Site icon Ngalam Life

Kalau Pasangan Kamu NPD? Mungkin Masalah Terbesarnya Bukan yang Kamu Kira

Coba bayangkan dulu ada sebuah hubungan yang dari luar terlihat baik baik saja. Tidak selalu ada pertengkaran besar. Tidak ada drama setiap hari. Bahkan kadang pasangan terlihat sangat perhatian.
Tapi entah kenapa, setelah bertahun tahun bersama, kamu merasa lelah.
Bukan lelah karena pekerjaan.
Bukan lelah karena rutinitas.
Melainkan lelah karena selalu merasa “menghilang”.
Nah, ini pengalaman yang cukup sering di ceritakan oleh orang orang yang hidup bersama pasangan dengan kecenderungan NPD atau Narcissistic Personality Disorder.
Menariknya, masalah terbesar dalam hubungan seperti ini sering bukan terletak pada sikap pasangan yang selalu ingin menjadi pusat perhatian.
Wah, lalu apa dong?
Jawabannya mungkin akan membuatmu berpikir cukup lama.
Masalah terbesar justru sering muncul ketika kamu perlahan kehilangan identitas dirimu sendiri.
.

Saat Kamu Tidak Lagi Menjadi Tokoh Utama dalam Hidupmu

Begini ya, guys!
Dalam hubungan yang sehat, dua orang saling berbagi ruang.
Ada ruang untuk cerita kamu.
Juga Ada ruang untuk cerita dia.
Ada ruang untuk impianmu.
Dan Ada ruang untuk impiannya.
Namun ketika pasangan memiliki kecenderungan NPD, tanpa di sadari hubungan bisa berubah seperti sebuah panggung teater.
Satu orang menjadi pemeran utama.
Satu orang lagi menjadi kru belakang layar.
Nah, yang sering mengejutkan adalah banyak pasangan tidak sadar saat proses itu sedang terjadi.
Awalnya kamu hanya sedikit mengalah.
Lalu sedikit lagi.
Kemudian sedikit lagi.
Sampai suatu hari kamu lupa kapan terakhir kali keputusan besar dalam hidup di buat berdasarkan keinginanmu sendiri.
Lho, kok bisa begitu?
Karena perubahan besar sering di mulai dari kompromi kompromi kecil yang berlangsung bertahun tahun.

Kamu Mulai Meminta Izin untuk Menjadi Dirimu Sendiri


Ini salah satu tanda nya!
Biasanya orang berpikir hubungan dengan pasangan NPD selalu penuh pertengkaran.
Padahal tidak selalu.
Kadang yang terjadi justru lebih halus.
Misalnya kamu ingin mencoba hobi baru.
Tapi sebelum melakukannya, kamu berpikir:
“Nanti dia setuju nggak ya?”
Kamu ingin bertemu teman lama.
Tapi yang muncul pertama kali bukan rasa senang.
Melainkan rasa khawatir.
“Kira kira dia marah nggak ya?”
Nah, kalau hampir semua keputusan hidupmu harus melewati filter persetujuan pasangan, itu layak menjadi bahan refleksi.

Karena hubungan yang sehat tidak membuat seseorang takut menjadi dirinya sendiri.

Aneh Tapi Nyata, Kamu Bisa Merasa Kesepian Meski Tidak Sendirian
Wah, ini bagian serius dan cukup menyentuh sih!
Banyak orang mengira kesepian hanya di rasakan ketika seseorang hidup sendiri.
Padahal ada jenis kesepian yang lebih sunyi.
Kesepian saat berada di samping seseorang yang tidak benar-benar melihatmu.
Kamu bercerita.
Dia mendengar.
Tapi sebenarnya tidak mendengarkan.
Kamu berbagi perasaan.
Dia menjawab.
Tapi tidak memahami.
Kamu hadir setiap hari.
Namun keberadaanmu terasa seperti pelengkap.
Nah, kondisi inilah yang sering membuat seseorang merasa kosong meski sedang berada dalam sebuah hubungan.
Saat Prestasimu Terasa Tidak Penting
Halo teman, coba ingat sebentar.
Kapan terakhir kali kamu mendapatkan apresiasi tulus dari pasangan?
Bukan sekadar ucapan singkat.
Tetapi apresiasi yang benar benar menunjukkan bahwa dia bangga terhadapmu.

