Kenapa Balita Rentan Terpapar Timbal dan Apa Bahaya Paparan Timbal?

Hal yang meresahkan dan menjadi mimpi buruk orang tua kembali bertambah. Penelitian terbaru menyatakan jika balita di negara kita mudah terpapar timbal. Namun, apa saja bahaya paparan timbal pada balita ini? Apa saja sumber paparannya?

Sumber Paparan dan Bahaya Paparan Timbal Pada Balita

Balita (anak usia di bawah lima tahun) menghadapi risiko serius jika terpapar timbal. Yaitu logam berat beracun yang banyak terdapat pada lingkungan kita. Data survei nasional terbaru pada tahun 2025 mengungkap 1 dari 7 anak Indonesia memiliki kadar timbal dalam darah melebihi ambang batas aman. Artinya, jutaan balita Indonesia telah terekspos timbal pada level yang mengkhawatirkan. Berikut adalah sumber-sumber umum paparan timbal yang dapat mengenai balita:

Cat Rumah Lama: Cat dinding rumah yang mengandung timbal (umum pada bangunan lama) dapat mengelupas dan menghasilkan serpihan atau debu beracun. Balita yang tinggal di rumah dengan cat terkelupas terbukti memiliki risiko 61% lebih tinggi mengalami kadar timbal darah pada atas ambang batas intervensi (≥5 µg/dL). 

Debu dan Tanah Tercemar: Partikel debu dalam rumah maupun tanah pada halaman bisa mengandung timbal. Terutama jika berada dekat jalan raya (sisa emisi bensin bertimbal dahulu) atau sekitar industri/bengkel. 

Air dari Pipa Tua: Pipa air atau tangki tua yang terbuat dari logam dapat mengandung timbal. Air keran yang mengalir melalui pipa bertimbal bisa tercemar dan jika terminum terus-menerus, timbal akan terakumulasi di tubuh. 

Peralatan Masak dan Produk Rumah Tangga: Beberapa alat masak logam non-standar atau keramik berlapis glazur mengandung timbal yang dapat luruh ke makanan. Contohnya, panci atau wajan dari logam daur ulang mungkin tercemar timbal. Makanan kaleng dengan solder timbal (praktik yang kini sudah jarang) juga pernah menjadi sumber. 

Pekerjaan Orang Tua: Paparan timbal pada balita juga bisa terjadi secara tidak langsung melalui orang tua. Orang tua yang bekerja pada lingkungan berisiko tinggi misalnya bengkel, pertambangan, atau peleburan aki/baterai bekas dapat membawa pulang debu timbal di pakaian, kulit, atau rambut mereka. 

Mengapa Balita Lebih Rentan Terhadap Timbal?

Balita dan anak kecil jauh lebih rentan terhadap bahaya timbal. Perilaku balita yang suka mengeksplorasi dengan memasukkan benda atau tangan ke mulut membuat mereka lebih mudah menelan partikel timbal dari debu, tanah, atau cat. Selain itu, secara fisiologis tubuh anak menyerap timbal 4 hingga 5 kali lebih banyak. Ini berarti paparan timbal dalam jumlah kecil pun dapat menghasilkan kadar timbal yang lebih tinggi dalam darah anak. 

Otak dan sistem saraf balita yang sedang berkembang juga menjadikan mereka lebih rentan terhadap kerusakan. Paparan timbal pada usia muda dapat merusak perkembangan otak secara permanen. Bisa mengakibatkan gangguan kognitif dan perilaku yang mungkin tidak dapat dipulihkan. Anak dengan gizi buruk (misalnya kekurangan kalsium atau zat besi) cenderung menyerap timbal lebih banyak. Sehingga balita yang mengalami malnutrisi berpotensi terkena dampak timbal lebih berat.

Apa Dampaknya? 

Gejala keracunan timbal akut atau paparan dalam jangka pendek kerap tidak spesifik dan bisa mirip penyakit lain, tetapi orang tua perlu waspada. Balita yang terpapar timbal mungkin terlihat lemas, pucat, dan mudah lelah akibat timbal dapat menyebabkan anemia. Anak juga bisa mengalami penurunan nafsu makan, berat badan turun, serta nyeri perut yang kadang disertai muntah atau konstipasi (sembelit).

Dampak jangka panjang paparan timbal pada balita bersifat serius dan permanen. Timbal yang terakumulasi dalam tubuh anak dapat merusak perkembangan otak dan sistem saraf. Akibatnya, anak bisa mengalami penurunan IQ dan kesulitan belajar, gangguan konsentrasi, serta masalah perilaku seperti hiperaktivitas atau agresivitas. Paparan timbal pada masa tumbuh kembang juga berhubungan dengan keterlambatan perkembangan fisik, gangguan pendengaran, dan keterlambatan bicara pada anak.