Kamu Tidak Cantik? Mungkin Kamu Salah Negara!


Hai ! Yuk Coba bayangkan kamu bangun pagi, melihat wajahmu di cermin, lalu menyimpulkan satu hal.
“Aku tidak cantik.”
Selesai.
Vonis di jatuhkan. Sidang di tutup. Tersangka utamanya adalah wajahmu sendiri.
Tapi tunggu dulu guys!
Bagaimana kalau sebenarnya kamu bukan tidak cantik?
Bagaimana kalau kamu hanya sedang tinggal di tempat yang salah untuk bentuk wajahmu?
Wah, kedengarannya seperti alasan yang di buat seseorang setelah gagal mendapatkan validasi. Tapi semakin kita melihat bagaimana manusia di berbagai negara mendefinisikan kecantikan, kalimat ini ternyata tidak sepenuhnya bercanda.
Sebab, wajah yang di anggap menarik di satu tempat, bisa saja di anggap biasa di tempat lain.
Dan yang lebih menarik lagi, standar kecantikan itu bisa berubah hanya karena kamu naik pesawat.

Wajahmu bisa naik nilai hanya dengan pindah negara


Di satu negara, kulit putih mungkin di anggap sebagai simbol kecantikan. Lalu Di negara lain, kulit kecokelatan justru terlihat sehat dan menarik.
Di satu tempat, tubuh yang sangat ramping dianggap ideal. Nah Di tempat lain, tubuh yang lebih berisi justru dipandang sebagai simbol kesehatan, kemakmuran, atau daya tarik.
Di suatu budaya, hidung kecil menjadi impian.
Dan di budaya lain, hidung dengan bentuk yang lebih tegas justru di anggap menarik.
Lalu pertanyaannya sederhana.
Kalau satu bentuk fisik bisa di anggap cantik di satu negara dan biasa saja di negara lain, sebenarnya siapa yang sedang menentukan nilai kecantikanmu?
Wajahmu?
Atau lingkungan tempat kamu tinggal?
Nah inilah masalahnya.
Kita sering mengira kecantikan adalah fakta. Padahal, sebagian besar kecantikan adalah kesepakatan.
Manusia melihat sesuatu, lalu berkata, “Ini cantik.”
Manusia lain ikut setuju.
Lama lama, kesepakatan itu menjadi standar.
Kemudian standar itu masuk ke iklan, televisi, majalah, film, media sosial, bahkan ke kepala kita sendiri.
Sampai akhirnya, kita berdiri di depan cermin dan merasa gagal hanya karena tidak terlihat seperti standar yang sedang populer.
Padahal, standar itu juga buatan manusia.
Kalau lahir di negara berbeda, mungkin kamu di anggap sangat cantik

Sekarang coba mainkan sebuah permainan kecil.


Bayangkan kamu tidak lahir di Indonesia.
Bayangkan kamu lahir di sebuah negara dengan standar kecantikan yang berbeda.
Wajahmu tetap sama.
Matamu tetap sama.
Hidungmu tetap sama.
Warna kulitmu tetap sama.
Tidak ada yang berubah.
Namun, cara orang melihatmu bisa berubah total.
Di tempat pertama, kamu mungkin merasa tidak cukup cantik karena wajahmu tidak sesuai dengan tren.
Atau Di tempat kedua, wajah yang sama bisa di anggap unik.
Di tempat ketiga, bisa saja dianggap sangat menarik.
Aneh, ya?


Nilai wajahmu ternyata bisa berubah tanpa wajahmu benar benar berubah.
Mirip seperti uang.
Seratus ribu rupiah sangat berharga di satu tempat, tetapi tidak bisa di gunakan di negara lain tanpa di tukar terlebih dahulu.
Mungkin kecantikan juga begitu.
Ia memiliki mata uang budaya.
Dan nilai tukarnya berbeda beda.

Jadi Masalahnya itu bukan wajahmu. Bisa jadi algoritmamu


Sekarang mari kita bicara tentang media sosial.
Karena bisa jadi, selama ini kamu bukan sedang melihat dunia.
Kamu sedang melihat algoritma.
Lalu Kamu membuka media sosial.
Satu wajah cantik muncul, Scroll.
Wajah cantik lain.
Scroll lagi.
Kulit mulus, Hidung kecil.
Rahang tegas, Tubuh ideal.
Senyum sempurna.
Lima belas menit kemudian, kamu melihat cermin dan merasa hidup ini tidak adil.
Padahal, kamu baru saja membandingkan wajah asli milikmu dengan kumpulan wajah terbaik milik orang lain.

Kamu melihat mereka dalam pencahayaan terbaik.



