Ada satu hal yang cukup menarik dalam kehidupan.
Orang yang terlalu egois biasanya tidak sadar kalau dirinya egois.
Lalu Orang yang terlalu mendominasi sering merasa dirinya hanya sedang percaya diri.
Orang yang suka meremehkan perasaan orang lain kadang justru merasa dirinya paling peduli.
Lho, kok bisa begitu?
Karena manusia punya kebiasaan unik. Kita bisa melihat debu di baju orang lain, tetapi sering gagal melihat noda yang menempel di baju sendiri.
Nah, ketika membahas NPD atau perilaku narsistik, banyak orang langsung menunjuk ke luar.
“Itu si A.”
“Itu mantanku.”
“Itu bosku.”
“Itu temanku.”
Padahal sesekali ada baiknya kita bercermin.
Bukan karena kita pasti NPD. Bukan juga karena kita pasti bermasalah.
Tetapi karena kemampuan mengevaluasi diri adalah salah satu tanda kedewasaan yang paling mahal.
Wah, artikel ini mungkin sedikit berbeda dari yang biasa kamu baca. Kita tidak akan membahas definisi panjang atau teori psikologi yang bikin mengantuk. Kita akan membahas tanda-tanda kecil yang sering dianggap normal, padahal diam diam bisa membuat orang lain lelah berada di dekat kita.
Kalau Semua Cerita Selalu Berakhir Tentang Kamu, Itu sih tanda Kecilnya
Coba ingat obrolan terakhirmu dengan teman.
Saat dia bercerita tentang masalahnya, apa yang terjadi?
Apakah kamu benar benar mendengarkan?
Atau lima detik kemudian langsung berkata:
“Wah, kalau aku sih pernah lebih parah.”
Nah, di sinilah banyak orang terjebak.
Mereka mengira sedang membangun koneksi.
Padahal sebenarnya mereka sedang mencuri panggung.
Setiap cerita yang masuk selalu diputar balik menjadi cerita dirinya sendiri.
Lama lama orang akan merasa tidak didengar.
Mereka hanya menjadi penonton dalam acara yang selalu dibintangi oleh satu orang.
Kalau kamu ingin terhindar dari perilaku narsistik, belajar diam sesaat bisa menjadi latihan yang luar biasa.
Bukan diam karena tidak tahu harus menjawab apa.
Tetapi diam karena benar benar ingin memahami.
Berhenti Mengoleksi Penggemar, Mulailah Mengoleksi Hubungan
Wah, ini menarik.
Sebagian orang tidak mencari teman.
Mereka mencari penonton.
Mereka senang ketika dipuji.
Senang ketika dikagumi.
Senang ketika dianggap hebat.
Tetapi anehnya, mereka tidak terlalu tertarik mengenal orang lain secara mendalam.
Nah sahabat, hubungan yang sehat tidak dibangun dari kekaguman.
Hubungan dibangun dari ketulusan.
Kalau kamu hanya nyaman bersama orang yang selalu memuji, hati hati.
Bisa jadi kamu sedang membangun panggung, bukan persahabatan.
Jangan Jadikan Kritik Sebagai Serangan Pribadi
Lho, siapa sih yang suka dikritik?
Hampir tidak ada.
Namun ada perbedaan besar antara orang yang sehat secara emosional dan orang yang terlalu berpusat pada dirinya sendiri.
Ketika mendapatkan kritik, orang yang sehat berpikir:
“Mungkin ada yang bisa aku pelajari.”
Sementara orang yang narsistik sering berpikir:
“Dia menyerangku.”
Padahal belum tentu.
Kadang kritik hanyalah informasi.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Nah, mulai sekarang cobalah mendengar kritik tanpa langsung memasang tameng.
Bukan berarti semua kritik benar.
Tetapi bukan berarti semuanya salah juga.
Belajar Mengucapkan Kalimat yang Jarang Dipakai Banyak Orang
Ada tiga kalimat yang sangat sederhana.
Tetapi sangat berat bagi sebagian orang.