Orang dengan kecenderungan NPD kadang mengalami kesulitan memberi ruang bagi keberhasilan orang lain.

Bukan karena mereka selalu jahat.
Melainkan karena perhatian mereka sering kembali berpusat pada dirinya sendiri.
Misalnya saat kamu bercerita tentang pencapaianmu.
Lima menit kemudian pembicaraan berubah menjadi cerita keberhasilannya.
Atau mungkin pengalamanmu justru di banding bandingkan dengan pengalaman dirinya.
Lho, kalau terus begitu bagaimana?
Lama lama seseorang bisa merasa pencapaiannya tidak berarti.
Padahal setiap manusia membutuhkan pengakuan yang sehat dari orang-orang terdekatnya.
Kenapa Kamu Tetap Bertahan?
Nah, ini pertanyaan yang menarik.
Banyak orang dari luar mungkin berkata:
“Kalau tidak bahagia, kenapa tidak pergi saja?”
Sayangnya hubungan manusia tidak sesederhana itu.
Sering kali pasangan dengan kecenderungan NPD juga memiliki sisi yang sangat menarik.
Mereka bisa karismatik.
Juga Mereka bisa cerdas.
Mereka bisa membuatmu merasa sangat spesial pada waktu waktu tertentu.
Karena itulah hubungan menjadi membingungkan.
Hari ini kamu merasa sangat dicintai.
Besok kamu merasa tidak dianggap.
Hari ini kamu merasa istimewa.
Besok kamu merasa tidak terlihat.
Perubahan suasana yang naik turun inilah yang sering membuat seseorang sulit mengambil keputusan.

Jangan Sibuk Memperbaiki NPD Dia Sampai Lupa Memeriksa Dirimu

Wah, ini penting sekali.
Saat mengetahui pasangan memiliki kecenderungan NPD, banyak orang langsung fokus mencari solusi untuk mengubah pasangannya.
Mereka membaca artikel.
Menonton video.
Mengikuti seminar hubungan.
Semua demi membuat pasangan berubah.
Padahal ada pertanyaan yang lebih penting.
Bagaimana kondisi emosionalmu saat ini?
Apakah kamu masih merasa percaya diri?
Lalu Apakah kamu masih mengenali dirimu sendiri?
Apakah kamu masih punya kebahagiaan di luar hubungan tersebut?
Karena terkadang yang membutuhkan perhatian pertama justru bukan pasanganmu.
Melainkan dirimu sendiri.

Hubungan Sehat Tidak Membuatmu Mengecil

Guys, ada satu kalimat yang layak di ingat.
Cinta yang sehat membuat seseorang berkembang.
Bukan mengecil.
Jika setiap tahun kamu merasa semakin takut berbicara, semakin ragu mengambil keputusan, semakin kehilangan keberanian menjadi diri sendiri, mungkin ada sesuatu yang perlu dievaluasi.
Bukan untuk menyalahkan siapa pun.
Tetapi untuk memahami realitas hubungan dengan jujur.
Jadi Kalau Pasangan Kamu NPD?
Kalau pasangan kamu NPD, jangan langsung fokus pada cara mengubahnya.
Mulailah dengan melihat bagaimana hubungan itu memengaruhi hidupmu.


Apakah kamu masih bisa menjadi dirimu sendiri?
Lalu Apakah kebutuhan emosionalmu masih mendapat ruang?
Apakah suaramu masih didengar?
Nah, pertanyaan pertanyaan itulah yang sering terlupakan.
Padahal jawabannya bisa memberikan gambaran jauh lebih jelas dibanding sekadar mencari label atau diagnosis.
Karena pada akhirnya, hubungan bukan tentang siapa yang paling dominan atau siapa yang paling sering menang.
Hubungan adalah tempat dua orang merasa di hargai.
Dan yes, kamu juga berhak menjadi orang yang di hargai dalam hubungan itu, bukan hanya menjadi penonton dalam cerita hidup pasanganmu.

Exit mobile version