Site icon Ngalam Life

Jangan Pickme! Kamu Akan Kehilangan Orang Orang di Sekitarmu

Ada satu jenis manusia yang sebenarnya tidak pernah benar benar sendirian.
Temannya banyak.
Yang menyukai unggahannya juga banyak.
Yang mengajaknya pergi juga ada.
Tetapi anehnya, semakin lama orang-orang mengenalnya, semakin sedikit yang ingin berada di dekatnya.
Bukan karena dia jahat.
Bukan pula karena dia tidak menyenangkan.
Masalahnya satu.
Dia terlalu sibuk membuktikan bahwa dirinya berbeda.
“Kalau aku sih…”
Kalimat itu terdengar biasa.
Sangat biasa.
Sampai kamu mendengarnya untuk yang ke-37 kalinya dalam satu percakapan.
Teman temannya suka makeup.
“Kalau aku sih nggak suka dandan.”
Ada yang suka memakai pakaian feminin.
“Kalau aku sih lebih nyaman pakai baju biasa.”
Seseorang sedang bercerita tentang hubungan.
“Kalau aku sih nggak pernah seribet itu.”
Ada perempuan lain yang sedang dipuji.
“Kalau aku sih nggak butuh perhatian seperti itu.”
Nah.
Di sinilah sesuatu mulai terasa aneh.
Bukan karena kamu punya pilihan yang berbeda.
Tetapi karena setiap pilihanmu selalu membutuhkan penonton.
Kamu tidak sedang berbeda. Kamu sedang mengumumkan perbedaanmu
Mari kita bedakan dua hal.
Ada orang yang memang tidak suka makeup.
Dia tidak memakai makeup.
Selesai.
Ada juga orang yang tidak suka makeup, lalu merasa perlu menjelaskan bahwa perempuan yang memakai makeup itu terlalu berlebihan.
Ini sudah bukan lagi soal makeup.
Ini soal kebutuhan untuk merasa lebih baik.
Kamu boleh tidak suka sesuatu.
Serius.
Boleh.
Tidak ada yang akan memaksamu memakai lipstik, membeli skincare, menggunakan pakaian feminin, atau mengikuti tren tertentu.
Namun, ketika kamu berkata, “Aku tidak seperti perempuan lain,” dengan nada seolah-olah perempuan lain lebih rendah, nah, itu bukan lagi kepribadian.
Itu sedang mencari tepuk tangan.
Dan biasanya, tepuk tangan tersebut diharapkan datang dari orang tertentu.
“Aku beda, kan?”
Tolong jawab.
“Ya.”
Maka misi selesai.
Pickme itu bukan tentang apa yang kamu suka
Ini yang sering salah dipahami.
Perempuan yang tidak suka makeup belum tentu pickme.
Perempuan yang suka berteman dengan laki-laki belum tentu pickme.
Perempuan yang tidak suka rok belum tentu pickme.
Perempuan yang tidak suka bunga, tidak suka difoto, tidak suka pesta, atau lebih suka bermain game juga belum tentu pickme.
Pickme bukan tentang pilihan.
Pickme adalah ketika pilihan itu dijadikan panggung.
Kamu tidak hanya berkata, “Aku suka ini.”
Kamu berkata, “Aku suka ini, dan orang yang tidak suka ini lebih buruk dariku.”
Nah, perbedaannya ada di sana.
Kamu tidak sedang menjadi unik.
Kamu sedang mencari posisi yang lebih tinggi.
Padahal, tidak ada podium.
Tidak ada medali.
Tidak ada juri.
Hanya kamu dan orang-orang yang mulai diam karena lelah mendengar bagaimana kamu terus-menerus menjelaskan bahwa kamu berbeda.
Yang paling melelahkan dari orang pickme adalah semua hal harus kembali kepadanya
Temanmu mendapatkan pujian.
Kamu ikut masuk.
Temanmu bercerita tentang masalah.
Kamu punya masalah yang lebih berat.
Seseorang membeli sesuatu.
Kamu pernah membeli yang lebih mahal.
Ada yang berhasil.
Kamu sebenarnya bisa, hanya saja tidak mau.
Seseorang sedang bahagia.
Kamu bilang kamu tidak membutuhkan kebahagiaan seperti itu.
Begitu terus.
Percakapan berubah menjadi pertandingan yang tidak pernah disepakati siapa pun.
Dan yang lebih aneh, kamu mungkin tidak sadar sedang bertanding.
Kamu hanya merasa sedang menjadi dirimu sendiri.
Padahal, orang lain sudah mulai berhati-hati ketika berbicara denganmu.
Karena mereka tahu, apa pun topiknya, kamu akan menemukan cara untuk mengatakan:
“Aku berbeda.”
Lama-lama, orang tidak lagi ingin bercerita.
Bukan karena mereka membencimu.
Mereka hanya tidak ingin setiap cerita berubah menjadi kompetisi.
Kamu tidak harus membenci perempuan lain agar terlihat menarik
Ini mungkin bagian yang paling sering muncul.
“Aku lebih nyaman berteman dengan cowok. Cewek terlalu banyak drama.”
Kalimat ini sudah terlalu sering dipakai sampai hampir menjadi slogan.
