Cara Seru Mengenalkan Bahasa Inggris pada Anak Sejak Dini

Bahasa Inggris untuk anak tidak musti di mulai dari buku.
Tidak harus, “Ayo, hafalkan 10 kosakata hari ini.”
Nah, justru di rumah, bahasa Inggris bisa tumbuh dengan cara yang jauh lebih sederhana. Dari kalimat yang terdengar sepele. Dan Dari percakapan saat sarapan. Dari mainan yang berserakan. Bahkan dari pertanyaan anak yang kadang muncul di waktu yang tidak terduga.
“Mom, what’s this?”
Wah, jangan lewatkan momen seperti itu.
Satu pertanyaan kecil bisa menjadi pintu masuk untuk mengenalkan bahasa Inggris kepada anak sejak dini.

Bukan “Mengajar”, tetapi Membiasakan



Ada satu hal yang sering keliru ketika orang tua mulai mengenalkan bahasa Inggris kepada anak. Kita terlalu sibuk mencari metode belajar, sampai lupa bahwa anak sebenarnya lebih cepat menangkap sesuatu yang sering mereka dengar.
Karena itu, daripada setiap hari berkata, “Hari ini kita belajar bahasa Inggris, ya,” cobalah memasukkan bahasa Inggris ke dalam aktivitas yang memang sudah dilakukan anak.
Bangun tidur?
“Good morning!”
Mau mandi?
“Let’s take a shower.”
Sudah lapar?
“Are you hungry?”
Mau mengambil mainan?
“Take your toy.”
Sederhana sekali, kan?
Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya mudah diulang. Hari ini anak mungkin hanya mendengar. Besok mungkin mulai menirukan. Minggu depan, bisa jadi dia yang lebih dulu berkata, “Good morning!”
Nah, proses seperti inilah yang sering tidak terlihat, tetapi sebenarnya sedang membangun fondasi bahasa.

Jangan Ajarkan “Apple”, Ajarkan “I Want an Apple”

Kalau ingin mengenalkan bahasa Inggris dengan cara yang sedikit berbeda, coba ubah kebiasaan mengenalkan vocabulary.
Jangan berhenti pada satu kata.
Misalnya anak belajar kata apple.
Apple berarti apel.
Selesai?
Belum.
Naikkan satu tingkat.
“I want an apple.”
Lalu sedikit lagi.
“I want a red apple.”
Kemudian bisa berkembang menjadi:
“I want to eat a red apple.”
Lho, ternyata dari satu kata bisa menjadi beberapa tingkat kalimat.
Inilah yang membuat pembelajaran bahasa menjadi lebih bermakna. Anak tidak hanya tahu bahwa apple berarti apel, tetapi memahami bagaimana kata tersebut digunakan ketika sedang berkomunikasi.
Jadi, bukan banyak banyakan kosakata. Yang lebih penting adalah bagaimana kosakata itu hidup di dalam kalimat.

Rumah Bisa Menjadi “Laboratorium Bahasa”


Tidak perlu membuat ruang belajar khusus.
Dapur saja sudah cukup.
Saat sedang memasak, misalnya, kamu bisa mengenalkan:
“This is a spoon.”
“This is a bowl.”
“The water is hot.”
“Cut the carrot.”
Kalau sedang membereskan kamar, lain lagi ceritanya.
“Put the toys here.”
“Clean your room.”
“Where is your book?”
Anak mungkin belum bisa menjawab dengan sempurna. Tidak masalah.
Bahasa sedang masuk melalui situasi.
Dan otak anak memang menyukai sesuatu yang memiliki hubungan dengan pengalaman. Ketika mendengar “Put the toys here” sambil benar-benar memindahkan mainan, kalimat itu tidak lagi terasa seperti sekumpulan kata asing.
Ada benda. Lalu Ada tindakan. Ada makna.
Nah, di situ bahasa mulai terasa nyata.


Jangan Panik Kalau Anak Mencampur Bahasa


“Mom, aku want milk.”
Kalau anak mengatakan seperti itu, bagaimana?
Tertawa boleh.
Kaget sedikit boleh.
Tapi jangan langsung, “Salah! Harus bahasa Inggris semua.”
Campur bahasa seperti ini bisa muncul ketika anak sedang belajar menghubungkan dua sistem bahasa. Yang penting, kamu terus memberikan contoh kalimat yang benar.
Misalnya jawab:
“Oh, you want some milk?”
Anak mendapatkan model yang benar tanpa harus merasa sedang menjalani ujian grammar.
Cara ini jauh lebih nyaman.
Sebab kalau setiap kesalahan langsung dipotong dengan koreksi, anak bisa belajar satu hal yang justru tidak kita inginkan: takut salah.
Padahal dalam belajar bahasa, salah itu bagian dari perjalanan.

