Dalam dunia pengobatan, ada satu jenis obat yang sangat sakti. Karena bisa menyembuhkan banyak jenis penyakit. Hanya satu obat saja! Tidak heran jika banyak yang mulai menggunakan obat ini tanpa ada resep dokter. Padahal, ada banyak sekali bahaya cetirizine yakni obat dewa yang konon ampuh mengatasi berbagai keluhan tersebut. Lantas, apa saja bahayanya?
Sekilas Tentang Cetirizine
Cetirizine adalah obat antihistamin yang umum terpakai untuk meredakan gejala alergi, seperti bersin, hidung meler, mata merah-gatal, hidung gatal, serta biduran (urtikaria). Obat ini bekerja dengan memblokir zat histamin yang keluar oleh tubuh saat reaksi alergi. Cetirizine termasuk antihistamin generasi kedua yang sering kita kenal dengan istilah “non-mengantuk”. Artinya cenderung menyebabkan kantuk lebih ringan jika kita bandingkan dengan antihistamin generasi pertama seperti chlorpheniramine (CTM).
Meski begitu, obat ini tetap dapat membuat mengantuk pada beberapa orang. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet atau sirup, biasa terjual bebas maupun dengan resep. Dapat kita pakai sesuai anjuran pada orang dewasa maupun anak-anak. Bahkan telah menjadi rekomendasi untuk bayi usia ≥6 bulan pada kasus urtikaria kronis.
Lantas Apa Efek Samping Umum dan Bahaya Citirizine?
Secara umum ini adalah obat yang aman dan bisa kita gunakan dengan baik. Kebanyakan efek samping yang muncul bersifat ringan dan bisa hilang sendiri. Beberapa efek samping ringan yang paling umum meliputi rasa kantuk atau lelah, pusing, mulut kering, sakit tenggorokan, serta kadang sakit kepala (terutama pada anak-anak). Selain itu, bisa juga muncul keluhan nyeri perut, mual, atau diare ringan pada sebagian orang. Efek-efek ini biasanya tidak berbahaya. Bila mengalaminya, cukup awasi apakah mengganggu. Anda dapat minum air putih lebih banyak untuk mengatasi mulut kering, atau mengonsumsi obat setelah makan bila merasa mual.
Walaupun jarang, ada beberapa efek samping berat yang perlu kita waspadai. Reaksi alergi serius terhadap cetirizine bisa terjadi, meskipun kemungkinannya sangat rendah. Gejalanya meliputi ruam gatal yang menyebar, sesak napas, sulit menelan, pembengkakan di wajah, bibir, atau lidah, hingga syok anafilaktik. Kondisi tersebut adalah keadaan gawat darurat yang memerlukan penanganan medis segera.
Selain reaksi alergi, antihistamin seperti cetirizine pada kasus langka dapat memengaruhi sistem organ lain. Misalnya, ada laporan efek pada sistem saraf seperti perubahan mood atau perilaku (misalnya gelisah, mudah marah). Bahkan menyebabkan halusinasi atau perilaku agresif pada kasus tertentu. Efek ini sangat jarang dan umumnya terjadi pada dosis tinggi atau pada individu yang sensitif. Juga berdampak pada jantung dan tekanan darah, misalnya memicu jantung berdebar cepat atau radang pada selaput jantung (perikarditis).
Serta dapat menyebabkan gangguan fungsi hati (terlihat dari peningkatan enzim hati) pada segelintir kasus. Walau efek-efek tersebut jarang sekali terjadi, penting untuk mengenali tandanya. Hentikan pemakaian dan temui dokter jika Anda mengalami gejala seperti nyeri dada, detak jantung tidak beraturan, tubuh terasa sangat lemas, kulit atau mata menguning, atau perubahan mental yang drastis.
Siapa Saja Kelompok Rentan yang Perlu Berhati-hati?
Beberapa kelompok orang lebih rentan terhadap efek samping cetirizine atau memerlukan perhatian khusus, seperti:
Anak-anak: Obat ini sering menjadi pilihan untuk anak karena efektif mengatasi alergi dan relatif aman bila dosisnya tepat. Efek samping pada anak mirip dengan dewasa, umumnya ringan seperti mengantuk atau lelah. Namun, anak-anak ternyata lebih sering mengalami sakit kepala akibat cetirizine.
Lansia: Orang berusia lanjut bisa lebih peka terhadap efek sedatif obat. Rasa kantuk atau pusing akibat cetirizine pada lansia dapat meningkatkan risiko terjatuh. Selain itu, lansia sering memiliki kondisi medis penyerta, dapat memperburuk retensi urin pada pria dengan pembesaran prostat atau memperparah glaukoma (tekanan bola mata tinggi). Oleh sebab itu, lansia dengan kondisi tersebut sebaiknya menghindari penggunaan antihistamin tanpa konsultasi dokter.
Ibu Hamil: Bagi wanita hamil, cetirizine umumnya dianggap cukup aman jika benar-benar perlu. Data penelitian hingga saat ini tidak menunjukkan peningkatan risiko cacat lahir atau komplikasi kehamilan akibat antihistamin ini. Meskipun begitu, prinsip kehati-hatian tetap diutamakan, selalu konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi obat ini selama kehamilan.
Ibu Menyusui: antihistamin ini juga relatif aman untuk ibu menyusui. Hanya sedikit sekali obat yang masuk ke dalam ASI, dan obat ini telah dipakai oleh banyak ibu menyusui selama bertahun-tahun tanpa efek buruk pada bayi. Kalaupun ada, efek pada bayi biasanya ringan (misal bayi sedikit mengantuk). Namun, tetap amati kondisi bayi.
Cetirizine sebenarnya obat anti-alergi yang efektif dan relatif aman, tetapi seperti obat lainnya, tetap memiliki potensi efek samping. Namun, penting bagi pengguna untuk memahami kemungkinan bahaya yang ada. Jadi jangan sembarangan ya! Tetap butuh resep dokter.