Tapi coba kita balik.
Kalau kamu bertemu sepuluh perempuan yang semuanya menyebalkan, apakah kesimpulannya semua perempuan menyebalkan?
Tentu tidak.
Mungkin kamu bertemu sepuluh orang yang memang menyebalkan.
Begitu saja.
Jenis kelaminnya bukan penjelasan ilmiah untuk perilaku buruk.
Begitu juga dengan perempuan yang suka makeup.
Mereka tidak sedang meminta maaf karena ingin terlihat cantik.
Perempuan yang suka pakaian feminin juga tidak sedang kehilangan harga diri.
Perempuan yang suka menerima bunga tidak otomatis manja.
Dan perempuan yang ingin diperhatikan tidak otomatis lemah.
Kamu boleh berbeda dari mereka.
Tetapi jangan menjadikan mereka sebagai tangga untuk membuat dirimu terlihat lebih tinggi.
Karena, lho, kalau kamu harus menginjak orang lain untuk terlihat tinggi, mungkin sebenarnya kamu tidak setinggi itu.
Kamu bisa kehilangan teman tanpa pernah bertengkar
Ini bagian yang paling sunyi.
Tidak ada drama.
Tidak ada pesan panjang.
Tidak ada pengumuman, “Aku tidak mau berteman denganmu lagi.”
Orang-orang hanya perlahan berhenti menghubungi.
Tidak lagi mengajak pergi.
Tidak lagi bercerita.
Tidak lagi meminta pendapat.
Dan kamu mungkin bertanya, “Kenapa?”
Jawabannya mungkin bukan karena kamu terlalu buruk.
Bisa jadi, mereka hanya lelah.
Lelah menjadi penonton.
Lelah mendengar kamu menjelaskan betapa berbedanya dirimu.
Lelah merasa bahwa untuk dekat denganmu, mereka harus selalu setuju.
Padahal, pertemanan tidak membutuhkan seseorang yang paling unik.
Pertemanan membutuhkan seseorang yang aman.
Seseorang yang bisa mendengar tanpa langsung mengambil alih cerita.
Seseorang yang bisa berbeda tanpa membuat orang lain merasa bodoh.
Seseorang yang tidak menjadikan setiap percakapan sebagai panggung audisi.
Coba matikan kamera sebentar
Bukan kamera di ponsel.
Kamera di kepalamu.
Kamera yang terus bertanya:
“Bagaimana aku terlihat?”
“Apakah mereka menganggapku berbeda?”
“Apakah aku terlihat lebih menarik?”
“Apakah aku mendapatkan perhatian?”
Kadang-kadang, kamu tidak perlu menjadi siapa-siapa.
Tidak perlu menjadi perempuan paling santai.
Tidak perlu menjadi perempuan paling unik.
Tidak perlu menjadi perempuan yang “tidak seperti perempuan lain”.
Kamu boleh suka makeup hari ini dan tidak suka makeup besok.
Boleh suka nongkrong.
Boleh suka di rumah.
Boleh menangis.
Boleh ingin diperhatikan.
Boleh tidak peduli.
Kamu manusia.
Bukan produk yang harus memiliki positioning berbeda dari kompetitor.
Nah, ini penting.
Kamu tidak sedang membangun merek pribadi setiap detik dalam hidupmu.
Jadi, bagaimana kalau kamu berhenti menjadi pickme?
Mulailah dari hal kecil.
Ketika temanmu dipuji, tidak perlu buru-buru menceritakan kelebihanmu.
Cukup katakan, “Wah, kamu memang keren.”
Ketika seseorang menyukai sesuatu yang tidak kamu sukai, tidak perlu langsung menghakimi.
Cukup katakan, “Aku kurang suka, tapi kalau kamu suka, ya bagus.”
Ketika seseorang mendapatkan perhatian, jangan buru-buru merebutnya kembali.
Biarkan.
Dunia tidak akan runtuh hanya karena hari ini bukan kamu yang paling dilihat.
Dan ketika kamu memang berbeda, tidak perlu terus mengumumkannya.
Orang-orang akan tahu.
Percaya, mereka tahu.
Sebab orang yang benar-benar berbeda tidak perlu berkeliling membawa spanduk bertuliskan:
“Aku berbeda.”
Jadi, jangan pickme.
Bukan karena kamu harus menjadi seperti orang lain.
Justru sebaliknya.
Jadilah dirimu sendiri.
Tapi jadilah dirimu sendiri tanpa perlu menjadikan orang lain terlihat buruk.
Karena ada perbedaan besar antara menjadi unik dan mati-matian ingin dianggap unik.
Yang pertama membuat orang tertarik.
Yang kedua membuat orang lelah.
Dan lho, kamu mungkin tidak kehilangan orang-orang di sekitarmu karena mereka tidak menyukaimu.
Mungkin mereka hanya kehabisan tenaga untuk terus meyakinkanmu bahwa kamu memang spesial.
Padahal, kamu tidak perlu terus meminta dunia mengatakannya.
Kamu sudah cukup berharga bahkan ketika tidak sedang menjadi orang yang paling berbeda di dalam ruangan.

Exit mobile version