Site icon Ngalam Life

Metode Budgeting Sederhana untuk Pemula yang Sulit Menabung

Pernah merasa uang baru masuk, tetapi tahu tahu sudah hampir habis?
Padahal rasanya kamu tidak membeli sesuatu yang mahal. Tidak ada belanja besar. Tidak jalan jalan jauh. Tapi ketika saldo dicek, kok tinggal segitu?
Nah, kalau kamu sering mengalami kejadian seperti ini, mungkin masalahnya bukan karena kamu tidak bisa menabung. Bisa jadi kamu belum punya cara yang jelas untuk mengatur uang.
Tenang, kamu tidak sendirian, kok.
Banyak orang sebenarnya ingin mulai menabung, tetapi setiap bulan selalu ada saja pengeluaran yang muncul. Akhirnya muncul kalimat klasik, “Nanti kalau ada sisa uang, baru ditabung.”
Masalahnya, sisa uang biasanya memang tidak pernah ada.
Karena itu, kamu perlu membalik kebiasaannya. Bukan menunggu ada uang tersisa untuk ditabung, tetapi menentukan sejak awal uang tersebut akan digunakan untuk apa.
Nah, di sinilah budgeting sederhana bisa membantu.

Mulai dari Angka yang Benar Benar Kamu Punya



Sebelum membuat anggaran, jangan langsung membagi uang dengan rumus yang kamu lihat di media sosial.
Duduk sebentar.
Catat dulu berapa penghasilan yang benar benar kamu terima setiap bulan.
Kalau penghasilanmu tetap, mungkin lebih mudah. Namun, kalau penghasilan tidak selalu sama, gunakan angka yang paling realistis. Jangan memakai perkiraan penghasilan terbesar hanya karena ingin membuat budgeting terlihat bagus.
Misalnya bulan ini kamu mendapatkan Rp3.000.000. Gunakan angka tersebut sebagai dasar.
Setelah itu, baru kita bicara soal pengeluaran.
Bedakan Kebutuhan, Keinginan, dan Pengeluaran Kecil
Ini bagian yang sering bikin budgeting berantakan.
Pengeluaran besar memang gampang terlihat. Tetapi justru pengeluaran kecil yang sering berjalan diam diam.
Ngopi Rp15.000.
Jajan Rp20.000.
Ongkir Rp10.000.
Beli sesuatu karena sedang diskon Rp30.000.
Kelihatannya kecil, ya?
Tetapi kalau dilakukan berkali kali, jumlahnya bisa mengejutkan.
Nah, sekarang coba kelompokkan pengeluaranmu menjadi tiga bagian.
Pertama, kebutuhan. Misalnya makan, listrik, transportasi, cicilan, dan kebutuhan rumah.
Kedua, keinginan. Contohnya nongkrong, membeli barang yang belum terlalu dibutuhkan, atau berlangganan layanan tertentu.
Ketiga, pengeluaran kecil yang sering tidak terasa.
Bagian ketiga ini justru perlu kamu perhatikan baik baik.
Bukan berarti kamu tidak boleh jajan atau bersenang senang. Kamu tetap boleh menikmati uangmu. Yang penting, kamu tahu uang tersebut pergi ke mana.

Gunakan Metode Budgeting yang Tidak Bikin Pusing



Kalau baru mulai mengatur keuangan, jangan membuat sistem yang terlalu rumit.
Kamu bisa mencoba metode sederhana dengan membagi uang menjadi beberapa pos.
Misalnya, dari penghasilan bulanan, kamu menentukan bagian untuk kebutuhan utama, tabungan, keinginan, dan dana untuk pengeluaran tidak terduga.
Persentasenya tidak harus sama untuk semua orang.
Ini penting, lho.
Kondisi setiap orang berbeda. Seseorang yang masih memiliki cicilan tentu punya ruang menabung yang berbeda dengan orang yang tidak memiliki cicilan.
Jadi, jangan merasa gagal hanya karena angka budgeting kamu tidak sama dengan orang lain.
Yang penting adalah pembagiannya masuk akal dan bisa kamu jalankan.
Jangan Menabung dari Sisa
Nah, ini mungkin kebiasaan yang perlu kamu ubah mulai sekarang.
Kalau selama ini kamu berkata, “Kalau ada sisa uang, aku tabung,” coba balik menjadi, “Aku sisihkan dulu untuk tabungan.”
Tidak perlu langsung dalam jumlah besar.
Kalau kemampuanmu baru Rp50.000 atau Rp100.000 per bulan, tidak masalah.
Tujuan awalnya bukan membuat tabungan langsung besar. Tujuannya adalah membangun kebiasaan.
Begitu uang masuk, sisihkan bagian tabungan terlebih dahulu. Setelah itu, gunakan uang yang tersisa untuk kebutuhan lainnya.
Wah, kelihatannya sederhana sekali, kan?
Memang.
Justru sistem yang sederhana biasanya lebih mudah di pertahankan.