Dengan sudut kamera terbaik dan dengan makeup terbaik juga dengan pakaian terbaik.
Dengan foto terbaik dari mungkin puluhan foto yang tidak pernah mereka unggah.
Lalu kamu melihat wajahmu sendiri dalam kondisi baru bangun tidur, rambut berantakan, mata sembap, dan pencahayaan kamar mandi yang bahkan tidak bersahabat dengan siapa pun.
Ya jelas kalah.
Bukan karena kamu tidak cantik.
Kamu hanya bertanding dalam pertandingan yang tidak adil.
Ada wajah yang tidak langsung cantik

Tidak semua orang memiliki kecantikan yang langsung terlihat.
Ada orang yang begitu di lihat langsung membuat orang berkata, “Wah, cantik.”
Namun, ada juga orang yang kecantikannya bekerja secara perlahan.
Awalnya biasa saja.
Lalu dia tersenyum.
Kemudian berbicara.
Lalu tertawa.
Lalu kamu melihat bagaimana dia memperlakukan orang lain.
Tiba tiba, entah bagaimana, wajahnya terlihat semakin menarik.
Padahal wajahnya tidak berubah.
Yang berubah adalah cara kamu melihatnya.
Mungkin karena kecantikan memang tidak selalu datang dalam bentuk wajah yang simetris.
Kadang ia datang dalam bentuk seseorang yang membuatmu nyaman.
Seseorang yang tidak membuatmu takut menjadi dirimu sendiri.
Seseorang yang ketika tertawa, seluruh wajahnya ikut hidup.
Nah, kecantikan semacam ini tidak bisa di ukur dengan filter.
Tidak bisa di perbaiki dengan aplikasi.
Dan tidak bisa di beli dengan produk perawatan paling mahal sekalipun.
Kamu mungkin tidak jelek. Kamu hanya terlalu sering melihat orang yang berbeda
Ada satu hal yang agak menyedihkan.

Kita hidup di zaman ketika seseorang bisa melihat ribuan wajah dalam satu hari.



Dulu, seseorang mungkin hanya membandingkan dirinya dengan orang-orang yang ada di sekitar rumah, sekolah, atau tempat kerja.
Sekarang?
Kita bisa membandingkan diri dengan seluruh dunia.


Dengan perempuan di Korea.
Atau Dengan model di Eropa.
Dengan influencer di Amerika.
Juga dengan selebritas dari berbagai negara.
Dengan orang yang bahkan memiliki bentuk wajah, genetik, gaya hidup, dan kondisi hidup yang sama sekali berbeda dari kita.
Lalu kita bertanya, “Kenapa aku tidak seperti dia?”
Pertanyaan itu sebenarnya tidak masuk akal.
Sebab kamu memang bukan dia.
Dan dia juga tidak harus menjadi kamu.
Kamu tidak bisa memakai standar kecantikan orang lain lalu marah karena dirimu sendiri tidak cocok dengan ukuran tersebut.
Itu seperti membeli sepatu milik orang lain, lalu menyalahkan kakimu karena tidak nyaman.
Jadi, apakah semua orang itu cantik?
Jawabannya mungkin tidak.
Dan justru di situlah kejujurannya.
Tidak semua orang harus di anggap cantik.
Sebab kalau semua orang wajib cantik menurut satu standar, manusia akan berubah menjadi produk pabrik.
Seragam, Sama.
Tidak menarik lagi dong!
Yang lebih penting adalah memahami bahwa tidak di anggap cantik oleh seseorang bukan berarti kamu tidak memiliki nilai.

Kamu tidak harus memenangkan kompetisi wajah.

Kamu juga tidak harus menjadi tipe perempuan yang di sukai semua laki laki.
Tidak perlu menjadi tipe laki laki yang di anggap menarik oleh semua perempuan.
Selera manusia berbeda.
Bahkan orang yang menurutmu sangat cantik bisa saja di anggap biasa oleh orang lain.
Dan orang yang kamu anggap biasa saja bisa menjadi seseorang yang sangat berarti bagi orang lain.
Begitulah manusia.
Kita tidak melihat wajah hanya dengan mata.
Kita juga melihat dengan pengalaman, budaya, kenangan, selera, dan perasaan.

Mungkin kamu bukan salah wajah. Mungkin kamu salah tempat


Jadi, kalau hari ini kamu merasa tidak cantik, jangan langsung menghukum dirimu sendiri.
Coba tanyakan sesuatu yang lebih menarik.
“Kalau aku lahir di negara lain, apakah orang-orang akan melihatku dengan cara yang berbeda?”
Mungkin jawabannya iya.
Mungkin tidak.
Namun, satu hal yang pasti, standar kecantikan tidak pernah sesolid yang kita kira.
Ia bisa aja berubah, Berpindah, Bergeser juga Berganti setiap zaman.
Hari ini alis tipis di anggap cantik.
Besok alis tebal menjadi tren.
Hari ini tubuh kurus di puja.
Besok tubuh berisi kembali di anggap menarik.
Hari ini kulit tertentu di anggap ideal.
Besok dunia mungkin kembali menyukai sesuatu yang berbeda.
Dan kamu?
Kamu tetap menjadi dirimu sendiri di tengah semua perubahan itu.
Nah, mungkin masalah terbesar bukan karena kamu tidak cantik.
Mungkin kamu hanya terlalu sering mengukur dirimu dengan penggaris milik orang lain.
Atau mungkin, seperti judul artikel ini…
Kamu tidak cantik?
Mungkin kamu salah negara.
Atau bisa jadi, kamu hanya terlalu lama tinggal di dunia yang membuatmu lupa bahwa cantik tidak pernah memiliki satu wajah.
Dan yang penting kamu tidak perlu menunggu seluruh dunia mengakuimu cantik untuk mulai berdamai dengan wajah yang setiap hari menunggumu di depan cermin! Semangat cantik!