Grammar Bisa Masuk Diam Diam



Menariknya, kamu tidak perlu selalu menjelaskan grammar kepada anak.
Tidak harus mengatakan, “Sekarang kita belajar present tense.”
Aduh, bisa-bisa anak langsung kabur. Hehe.
Lebih baik gunakan pola kalimat berulang.
“I like apples.”
Atau “I like noodles.”
“I like ice cream.”
Setelah terbiasa, ubah menjadi pertanyaan.
“Do you like apples?”
“Do you like noodles?”
Kemudian biarkan anak mengenali pola jawabannya.
“Yes, I do.”
“No, I don’t.”
Tanpa sadar, anak sedang berkenalan dengan struktur kalimat.
Inilah yang menarik dari belajar bahasa secara alami. Grammar tidak selalu harus duduk di depan anak sambil membawa papan tulis. Kadang ia bisa masuk pelan-pelan melalui permainan dan percakapan.

Buat Anak Punya Alasan untuk Bicara


Ini yang sering lupa sih!
Anak tidak akan banyak bicara hanya karena kita berkata, “Coba ngomong bahasa Inggris.”
Mereka membutuhkan alasan.
Kalau anak ingin mendapatkan sesuatu, gunakan kesempatan itu.
Misalnya ada dua pilihan makanan.
“Do you want bread or banana?”
Biarkan anak memilih.
“Banana.”
Kemudian kamu bisa membantu memperluas jawabannya.
“I want a banana.”
Selesai.
Besok mungkin jawabannya masih satu kata. Tidak masalah.
Lusa mungkin dua kata.
Minggu berikutnya bisa jadi satu kalimat.
Nah, perkembangan bahasa memang tidak selalu terlihat seperti tangga yang naik rapi. Kadang maju, kadang diam, lalu tiba-tiba muncul kemampuan baru.

Jadikan Orang Tua Teman Bermain, Bukan Penguji



Ada perbedaan besar antara bertanya untuk menguji dan bertanya untuk bermain.
“What is this?”
Kalau nadanya seperti ujian, anak bisa merasa sedang dinilai.
Tetapi kalau kamu sedang bermain dengan boneka:
“Look! The rabbit has a hat. What color is it?”
Suasananya berubah.
Anak tidak merasa harus memberikan jawaban sempurna. Ia sedang mengikuti cerita.
Kamu juga bisa sengaja berpura-pura tidak tahu.
“Where is my shoe? Hmm… Is it under the table?”
Anak akan merasa perlu membantumu.
“Wah, di situ ternyata!”
Dari permainan sederhana itu, anak sedang mendengar pertanyaan, memahami lokasi, mengenali benda, sekaligus belajar merespons.

Tidak Perlu Menunggu Anak “Siap”



Ada orang tua yang menunggu sampai anak hafal banyak vocabulary sebelum mulai mengajaknya berbicara.
Padahal, justru percakapanlah yang membantu vocabulary berkembang.
Jadi, jangan menunggu anak bisa.
Ajak bicara agar dia belajar bisa.
Tidak perlu lama. Lima sampai sepuluh menit dalam rutinitas sehari hari pun bisa menjadi awal yang bagus jika dilakukan secara konsisten.
Hari ini mungkin hanya “Good morning”.
Besok “I want water.”
Kemudian “Where is my bag?”
Pelan pelan saja, dan Tidak perlu di paksa.
Karena target mengenalkan bahasa Inggris sejak dini bukan membuat anak terdengar seperti penutur asli secepat mungkin. Yang jauh lebih penting adalah membuat anak merasa nyaman ketika bertemu bahasa Inggris.
Tidak asing.
Juga Tidak takut.
Tidak malu ketika salah.
Dan yang paling penting, punya rasa ingin tahu.
Nah, kalau fondasi itu sudah tumbuh, kemampuan lainnya akan lebih mudah mengikuti.


mulai saja dari rumah.
Gak perlu menunggu punya banyak buku. Tidak perlu menunggu ikut kursus mahal. Tidak perlu menunggu kemampuan bahasa Inggris orang tua sempurna.
Gunakan apa yang ada.
Mainkan apa yang disukai anak.
Bicarakan apa yang sedang terjadi.
Dan biarkan bahasa Inggris menjadi bagian kecil dari kehidupan mereka.
Karena bisa jadi, kalimat bahasa Inggris pertama yang benar benar mereka ingat bukan berasal dari buku pelajaran.
Bisa jadi justru berasal dari kamu sendiri!
Dari “Good morning” yang setiap hari terdengar.
Dari “Let’s play” ketika sedang bermain.
Atau dari “I love you” sebelum mereka tidur.
Setuju gak kalau itu cara belajar bahasa yang paling hangat kan buat anak anak kita? Semoga pembahasan “Mulai dari Rumah! Cara Seru Mengenalkan Bahasa Inggris pada Anak Sejak Dini” ini bermanfaat ya!