Site icon Ngalam Life

Kebiasaan Sepele yang Ternyata Menghabiskan Banyak Waktu

Pernah merasa seharian sudah sibuk, tetapi ketika malam datang kamu malah bingung, “Tadi aku ngapain saja, ya?”.
Bisa jadi hari memang dipenuhi aktivitas. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, pesan yang perlu dibalas, rumah yang perlu dibereskan, belum lagi urusan kecil yang muncul tanpa diundang.
Anehnya, waktu tetap terasa hilang begitu saja.
Nah, masalahnya kadang bukan pada satu kegiatan besar. Justru kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali bisa mencuri waktu tanpa terasa.
Lima menit melihat ponsel.
Tujuh menit mencari barang.
Sepuluh menit memilih mau mulai dari pekerjaan yang mana.
Kelihatannya sepele.
Kalau dilakukan berkali kali, wah, jumlahnya bisa mengejutkan.

Membuka Ponsel Tanpa Tujuan yang Jelas


Coba jujur sebentar.
Kamu mengambil ponsel karena memang ada sesuatu yang perlu dilakukan, atau tanganmu sudah otomatis meraihnya?
Awalnya mungkin hanya ingin melihat jam.
Kemudian ada satu notifikasi.
Dibuka.
Setelah itu melihat media sosial.
Ketemu video menarik.
Lanjut satu video lagi.
Tiba tiba sudah lima belas menit.
Lho, padahal tadi cuma mau melihat jam.
Kebiasaan seperti ini terasa kecil karena setiap sesi memang tidak terlalu lama. Masalahnya muncul ketika perilaku tersebut terjadi berkali kali sepanjang hari.
Bukan hanya waktunya yang hilang. Perhatianmu juga ikut terpecah.

Terlalu Sering Mengecek Pesan


Ada bedanya antara membalas pesan dan mengecek apakah ada pesan baru.
Kalau memang ada urusan penting, tentu perlu diperiksa.
Namun, ketika kamu membuka aplikasi chat setiap beberapa menit hanya untuk memastikan tidak ada pesan baru, konsentrasi bisa ikut terganggu.
Sedang mengerjakan sesuatu, ponsel dicek.
Kembali bekerja.
Beberapa menit kemudian dicek lagi.
Akhirnya pekerjaan yang sebenarnya bisa selesai dalam waktu singkat terasa lebih panjang.
Nah, yang sering tidak kita hitung bukan hanya durasi membuka aplikasi, tetapi waktu untuk mengembalikan fokus setelah perhatian teralihkan.
Jadi, kalau kamu sedang mengerjakan sesuatu yang membutuhkan konsentrasi, tidak ada salahnya memberi jarak dari notifikasi untuk sementara.

Mencari Barang yang Tidak Pernah Punya Tempat


“Kunci tadi di mana?”
“Charger kok hilang?”
“Mana gunting?”
Kalimat sederhana seperti ini mungkin sering muncul di rumah.
Menariknya, waktu mencari barang biasanya tidak terasa seperti aktivitas.
Kamu hanya berjalan ke kamar.
Membuka laci.
Memeriksa meja.
Kemudian pindah ke ruangan lain.
Lima atau sepuluh menit berlalu.
Barang akhirnya ditemukan di tempat yang sebenarnya sudah kamu lewati tadi.
Wah, bikin gemas, ya?
Masalahnya bukan selalu karena terlalu banyak barang.
Kadang benda benda kecil memang tidak memiliki tempat tetap.
Memberikan rumah untuk barang yang sering digunakan terdengar sepele, tetapi kebiasaan ini bisa mengurangi keputusan kecil yang harus dibuat setiap hari.
Kunci di tempatnya.
Charger di tempatnya.
Gunting di tempatnya.
Selesai.

