Skincare Apa yang Digunakan Orang pada Zaman Dahulu?

Ternyata Dapur Mereka Sudah Jadi “Meja Skincare”
“Hayo, pernah kepikiran nggak sih…”
Kalau sekarang meja rias di penuhi serum, toner, essence, pelembap, sampai sunscreen, kira-kira orang zaman dahulu merawat wajah pakai apa, ya?
Soalnya kalau di pikir pikir, dulu belum ada toko skincare di mana mana. Belum ada influencer yang membahas kandungan niacinamide atau retinol. Bahkan, istilah skincare saja mungkin terdengar asing.
Lho, tapi kenapa di foto foto lama banyak perempuan yang kulitnya tetap terlihat sehat?
Apa mereka memang tidak merawat wajah?
Eits… jangan buru buru menyimpulkan begitu.
Sebenarnya, orang zaman dahulu juga punya “skincare”. Bedanya, mereka tidak membelinya di toko kosmetik. Mereka menemukannya di dapur, kebun, atau halaman rumah.
Nah, justru di situlah letak menariknya.

Sebelum Ada Serum, Air Cucian Beras Sudah Lebih Dulu Di pakai

Coba deh tanya nenekmu.
Boleh jadi beliau pernah menggunakan air bekas mencuci beras untuk membilas wajah.
Hayo, kamu mungkin langsung berpikir, “Memangnya bisa?”
Wah, ternyata kebiasaan ini bukan cuma ada di Indonesia, lho. Di beberapa negara Asia, air cucian beras sudah lama dimanfaatkan sebagai bagian dari perawatan kulit karena mengandung pati, vitamin, dan mineral alami yang di percaya membantu menjaga kelembapan kulit.
Bagi masyarakat dulu, ini bukan tren.
Mereka melakukannya karena memang itulah yang tersedia di rumah setiap hari.
Lucunya, sekarang konsep serupa kembali hadir dalam berbagai produk skincare modern dengan nama yang terdengar lebih mewah.

Bengkuang Bukan Cuma Enak Dimakan

Nah, siapa yang waktu kecil pernah melihat ibu atau nenek memarut bengkuang?
Kalau dulu kamu mengira itu hanya untuk membuat rujak, ternyata belum tentu.
Bengkuang sudah lama di kenal sebagai salah satu bahan alami untuk membantu menyegarkan kulit.
Biasanya di parut, di peras, lalu sari patinya di diamkan sebelum di gunakan.
Lho, terdengar sederhana, ya?
Memang.
Karena pada masa itu, orang memanfaatkan apa yang mudah di temukan di sekitar rumah, bukan yang paling mahal.

Lidah Buaya Sudah Populer Jauh Sebelum Viral

Sekarang lidah buaya sering muncul dalam berbagai produk skincare.
Padahal tanaman ini sudah di gunakan sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu.
Kalau ada tanaman lidah buaya di halaman, cukup potong daunnya, ambil gel bening di bagian dalam, lalu di gunakan sesuai kebutuhan.
Eh, tapi jangan asal pakai juga, ya.
Bagian getah kuningnya perlu di bersihkan karena pada sebagian orang bisa memicu iritasi.
Nah, menariknya, dulu orang mengenal manfaat lidah buaya dari pengalaman turun-temurun, bukan dari video media sosial.

Minyak Kelapa, “Multitasking” Versi Zaman Dahulu

Kalau sekarang kamu mengenal cleansing balm atau face oil, orang zaman dahulu punya minyak kelapa.
Minyak ini tidak hanya di gunakan untuk memasak.
Banyak keluarga juga memanfaatkannya untuk rambut, kulit, bahkan bibir yang kering.
Wah, satu bahan bisa punya banyak fungsi.
Mungkin kemasannya memang tidak secantik produk modern.
Tapi manfaatnya membuat minyak kelapa tetap bertahan hingga sekarang.
Lulur Bukan Sekadar Tradisi Menjelang Pernikahan
Hayo, siapa yang mengira lulur hanya dipakai calon pengantin?
Padahal, di berbagai daerah Indonesia, lulur sudah menjadi bagian dari perawatan tubuh sejak lama.
Bahannya pun beragam.
Ada yang menggunakan beras.
Juga Ada yang mencampurkan kunyit.
Ada pula yang memakai rempah-rempah tertentu sesuai tradisi daerah masing-masing.
Yang menarik, lulur dulu bukan tentang mengejar kulit putih.
Tujuannya lebih sederhana.
Membersihkan tubuh setelah seharian beraktivitas dan menjaga kulit tetap terasa nyaman.

