Aneh memang! Ada penjual yang fotonya biasa saja, tokonya sederhana, bahkan produknya bisa di temukan di banyak tempat. Tetapi pesanan masuk terus setiap hari.
Di sisi lain, ada toko yang produknya berkualitas, kemasannya menarik, stoknya lengkap, tetapi pembelinya seperti sedang main petak umpet. Sulit di temukan.
Kalau di pikir pikir, ini seperti dua warung yang berdiri berdampingan.
Satu warung selalu ramai, Satu lagi sepi.
Padahal sama sama menjual mie instan.
Sebenarnya apa yang membedakan?
Jawabannya sering bukan pada produknya.
Bukan pula pada modalnya.
Melainkan pada cara mereka membuat orang merasa yakin untuk membeli.
Nah, kalau kamu ingin memahami cara menjual produk di marketplace dengan lebih efektif, ada satu hal yang perlu di pahami sejak awal.
Marketplace bukan tempat menjual barang! Marketplace adalah tempat menjual keputusan.
Pembeli Datang Membawa Keraguan
Setiap kali seseorang membuka marketplace, sebenarnya ia datang bersama keraguan.
Apakah produknya bagus?
Atau Apakah penjualnya terpercaya?
Apakah barangnya sesuai foto?
Juga Apakah pengirimannya cepat?
Apakah uang yang di keluarkan sepadan?
Wah, banyak sekali pertanyaan yang berputar di kepala calon pembeli.
Masalahnya, banyak penjual sibuk menjelaskan produknya, tetapi lupa menjawab keraguan tersebut.
Padahal yang membuat orang membeli bukan karena mereka memahami produkmu.
Yang membuat mereka membeli adalah karena rasa ragunya perlahan menghilang.
Foto Produk Jangan Berperan Sebagai Pajangan
Coba buka marketplace sekarang.
Lihat beberapa produk yang muncul.
Sebagian besar terlihat seperti sedang di foto untuk kartu identitas.
Diam.
Kaku.
Dingin.
Tidak bercerita apa pun.
Padahal manusia membeli menggunakan imajinasi.
Saat melihat kursi kerja, mereka membayangkan ruang kerja yang nyaman.
atau Saat melihat botol minum, mereka membayangkan aktivitas sehari hari yang lebih praktis.
Saat melihat tas, mereka membayangkan diri mereka sedang menggunakannya.
Nah, tugas foto produk bukan menunjukkan barang.
Tugasnya adalah membantu pembeli membayangkan kehidupan yang sedikit lebih baik setelah memiliki barang tersebut.
Perbedaannya kecil.
Tetapi efeknya besar.
Harga Murah Sudah Tidak Lagi Menjadi Raja
Dulu mungkin iya.
Sekarang tidak selalu.
Karena pembeli modern sudah pernah mengalami pengalaman buruk akibat terlalu tergoda harga murah.
Barang tidak sesuai, Kualitas mengecewakan, Pengiriman lambat, Penjual sulit di hubungi, Akibatnya banyak orang mulai berpikir berbeda, Mereka tidak lagi mencari yang paling murah, Mereka mencari yang paling masuk akal.
Lho, itu sebabnya ada produk yang harganya lebih mahal tetapi tetap laris.
Karena mereka berhasil menciptakan rasa aman.
Dan rasa aman adalah sesuatu yang sulit diberi harga.
Deskripsi Produk Bukan Daftar Spesifikasi
Ada penjual yang menulis deskripsi seperti buku petunjuk mesin.
Panjang, Lengkap, Tetapi membosankan.
Padahal pembeli tidak sedang mengikuti ujian.
Mereka ingin memahami manfaatnya.
Misalnya kamu menjual rak sepatu.
Jangan hanya menulis jumlah tingkat dan ukuran.
Ceritakan bagaimana rak tersebut membantu membuat rumah terasa lebih rapi.
Ceritakan bagaimana sepatu tidak lagi berserakan di depan pintu.
Nah, manusia jauh lebih mudah terhubung dengan manfaat di banding angka.
Marketplace Lebih Mirip Arena Kepercayaan Daripada Arena Jualan
Ini fakta yang sering tidak disadari.
Ketika dua produk terlihat mirip, pembeli biasanya akan memilih toko yang lebih mereka percayai.
Karena itu ulasan menjadi sangat penting, respons chat menjadi penting juga, kecepatan pengiriman juga penting.
Karena itu pelayanan menjadi penting.
Wah, ternyata banyak faktor yang bekerja diam-diam sebelum tombol beli ditekan.
Dan semuanya bermuara pada satu hal.
Kepercayaan.
Jangan Menunggu Pembeli Datang, Buat Mereka Menemukanmu
Banyak penjual mengunggah produk lalu menunggu.
Menunggu pesanan, keajaiban. Atau
Menunggu keberuntungan.
Padahal marketplace tidak bekerja seperti itu.
Marketplace menyukai toko yang aktif.
Toko yang bergerak. Sebuah Toko yang terus memperbarui produk. Toko yang terus memperbaiki deskripsi dan Toko yang terus memperhatikan kebutuhan pelanggan.
Algoritma pun lebih menyukai penjual yang terlihat hidup di banding yang hanya diam.
Rahasia yang Jarang Dibahas Penjual Sukses
Kalau di perhatikan, toko yang berkembang biasanya memiliki satu kebiasaan menarik.
Mereka tidak terobsesi menjual barang.
Dan Mereka terobsesi memahami pelanggan.
Mereka membaca ulasan.
Bahkan Mereka memperhatikan pertanyaan yang sering muncul.
Mereka mencatat keluhan.
Mereka mengamati kebiasaan pembeli.
Karena semakin mereka memahami pelanggan, semakin mudah menciptakan pengalaman belanja yang menyenangkan.
Dan pengalaman itulah yang membuat pelanggan kembali.
Produk yang Laku Biasanya Menjual Cerita
Mari jujur yuk!
Biasanya Orang membeli tumbler bukan hanya karena butuh wadah minum. Atau Orang membeli meja kerja bukan hanya karena butuh meja. Bahkan Orang membeli buku catatan bukan hanya karena membutuhkan kertas.
Di balik setiap pembelian, selalu ada cerita kecil.
Ada harapan, keinginan, tujuan yang tidak kita tahu!
Nah, penjual yang hebat mampu melihat cerita itu. Mereka tidak cuman menjual barang tapi Mereka menjual kemungkinan. Seperti Kemungkinan hidup menjadi lebih mudah, Kemungkinan pekerjaan menjadi lebih nyaman atau Kemungkinan aktivitas menjadi lebih praktis.
Cara menjual produk di marketplace sebenarnya tidak serumit yang di bayangkan. Namun juga tidak sesederhana mengunggah foto lalu menunggu pesanan datang.
Di balik setiap transaksi ada proses psikologis yang berlangsung sangat cepat. Pembeli melihat, menilai, membandingkan, lalu memutuskan.
Karena itu, fokuslah bukan hanya pada produk yang kamu jual. Fokuslah pada alasan mengapa seseorang harus memilih produk tersebut.
Sebab di marketplace yang di penuhi ribuan penjual, pemenangnya sering bukan yang memiliki barang terbaik.
Bukan yang memiliki harga termurah.
Melainkan yang paling mampu membuat pembeli berkata dalam hati, “Nah, ini persis yang sedang aku cari.”
Dan ketika kalimat itu muncul di kepala calon pelanggan, proses menjual biasanya menjadi jauh lebih mudah. Bahkan sebelum mereka menekan tombol beli.