Terlalu Lama Memilih Hal Kecil



Mau makan apa?
Pakai baju yang mana?
Mulai pekerjaan dari mana?
Pesan menu apa?
Kelihatannya semua hanya keputusan sederhana.
Namun, kalau setiap keputusan kecil membutuhkan waktu lama, energi mental juga ikut terkuras.
Kamu bisa menghabiskan waktu cukup banyak hanya karena terus membandingkan pilihan yang sebenarnya tidak terlalu berbeda.
Nah, tidak semua hal membutuhkan keputusan terbaik.
Untuk urusan kecil, keputusan yang cukup baik sering kali sudah cukup.
Misalnya menentukan menu sarapan. Tidak perlu melakukan rapat internal di kepala selama dua puluh menit.


Pilih.
Lakukan.
Lanjutkan aktivitas.
Hidup jadi lebih ringan.
Membuka Banyak Tab dan Berpindah Pekerjaan
Pekerjaan belum selesai, tetapi kamu sudah membuka email.
Belum selesai membaca email, pindah ke dokumen.
Kemudian melihat pesan.
Setelah itu kembali ke pekerjaan pertama.
Terlihat produktif karena banyak hal sedang dibuka.
Padahal, bisa saja pekerjaan justru menjadi lebih lambat.
Setiap kali berpindah fokus, otak membutuhkan waktu untuk kembali memahami apa yang sedang dikerjakan.
Kalau kamu sering merasa, “Kok dari tadi kerja tetapi tidak selesai selesai?” coba lihat apakah kamu terlalu sering berpindah tugas.
Selesaikan satu bagian terlebih dahulu jika memungkinkan.
Baru kemudian pindah.


Simple, sih.
Tetapi efeknya lumayan terasa.
Menunda Karena Ingin Menunggu Mood
Ada pekerjaan yang sebenarnya hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit.
Tetapi kamu menundanya.
“Nanti saja kalau sudah mood.”
Kemudian sore.
Masih belum mood.
Malam tiba.
Pekerjaan belum di sentuh.
Akhirnya kamu mengerjakannya sambil terburu buru.
Nah, menunggu mood bisa menjadi jebakan yang halus.
Tidak semua pekerjaan membutuhkan inspirasi.
Beberapa hal hanya perlu di mulai.
Coba gunakan aturan sederhana.
Kerjakan lima menit saja.
Setelah mulai, biasanya hambatan terbesar sudah lewat.
Kalau kemudian kamu ingin melanjutkan, bagus.


Kalau memang tidak bisa, setidaknya pekerjaan sudah bergerak.

Terlalu Sering Mengulang Pekerjaan yang Sama


Kamu pernah membuat daftar belanja, tetapi lupa membawanya?
Atau sudah menjelaskan sesuatu, kemudian harus menjelaskan lagi karena informasi sebelumnya tidak tercatat?
Kebiasaan mengandalkan ingatan untuk semua hal bisa membuat pekerjaan berulang.
Begitu juga ketika tidak memiliki sistem sederhana untuk pekerjaan rutin.
Misalnya setiap minggu harus membuat daftar yang sama.
Daripada memulai dari nol terus menerus, buat template.
Daftar belanja bisa memiliki format tetap.
Pekerjaan mingguan bisa menggunakan checklist.
Email yang sering dikirim dapat memiliki pola dasar.


Nah, sekali membuat sistem mungkin membutuhkan waktu sedikit lebih lama.
Tetapi setelah itu, kamu tidak perlu mengulang pekerjaan yang sama dari awal.
Merapikan Sesuatu Berkali Kali
Ada orang yang suka merapikan meja.
Bagus.
Namun, kalau meja di rapikan, kemudian barang di keluarkan lagi, lalu di rapikan lagi tanpa sistem penyimpanan yang jelas, waktunya akan terus berulang.
Begitu pula dengan rumah.
Kamu mungkin merasa sudah membereskan kamar berkali kali, tetapi beberapa jam kemudian kembali berantakan.
Coba jangan hanya merapikan.
Cari penyebabnya.