Kalimat pertama:
“Aku salah.”
Kalimat kedua:
“Saya tidak tahu.”
Kalimat ketiga:
“Tolong ajari aku.”
Wah, kalau kamu mampu mengucapkan tiga kalimat ini dengan tulus, peluang terjebak dalam perilaku narsistik akan jauh lebih kecil.
Karena inti dari sikap narsistik sering kali adalah kebutuhan untuk selalu terlihat hebat.
Padahal manusia tidak harus selalu hebat.
Kadang menjadi manusia biasa jauh lebih menenangkan.
Dunia Tidak Sedang Mengadakan Kompetisi Rahasia
Nah, ini penyakit yang cukup modern.
Ada orang yang masuk ke sebuah ruangan dan langsung membandingkan dirinya dengan semua orang.
Siapa yang lebih kaya.
Lalu Siapa yang lebih pintar.
Siapa yang lebih sukses.
Dan Siapa yang lebih terkenal.
Padahal orang lain mungkin sedang memikirkan makan siang mereka.
Bukan sedang menilai dirinya.
Lho, lucu ya?
Kita sering merasa diperhatikan jauh lebih besar daripada kenyataannya.
Akibatnya, hidup terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai.
Kalau ada yang lebih sukses, kita gelisah.
Namun Kalau ada yang lebih hebat, kita terancam.
Kalau ada yang lebih populer, kita minder.
Nah, pola pikir seperti ini sering menjadi bahan bakar bagi perilaku narsistik.
Cobalah Menjadi Orang yang Membuat Orang Lain Bersinar
Ada dua jenis orang di dunia.
Orang pertama masuk ruangan dan berkata:
“Lihat aku.”
Orang kedua masuk ruangan dan membuat orang lain merasa:
“Aku dilihat.”
Wah, bedanya tipis tetapi dampaknya luar biasa.
Orang tipe pertama mungkin menarik perhatian.
Namun orang tipe kedua biasanya memenangkan hati banyak orang.
Karena setiap manusia ingin merasa dihargai.
Ingin merasa didengar.
Ingin merasa dianggap penting.
Nah, kalau kamu ingin menjadi pribadi yang lebih sehat secara emosional, fokuslah membuat orang lain merasa bernilai.
Bukan terus menerus membuktikan bahwa dirimu bernilai.
Jangan Terlalu Sibuk Membangun Citra
Kadang seseorang terlihat narsistik bukan karena mencintai dirinya sendiri secara berlebihan.
Justru karena diam diam dia takut di anggap tidak cukup.
Maka dia membangun citra.
Harus terlihat sukses.
Juga Harus terlihat sempurna.
Harus terlihat hebat.
Dan Harus terlihat unggul.
Padahal hidup seperti itu melelahkan.
Karena citra harus terus dirawat.
Sementara keaslian tidak.
Nah sahabat, semakin nyaman kamu menjadi dirimu sendiri, semakin kecil kebutuhan untuk mencari validasi berlebihan dari orang lain.
Jangan jadi NPD bukan berarti kamu harus berhenti mencintai diri sendiri.
Justru sebaliknya.
Cintai dirimu dengan cara yang sehat.
Bukan dengan merasa lebih tinggi dari orang lain.
Dan Bukan dengan selalu ingin menjadi pusat perhatian.
Bukan dengan menuntut semua orang mengagumimu.
Melainkan dengan cukup nyaman menjadi manusia biasa yang terus belajar.
Karena lho ya, orang yang paling menyenangkan biasanya bukan orang yang paling kaya, paling pintar, atau paling terkenal.
Melainkan orang yang membuat kita merasa nyaman menjadi diri sendiri saat berada di dekatnya.
Nah, kalau kamu bisa menjadi pribadi seperti itu, percaya deh, kamu tidak hanya akan disukai banyak orang. Kamu juga akan memiliki hubungan yang jauh lebih tulus, lebih sehat, dan lebih bertahan lama dibanding sekadar mendapatkan perhatian sesaat.
