Ada sebuah kalimat yang sudah terlalu lama beredar di masyarakat.
Kalau mau jadi peternak, siap siap kotor.
Atau Kalau mau beternak, jangan takut bau.
Kalau mau sukses di kandang, tangan harus akrab dengan lumpur.
Nah, pertanyaannya sederhana.
Siapa sih yang membuat aturan itu?
Dan yang lebih menarik lagi, siapa yang masih mempercayainya sampai hari ini?
Sebab kalau kita mau jujur, banyak gambaran tentang peternak yang beredar saat ini sebenarnya seperti foto lama yang warnanya sudah pudar. Masih ada benarnya, tetapi tidak lagi menggambarkan keadaan yang sesungguhnya.
Dunia sudah berubah! Cara orang bekerja juga berubah.
Cara orang menghasilkan uang berubah. Bahkan cara ayam makan dan sapi minum pun ikut berubah karena teknologi.
Lalu mengapa cara pandang terhadap peternak masih tertinggal di masa lalu?
Yuk, kita bongkar pelan pelan. Simak pembahasan “Kata Siapa Peternak Harus Berani Kotor?” Ini sampai selesai!
Peternak Itu Profesi, bukan hukuman
Entah sejak kapan profesi peternak sering di gambarkan seperti pekerjaan yang penuh penderitaan.
Seolah olah setiap pagi harus bergulat dengan bau.
Setiap siang harus bergelut dengan lumpur.
Setiap sore harus pulang dengan pakaian yang tidak lagi punya warna asli.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Coba pikirkan.
Kalau seorang programmer bekerja dengan komputer, orang menyebutnya profesional.
Kalau seorang arsitek bekerja dengan gambar bangunan, orang menyebutnya ahli.
Lalu ketika seorang peternak mengelola ribuan ekor ternak yang nilainya bisa mencapai miliaran rupiah, mengapa masih ada yang menganggapnya sekadar pekerjaan kasar?
Lucu juga kalau di pikir pikir.
Karena sering kali orang lebih menghormati meja kantor daripada nilai bisnis yang sebenarnya.
Bau Kandang atau Bau Uang?
Mari kita jujur sedikit.
Banyak orang takut pada bau kandang.
Tetapi tidak sedikit yang diam diam ingin memiliki penghasilan dari usaha peternakan.
Nah, di sinilah ironi kecil itu muncul.
Orang ingin hasilnya.
Tetapi tidak ingin mendekati prosesnya.
Padahal dalam bisnis, peluang sering kali bersembunyi di tempat yang tidak dilirik banyak orang.
Saat sebagian orang menjauh karena menganggap peternakan itu kotor, sebagian lainnya justru membangun usaha yang menghasilkan puluhan hingga ratusan juta rupiah setiap bulan.
Jadi sebenarnya yang tercium itu bau kandang atau aroma peluang?
Perspektif sering kali menentukan jawabannya.
Anak Muda Hari Ini Tidak Datang ke Kandang Membawa Cangkul
Mereka datang membawa ponsel. Bisa juga Mereka membawa drone. Lalu Mereka membawa aplikasi. Dan Mereka membawa data.
Kalau peternak zaman dulu berjalan mengelilingi kandang untuk mengecek kondisi ternak, peternak modern sering kali cukup membuka dashboard di layar.
Kalau dulu menghitung stok pakan menggunakan catatan kertas, sekarang cukup beberapa sentuhan jari.
Nah, inilah yang jarang di ketahui banyak orang.
Peternakan modern semakin mirip ruang kontrol di banding sekadar kandang biasa.
Ada data produksi. Juga Ada grafik pertumbuhan.
Ada laporan kesehatan.
Ada sistem otomatisasi.
Terdengar seperti startup teknologi?
Memang semakin ke sana arahnya.
Jangan Bayangkan Lumpur, Bayangkan Sistem
Kesalahan terbesar saat membayangkan peternakan adalah terlalu fokus pada tanah yang di injak.