Buat Rekening atau Tempat Tabungan yang Terpisah


Ada alasan kenapa uang tabungan sebaiknya tidak bercampur dengan uang belanja.
Kalau semuanya berada di satu tempat, saldo yang terlihat sering membuat kita merasa masih punya banyak uang.
Padahal sebagian sebenarnya sudah memiliki tujuan.
Karena itu, kamu bisa memisahkan uang tabungan dari uang harian.
Tidak harus menggunakan banyak rekening. Satu tempat khusus untuk menyimpan uang yang tidak boleh disentuh pun sudah cukup untuk memulai.
Kalau perlu, beri nama tabungan tersebut sesuai tujuan.
Misalnya “Dana Darurat”, “Liburan”, “Pendidikan”, atau “Rumah”.
Ketika tujuan tabungan terlihat jelas, biasanya menahan diri menjadi sedikit lebih mudah.
Sisakan Ruang untuk Bersenang Senang
Budgeting bukan berarti hidup harus serba dilarang.
Kalau setiap hari kamu hanya menghitung pengeluaran dan merasa bersalah ketika membeli sesuatu, lama lama kamu malah bosan.
Kamu tetap boleh menikmati hasil kerja kerasmu.
Masukkan pengeluaran hiburan ke dalam anggaran.
Misalnya ada uang khusus untuk makan di luar, membeli buku, menonton film, atau sekadar ngopi bersama teman.
Dengan begitu, kamu tidak merasa sedang menjalani hukuman finansial.
Nah, justru ketika kesenangan sudah masuk dalam rencana, kamu akan lebih mudah mengendalikan pengeluaran impulsif.

Evaluasi Budgeting Setiap Akhir Bulan



Budgeting bukan dokumen yang harus selalu sempurna.
Bisa saja bulan ini anggaran makan terlalu kecil. Bulan depan ternyata ada kebutuhan keluarga. Atau biaya transportasi tiba tiba meningkat.
Tidak masalah.
Luangkan waktu sekitar 15 sampai 30 menit di akhir bulan untuk melihat kembali kondisi keuanganmu.
Tanyakan kepada diri sendiri.
“Uang paling banyak habis untuk apa?”
“Pengeluaran mana yang sebenarnya bisa dikurangi?”
“Apakah target tabungan sudah tercapai?”
“Bagian mana dari budgeting yang terasa tidak realistis?”
Dari sana, kamu bisa memperbaiki anggaran untuk bulan berikutnya.
Jangan marah pada diri sendiri kalau bulan ini belum berhasil. Anggap saja kamu sedang belajar membaca pola keuanganmu sendiri.

Tidak Perlu Menunggu Kaya untuk Mulai Mengatur Uang



Satu hal yang perlu kamu ingat, kemampuan mengatur uang bukan keterampilan yang hanya dibutuhkan orang dengan penghasilan besar.
Justru ketika uang masih terbatas, budgeting menjadi semakin penting.
Kamu tidak perlu menunggu gaji naik. Tidak perlu menunggu punya banyak uang. Bahkan tidak perlu menunggu awal tahun.
Mulailah dari uang yang ada sekarang.
Catat.
Pisahkan.
Tentukan prioritas.
Sisihkan tabungan.
Lalu evaluasi.
Pelan pelan saja.
Kalau bulan pertama belum rapi, tidak apa apa. Bulan berikutnya diperbaiki. Kalau target belum tercapai, sesuaikan lagi.
Nah, pada akhirnya budgeting bukan tentang membuat setiap rupiah menjadi kaku dan tidak boleh digunakan.
Budgeting adalah cara supaya kamu tahu uangmu sedang bekerja untuk apa.
Dan kalau selama ini kamu merasa sulit menabung, mungkin kamu tidak membutuhkan aturan keuangan yang rumit.
Kamu hanya membutuhkan sistem sederhana yang cocok dengan kehidupanmu dan cukup realistis untuk dilakukan setiap bulan.
Karena menabung bukan soal siapa yang paling besar menyisihkan uang.
Yang lebih penting adalah siapa yang mampu konsisten melakukannya.

Exit mobile version