Daun Sirih Pernah Menjadi Andalan

Nah, ini mungkin mulai jarang di temui.
Daun sirih dikenal luas dalam berbagai tradisi perawatan karena di percaya memiliki sifat antibakteri alami.
Air rebusannya sering di manfaatkan untuk membersihkan bagian tubuh tertentu sesuai kebutuhan.
Meskipun sekarang sudah banyak produk modern dengan fungsi serupa, daun sirih tetap menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat dahulu memanfaatkan tanaman di sekitar mereka.

Wah, Ternyata Tidak Ada Rutinitas Sepuluh Langkah

Kalau melihat rutinitas skincare sekarang, kadang satu orang bisa memakai delapan sampai sepuluh produk dalam sekali pemakaian.
Coba bandingkan dengan dulu.
Rutinitas mereka jauh lebih sederhana.
Membersihkan wajah.
Menggunakan bahan alami yang tersedia.
Lalu menjalani aktivitas seperti biasa.
Bukan karena mereka tidak peduli pada kulit.
Melainkan karena pilihan produknya memang belum sebanyak sekarang.

Rahasia Mereka Bukan Hanya Skincare

Eh, sebentar.
Kalau kamu berpikir semua rahasianya hanya ada pada bengkuang atau air cucian beras, jawabannya belum lengkap.
Orang zaman dahulu juga punya kebiasaan yang mendukung kesehatan kulit.
Mereka lebih banyak berjalan kaki.
Lebih jarang begadang.
Lalu Lebih sedikit mengonsumsi makanan olahan.
Lebih sering makan hasil kebun sendiri.
Nah, semua kebiasaan itu ikut membantu menjaga kondisi kulit.
Jadi, “skincare” mereka sebenarnya tidak hanya berasal dari apa yang di oleskan ke wajah, tetapi juga dari cara mereka menjalani hidup.

Jadi, Apakah Kita Harus Meninggalkan Skincare Modern?

Hayo, pertanyaan ini pasti sempat muncul di kepalamu.
Jawabannya tentu tidak.
Kulit kita hidup di zaman yang berbeda.
Polusi lebih tinggi.
Paparan sinar matahari lebih intens karena aktivitas di luar ruangan.
Debu, asap kendaraan, hingga stres juga menjadi tantangan yang tidak sama dengan masa lalu.
Karena itu, skincare modern tetap punya peran penting.
Yang bisa kita pelajari dari orang zaman dahulu bukan berarti kembali meninggalkan semua produk perawatan wajah. Justru pelajarannya adalah mereka tidak bergantung pada satu produk saja untuk mendapatkan kulit yang sehat.
Mereka menjaga pola makan.
Tidur lebih teratur.
Memanfaatkan bahan alami yang tersedia.
Dan yang paling menarik, mereka merawat kulit dengan sabar, bukan karena sedang mengikuti tren.
Nah, mungkin itu yang sering terlupakan sekarang. Kita terlalu sibuk mencari skincare terbaru, sampai lupa bahwa kulit juga membutuhkan istirahat, makanan bergizi, dan gaya hidup yang baik. Jadi, kalau ada yang bertanya skincare apa yang di gunakan orang pada zaman dahulu, jawabannya bukan hanya bengkuang, lidah buaya, atau air cucian beras. Rahasia terbesar mereka justru ada pada kebiasaan hidup yang sederhana, konsisten, dan bersahabat dengan tubuh. Percaya deh, pelajaran itu masih sangat relevan sampai hari ini Lo!