Jangan Membakar Sampah! Kebiasaan Lima Menit yang Dampaknya Bisa Bertahun Tahun

Jangan Membakar Sampah! Kebiasaan Lima Menit yang Dampaknya Bisa Bertahun Tahun

“Halah, cuma sebentar kok.”
Kalimat itu mungkin pernah kamu dengar. Atau, jangan jangan pernah juga kamu ucapkan sendiri saat melihat tumpukan sampah mulai memenuhi sudut halaman. Tinggal di sulut api, di tunggu beberapa menit, beres. Halaman bersih, tempat sampah kosong, urusan selesai.

Padahal, yang benar benar selesai hanya tumpukan sampahnya.
Sisanya baru di mulai.
Asap yang mengepul memang perlahan menghilang dari pandangan. Tapi jangan salah, hilang dari mata bukan berarti hilang dari lingkungan. Nah, di sinilah banyak orang terkecoh. Yang tadinya berupa plastik, kertas, daun kering, atau kemasan makanan, berubah menjadi partikel yang jauh lebih sulit di kendalikan.

Lucunya, kita sering rela menutup hidung karena bau asap, tetapi lupa kalau paru-paru tidak bisa ikut ditutup.

Coba Perhatikan, Kenapa Bau Asap Masih Tercium Padahal Apinya Sudah Padam?

Pernah mengalami hal ini?
Api sudah mati sejak setengah jam lalu. Halaman juga sudah disapu. Tapi setiap keluar rumah, aroma asap masih terasa. Lho, kok bisa?
Jawabannya sederhana. Sebagian partikel hasil pembakaran tidak langsung menghilang. Ia melayang mengikuti arah angin, menempel di pagar, daun tanaman, jemuran, bahkan dinding rumah.
Makanya, jangan heran kalau baju yang baru dijemur tiba-tiba berbau asap. Bukan karena apinya masih menyala, melainkan karena sisa pembakaran masih mengelilingi rumahmu.
Kelihatannya sepele. Padahal setiap kali kamu menghirup udara itu, ada sesuatu yang ikut masuk tanpa diundang.

Yang Dibakar Sampah, Kok Tanaman Ikut Kena?

Nah, ini yang jarang di bahas.
Banyak orang sengaja membakar sampah di pojok kebun karena dianggap tempat paling aman. Tidak mengganggu tetangga dan jauh dari rumah.
Eh, beberapa bulan kemudian mereka bingung.
“Kenapa ya, cabai di sini kok susah tumbuh?”
Ternyata tanah yang berulang kali terkena panas ekstrem bisa kehilangan banyak organisme kecil yang berperan menjaga kesuburannya. Belum lagi kalau abu bercampur dengan sisa plastik yang terbakar. Bukannya menyuburkan, malah membuat kualitas tanah menurun.
Jadi kalau kamu punya kebiasaan membakar sampah di titik yang sama, coba deh lihat kondisi tanahnya beberapa bulan ke depan. Biasanya akan terlihat berbeda dibanding area yang tidak pernah terkena api.
Sebenarnya Bukan Sampahnya yang Banyak, Tapi Cara Belanjanya
Eh, tunggu dulu.
Sebelum menyalahkan tempat sampah yang cepat penuh, coba intip isi kantong belanja selama seminggu terakhir.
Berapa bungkus camilan?
Berapa gelas minuman sekali pakai?
Berapa plastik pembungkus belanja?
Wah, tanpa sadar sebagian besar sampah di rumah ternyata datang dari kebiasaan membeli barang dengan kemasan kecil.
Makanya ada keluarga yang anggota rumahnya enam orang tetapi sampahnya sedikit. Ada juga yang tinggal sendirian, tetapi tempat sampah selalu penuh.
Bedanya bukan pada jumlah orangnya.
Bedanya ada pada kebiasaan saat berbelanja.
Ada Satu Pertanyaan yang Jarang Ditanyakan
Sebelum membuang sesuatu, coba biasakan bertanya satu kalimat sederhana.
“Kalau barang ini belum aku beli hari ini, apakah besok aku akan membutuhkannya?”
Pertanyaan itu terdengar aneh.

Tapi justru dari situlah jumlah sampah mulai berkurang.
Semakin sedikit barang yang masuk ke rumah, semakin sedikit pula barang yang keluar menjadi sampah.
Nah, cara berpikir seperti ini sering diterapkan oleh orang-orang yang rumahnya terlihat rapi tanpa harus sering membakar sampah.

Rumah yang Jarang Membakar Sampah Punya Satu Kesamaan

Percaya atau nggak, rumah rumah yang lingkungannya bersih biasanya bukan karena mereka rajin membakar sampah.

Justru sebaliknya.
Mereka tidak memberi kesempatan sampah menumpuk.
Botol minum di pakai berulang.
Tas belanja selalu tersedia di motor atau mobil.
Kardus langsung di lipat begitu paket datang.
Botol plastik di kumpulkan dalam satu karung.
Kelihatannya remeh.
Namun kebiasaan kecil seperti itulah yang membuat halaman tetap bersih tanpa perlu menyalakan api setiap minggu.

Jangan Sampai Anak Menganggap Membakar Sampah Itu Hal yang Biasa

Anak belajar lebih banyak dari apa yang dilihat daripada apa yang di dengar.
Kalau sejak kecil mereka terbiasa melihat orang dewasa membakar sampah setiap akhir pekan, lama lama mereka akan menganggap itulah cara normal mengelola sampah.
Padahal zaman sudah berubah.
Sekarang semakin banyak sekolah yang mengajarkan pentingnya menjaga kualitas udara, mengurangi limbah plastik, dan mendaur ulang barang bekas.
Bayangkan kalau di sekolah anak belajar menjaga lingkungan, tetapi di rumah melihat kebiasaan yang bertolak belakang.
Pesan baik itu akhirnya menjadi membingungkan.

Bersih Itu Bukan Berarti Ada Api

Nah, ini yang paling menarik ya!
Selama bertahun tahun kita sering menghubungkan halaman bersih dengan asap yang mengepul.
Padahal keduanya tidak ada hubungannya.
Halaman bersih bukan karena sampah dibakar.
Halaman bersih terjadi karena jumlah sampah yang dihasilkan berhasil dikendalikan.
Perbedaannya memang tipis.
Tapi dampaknya jauh berbeda.
Yang satu hanya menghilangkan sampah dari pandangan.
Yang satunya lagi benar benar mengurangi sampah sejak awal.
Kalau dipikir pikir lagi, pilihan itu sebenarnya ada di tangan kita.
Mau lima menit merasa halaman bersih dengan kepulan asap, atau mulai membangun kebiasaan yang membuat rumah tetap nyaman tanpa harus mengorbankan udara yang dihirup setiap hari.
Sesekali memang terasa lebih praktis membakar sampah. Namun kalau kebiasaan itu di lakukan terus menerus, yang terbakar bukan hanya tumpukan sampah. Perlahan, kualitas udara di sekitar rumah juga ikut memburuk. Dan sayangnya, udara itulah yang setiap hari kembali kita hirup bersama keluarga.
Jadi, lain kali saat melihat tempat sampah mulai penuh, jangan buru buru mencari korek api. Bisa jadi, yang perlu di ubah bukan cara memusnahkan sampahnya, melainkan kebiasaan kecil yang membuat sampah terus bertambah sejak awal.