“Pengen cepat tidur, malah kepikiran semuanya.”
Eh, jangan bilang kamu belum pernah mengalaminya. Baru saja kepala menyentuh bantal, tiba-tiba otak seperti mendapat sinyal untuk bekerja lembur. Obrolan seminggu lalu muncul lagi. Kesalahan kecil yang sebenarnya sudah lewat kembali di putar. Belum selesai memikirkan itu, muncul lagi bayangan tentang pekerjaan besok, tagihan bulan depan, sampai skenario yang bahkan belum tentu terjadi.
Lho, bukannya malam adalah waktu tubuh beristirahat?
Nah, justru di situlah letak menariknya. Saat tubuh mulai santai, otak ternyata belum tentu ikut “mematikan mesin”. Ada aktivitas yang diam diam sedang berlangsung di dalam kepalamu. Jadi, kalau akhir akhir ini kamu sering overthinking sebelum tidur, bisa jadi otakmu memang sedang menjalankan tugasnya.
Yuk, kita bongkar pelan pelan apa yang sebenarnya terjadi.
Saat Dunia Mulai Sunyi, Otak Justru Mulai Bersuara
Coba deh perhatikan. Sejak pagi sampai sore, hidupmu di penuhi banyak distraksi. Ada notifikasi yang terus berbunyi, pekerjaan yang harus di selesaikan, obrolan dengan teman, suara kendaraan, hingga berbagai aktivitas yang membuat perhatianmu berpindah pindah.
Semua kesibukan itu membuat otak fokus pada apa yang terjadi di luar.
Nah, ketika malam datang, suasana berubah. Kamar menjadi lebih tenang. Tidak banyak suara. Tidak banyak aktivitas. Di momen inilah otak kehilangan “gangguan” dari luar.
Alih-alih diam, ia justru mulai menoleh ke dalam.
Semua kenangan, kekhawatiran, rencana, harapan, bahkan rasa malu yang sempat terlupakan mendadak bermunculan. Rasanya seperti membuka laci lama yang isinya berantakan. Satu barang di ambil, eh, malah menemukan barang lain yang belum sempat di bereskan.
Bukan Karena Kamu Lemah, Melainkan Otak Sedang Merapikan Isi Kepalamu
Boleh jujur, ya? Banyak orang langsung menyalahkan diri sendiri ketika overthinking datang.
“Aku memang terlalu banyak mikir.”
“Aku nggak bisa santai.”
Jadi sebenarnya Otak manusia memang memiliki sistem yang bertugas mengolah pengalaman, menyimpan ingatan, mengevaluasi kejadian, hingga memperkirakan kemungkinan yang akan datang. Ketika suasana mulai sepi, sistem ini bekerja lebih aktif.
Ibarat petugas perpustakaan yang baru mulai menyusun ribuan buku setelah semua pengunjung pulang, otak juga sedang mencoba merapikan informasi yang masuk sepanjang hari.
Masalahnya, kalau “petugas” ini bekerja terlalu semangat, hasilnya adalah overthinking.
Kenapa Justru Pikiran Negatif yang Datang?
Tahu gak Kenapa bukan kenangan liburan yang muncul? Kenapa malah rasa malu lima tahun lalu?
Jawabannya berkaitan dengan cara kerja otak menjaga keselamatanmu.
Sejak dulu, otak manusia lebih peka terhadap ancaman daripada hal menyenangkan. Tujuannya sederhana, yaitu agar manusia bisa bertahan hidup.
Akibatnya, kejadian memalukan, kesalahan, penolakan, atau rasa takut lebih mudah dipanggil kembali di bandingkan pengalaman yang menyenangkan.
Lho, jadi otak sedang memusuhi kita?
Bukan.
Ia hanya terlalu rajin memastikan kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sayangnya, sistem perlindungan ini kadang bekerja terlalu berlebihan.
Semakin Di paksa Tidur, Pikiran Malah Semakin Ramai
Pernah berkata dalam hati, “Ayo tidur… ayo tidur…”?
Aneh, ya. Bukannya langsung terlelap, pikiran malah semakin aktif.
Ini karena otak tidak suka di paksa melakukan sesuatu yang justru sedang sulit di lakukan.
Semakin kamu memaksa diri agar berhenti berpikir, semakin otak fokus pada pikiran tersebut.
Ibarat seseorang yang di minta, “Jangan bayangkan gajah.”
Apa yang langsung muncul?
Ya, gambar gajah.
Begitu pula overthinking. Semakin di lawan dengan paksa, semakin keras ia mengetuk pintu pikiranmu.
Kebiasaan Sepele Mengundang Overthinking
Eits, tunggu dulu. Bisa jadi penyebabnya bukan hanya karena banyak masalah
Coba ingat lagi kebiasaanmu sebelum tidur.
Masih scrolling media sosial selama satu jam?
Atau Masih membaca berita yang membuat cemas?
Masih membuka email pekerjaan?
Dan Masih menonton video yang membuat emosi naik turun?
Semua aktivitas itu memberi sinyal bahwa otak belum saatnya beristirahat.
Akibatnya, begitu layar ponsel di matikan, otak masih berada di mode “siaga”. Ia terus mencari informasi baru meskipun tubuh sebenarnya sudah sangat lelah.
Jadi, Apa yang Sebaiknya Di lakukan?
Tenang, kamu tidak perlu memaksa otak kosong. Justru itu hampir mustahil.
Yang perlu di lakukan adalah membantu otak merasa bahwa semuanya sudah aman.
Kalau ada banyak pikiran yang berputar, coba tuliskan di buku kecil. Tidak perlu rapi. Tidak perlu indah. Cukup keluarkan semuanya.
Cara sederhana ini membantu otak memahami bahwa informasi tersebut sudah “disimpan”, sehingga tidak perlu diputar berulang-ulang.
Selain itu, buatlah rutinitas malam yang konsisten. Lampu kamar diredupkan, jauhkan ponsel sekitar tiga puluh menit sebelum tidur, lalu lakukan aktivitas yang menenangkan seperti membaca buku ringan atau mendengarkan musik dengan tempo lembut.
Pelan pelan, otak akan belajar membedakan mana waktu bekerja dan mana waktu beristirahat.
Tapi Overthinking itu gapapa
Overthinking sebenarnya bukan musuh yang harus dibenci. Ia hanyalah sinyal bahwa otak sedang mencoba memahami sesuatu.
Yang perlu di jaga adalah jangan sampai sinyal itu mengambil alih seluruh malam dan mengganggu kualitas hidupmu.
Kalau overthinking mulai terjadi hampir setiap hari, membuatmu sulit tidur, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, bahkan mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan dari psikolog atau tenaga kesehatan mental. Meminta pertolongan bukan berarti lemah, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Jadi, nanti malam kalau pikiranmu kembali ramai, jangan buru-buru kesal pada diri sendiri, ya. Coba tarik napas pelan, lalu ingat satu hal ini.
Otakmu mungkin bukan sedang mencari masalah.
Ia hanya sedang menyusun kepingan kepingan cerita yang kamu jalani hari ini.
Dan seperti pekerja yang baik, ia juga perlu diingatkan bahwa pekerjaannya bisa dilanjutkan besok pagi. Sekarang, biarkan tubuh dan pikiran sama sama beristirahat. Besok masih ada hari baru yang menunggu untuk kamu jalani dengan kepala yang lebih ringan.