Barang apa yang paling sering berserakan?
Kenapa benda itu selalu kembali ke tempat tersebut?
Apakah tempat penyimpanannya terlalu jauh?
Apakah jumlah barangnya terlalu banyak?
Nah, membereskan sumber masalah biasanya jauh lebih efektif daripada terus menerus menangani akibatnya.
Terlalu Sering Berkata “Sebentar”
Ini kebiasaan yang kelihatannya tidak berbahaya.
“Sebentar, aku cek dulu.”
Atau”Sebentar, aku rebahan.”
“Sebentar, lihat satu video.”
Juga “Sebentar, balas pesan.”
Masalahnya, kata “sebentar” sering tidak punya ukuran yang jelas.
Lima menit bisa berubah menjadi tiga puluh menit.


Satu video menjadi sepuluh video.
Satu episode menjadi tiga.
Lho, waktu memang tidak terasa ketika kita tidak menentukan batasnya.
Kalau kamu ingin istirahat, istirahatlah dengan sadar.
Tentukan durasinya.
Setelah itu kembali.
Jeda yang direncanakan jauh berbeda dengan waktu yang menguap tanpa terasa.

Terlalu Banyak Membuat Rencana, Terlalu Sedikit Memulai



Merencanakan sesuatu memang penting.
Namun, ada titik ketika perencanaan justru menjadi bentuk penundaan yang terlihat produktif.
Kamu mencari aplikasi produktivitas.
Membuat jadwal.
Mengatur warna kalender.
Menulis daftar tugas.
Membuat daftar prioritas.
Besoknya?
Belum mulai.
Wah, ini jebakan yang cukup halus.
Perencanaan seharusnya membantu kamu bergerak, bukan menjadi aktivitas pengganti pekerjaan.
Setelah rencana cukup jelas, mulai dari langkah paling kecil.
Tidak perlu menunggu semuanya sempurna.

Apa yang Sebenarnya Menghabiskan Waktu Kita?


Sering kali bukan satu aktivitas besar.
Waktu justru bocor melalui celah kecil.
Ponsel yang dibuka tanpa tujuan.
Barang yang selalu dicari.
Keputusan kecil yang terlalu lama dipikirkan.
Pekerjaan yang terus ditunda.
Fokus yang berpindah pindah.
Pekerjaan rutin yang selalu dikerjakan dari nol.
Dan jeda “sebentar” yang ternyata berlangsung cukup panjang.
Nah, kabar baiknya, kamu tidak harus mengubah seluruh hidup sekaligus.
Pilih satu kebiasaan yang paling sering mencuri waktumu.


Kalau ponsel menjadi masalah, beri batas.
Lalu Kalau sering kehilangan barang, tetapkan tempatnya.
Kalau terlalu lama memilih, sederhanakan pilihan.
Kalau pekerjaan selalu ditunda, mulai lima menit.
Dan Kalau pekerjaan rutin berulang, buat sistem.
Perubahan kecil seperti ini mungkin tidak terlihat spektakuler.
Tetapi justru karena sederhana, kemungkinan untuk dilakukan setiap hari jauh lebih besar.
Kamu tidak perlu menjadi manusia super produktif.
Tidak harus bangun pukul lima pagi, membuat jadwal setiap menit, atau mengisi setiap waktu dengan pekerjaan.
Kadang, produktivitas justru dimulai dari berhenti melakukan hal yang sebenarnya tidak perlu.
Jadi, kalau nanti malam kamu kembali bertanya, “Seharian tadi waktuku habis ke mana, ya?”


Coba jangan langsung menyalahkan diri sendiri.
Lihat saja kebiasaan kecilmu.
Mungkin ada beberapa menit yang pergi karena ponsel.
Ada waktu yang hilang karena mencari barang.
Juga Ada energi yang terkuras karena terlalu banyak memilih.
Ada pekerjaan yang memanjang karena terus berpindah fokus.
Nah, ketika kebocoran kecil itu mulai kamu tutup satu per satu, kamu akan menyadari sesuatu.
Ternyata kamu tidak selalu kekurangan waktu.
Bisa jadi selama ini, waktumu hanya terlalu sering pergi lewat pintu yang kecil.

Exit mobile version