bagian pendek. Setelah satu aktivitas selesai, berikan jeda untuk bergerak, minum, bermain sebentar, atau sekadar mengobrol.
Untuk anak usia dini, bahkan kegiatan lima sampai lima belas menit bisa menjadi sangat berarti jika dilakukan dengan perhatian penuh.
Yang sering terlupakan, konsentrasi anak bukan mesin yang bisa dinyalakan terus menerus. Ada waktunya penuh, ada waktunya turun. Jadi, jangan buru buru menyimpulkan anak tidak mau belajar hanya karena dia mulai kehilangan fokus lho.
Sesekali Belajar dengan Cara yang Agak Konyol
Nah, bagian ini justru sering berhasil.
Kalau anak harus menghafalkan sesuatu, kenapa tidak menggunakan suara yang aneh? Kalau sedang belajar membaca, coba kamu membaca satu kalimat dengan gaya robot, kemudian biarkan anak menirukannya.
Sedang belajar matematika? Gunakan biskuit sebagai alat berhitung. Belajar tentang tumbuhan? Ajak anak melihat tanaman sungguhan daripada hanya menunjukkan gambar di buku.
Wah, cara seperti ini mungkin terlihat tidak serius. Justru itu kelebihannya. Anak mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda sehingga materi lebih mudah menempel dalam ingatan.
Belajar tidak harus selalu duduk manis dengan wajah serius, kok.
Jangan Terlalu Cepat Membetulkan Kesalahan
Ketika anak menjawab salah, reaksi pertama orang dewasa biasanya ingin langsung membetulkan.
“Bukan begitu.”
Padahal, kesalahan bisa menjadi pintu masuk untuk percakapan yang jauh lebih menarik.
Daripada langsung mengatakan jawabannya salah, kamu bisa bertanya, “Kenapa kamu memilih jawaban itu?”
Dari sana kamu bisa mengetahui cara berpikir anak. Bisa saja jawabannya salah, tetapi alasannya justru menunjukkan bahwa dia sedang mencoba memahami sesuatu.
Kemampuan berpikir tidak tumbuh hanya dari jawaban yang benar. Anak juga perlu belajar bahwa salah bukan berarti gagal. Ada proses mencari tahu yang harus dilewati.
Jadi, kalau hari ini jawabannya belum tepat, tidak apa apa. Kamu bisa membantunya menemukan letak kelirunya tanpa membuatnya merasa bodoh.
Hubungkan Pelajaran dengan Hal yang Anak Sukai
Setiap anak biasanya punya sesuatu yang membuat matanya lebih berbinar. Ada yang suka kendaraan, hewan, menggambar, memasak, bermain peran, atau bahkan berjualan jualan kecil kecilan.
Nah, minat tersebut bisa menjadi pintu masuk untuk belajar.
Anak yang suka mobil bisa diajak berhitung menggunakan miniatur mobil. Yang senang menggambar bisa belajar mengenal bentuk melalui gambar. Sementara anak yang suka bermain toko tokoan bisa belajar angka, uang, komunikasi, bahkan konsep sederhana tentang jual beli.
Materinya tetap sama. Jalan masuknya yang berbeda.
Inilah salah satu tips belajar anak di rumah yang sering lebih efektif daripada memaksa anak mengikuti satu pola belajar untuk semua keadaan.
Berhenti Mengukur Belajar Hanya dari Hasil
Nilai bagus memang menyenangkan. Tetapi ada perkembangan lain yang kadang tidak masuk ke lembar penilaian.
Anak yang awalnya tidak berani membaca kemudian mencoba mengeja. Lalu Anak yang selalu meminta bantuan mulai mau mengerjakan sendiri. Anak yang mudah menyerah akhirnya berkata, “Aku coba lagi.”
Bukankah itu juga kemajuan?
Karena itu, ketika menemani anak belajar di rumah, perhatikan proses kecil yang sering luput dari perhatian. Puji usahanya, bukan hanya hasil akhirnya.
Kamu bisa mengatakan, “Tadi kamu sempat kesulitan, tapi akhirnya kamu coba lagi. Wah, keren.”
Kalimat sederhana seperti itu bisa membuat anak memahami bahwa kemampuan bukan sesuatu yang langsung muncul dalam sekali mencoba.
Rumah Tidak Harus Berubah Menjadi Ruang Kelas
Pada akhirnya, belajar di rumah tidak harus membuat suasana rumah berubah menjadi sekolah kedua.
Meja belajar yang rapi memang bagus. Jadwal belajar juga membantu. Namun, suasana hangat jauh lebih penting ketika anak sedang membangun kebiasaan belajar.
Kadang belajar bisa berlangsung di ruang tamu. Besok mungkin di teras. Lusa sambil mengamati tanaman. Bahkan percakapan saat makan malam pun bisa menjadi kesempatan untuk mengajarkan sesuatu.
Yang terpenting, anak mulai memahami bahwa belajar bukan kegiatan yang hanya terjadi ketika buku dibuka.
Belajar bisa muncul ketika ia bertanya, mencoba, gagal, memperbaiki, lalu menemukan jawabannya sendiri.
Jadi, kalau kamu sedang mencari tips belajar anak di rumah, jangan buru buru mencari cara agar anak duduk lebih lama. Cobalah mencari cara supaya anak lebih penasaran.
Sebab ketika rasa ingin tahu sudah muncul, kamu tidak perlu terlalu sering menyuruhnya belajar. Anak justru mulai datang sendiri dan bertanya, “Kalau yang ini kenapa, sih?”
Nah, pertanyaan kecil seperti itulah yang sebenarnya sedang membuka pintu belajar lebih lebar lho!