Padahal yang menentukan keberhasilan bukan tanahnya.
Melainkan sistemnya.
Dua kandang bisa memiliki ukuran yang sama.
Jumlah ternaknya sama.
Jenis pakannya sama.
Namun hasil akhirnya bisa sangat berbeda.
Mengapa?
Karena satu di kelola dengan perhitungan.
Satu lagi di kelola dengan kebiasaan.
Nah, peternakan modern lebih banyak berbicara tentang manajemen di banding otot.
Lebih banyak berbicara tentang strategi di banding tenaga.
Lebih banyak berbicara tentang keputusan di banding sekadar rutinitas.
Kalau Kotor Menjadi Masalah, Mengapa Banyak Orang Kaya dari Peternakan?
Ini pertanyaan yang menarik.
Jika peternakan benar benar identik dengan kesulitan dan ketidaknyamanan, mengapa banyak pelaku usaha terus masuk ke sektor ini?
Mengapa investasi peternakan terus berkembang?
Mengapa kebutuhan produk peternakan terus meningkat?
Jawabannya sederhana.
Karena pasar tidak peduli apakah pekerjaan itu terlihat keren atau tidak.
Pasar hanya peduli pada kebutuhan.
Dan selama manusia masih makan telur, minum susu, mengonsumsi daging, atau menggunakan produk turunannya, sektor peternakan akan selalu memiliki tempat.
Jadi jangan terkecoh oleh penampilan luarnya.
Kadang bisnis yang terlihat sederhana justru menyimpan potensi luar biasa.
Peternak Masa Kini Lebih Mirip Pengelola Bisnis
Bayangkan seorang peternak modern yang Pagi hari ia memeriksa laporan produksi. Di Siang hari ia berdiskusi dengan pemasok.
Serta Sore hari ia memantau pemasaran melalui media sosial.
Malam hari ia mengevaluasi data penjualan.
Pertanyaannya, itu peternak atau manajer perusahaan?
Jawabannya bisa jadi keduanya.
Karena batas antara peternakan dan bisnis modern semakin tipis.
Peternak tidak lagi hanya mengurus hewan.
Mereka mengurus arus kas.
Lalu Mereka mengurus pemasaran.
Mereka mengurus strategi pertumbuhan.
Dan Mereka mengurus merek usaha.
Nah, inilah wajah baru dunia peternakan yang sering luput dari perhatian.
Mungkin yang Kotor Bukan Kandangnya
Ada satu pemikiran yang menarik. Mungkin selama ini yang perlu di bersihkan bukan kandangnya. Melainkan cara pandang kita terhadap profesi peternak. Karena terlalu lama profesi ini dipandang dari sisi lumpurnya. Dari sisi baunya atau Dari sisi kerja fisiknya.
Padahal ada sisi lain yang jauh lebih besar.
Ada inovasi dan Juga Ada teknologi. Lalu ada peluang usaha dan Ada ketahanan pangan.
Ada kontribusi ekonomi yang sangat penting.
Kata Siapa Peternak Harus Berani Kotor?
Kalau ada yang bertanya seperti itu hari ini, mungkin jawabannya berbeda.
Peternak tidak harus berani kotor.
Atau Peternak harus berani berkembang.
Peternak harus berani belajar. Bahkan Peternak harus berani meninggalkan cara lama ketika cara baru terbukti lebih baik.
Karena di era sekarang, kesuksesan peternakan bukan di tentukan oleh seberapa banyak lumpur yang menempel di sepatu.
Melainkan seberapa jauh wawasan yang menempel di kepala.
Yuk, berhenti melihat peternakan sebagai cerita tentang kandang dan kotoran.
Mulailah melihatnya sebagai cerita tentang peluang, teknologi, dan masa depan.
Sebab bisa jadi, profesi yang selama ini dianggap biasa saja justru sedang menyiapkan generasi pengusaha berikutnya dari balik pagar kandang yang sederhana.
Semoga bermanfaat!
