Site icon Ngalam Life

Decluttering Rumah! Barang Apa Saja yang Sebaiknya Mulai Disingkirkan?

Pernah membuka lemari hanya untuk mencari satu baju, tetapi yang keluar malah tumpukan barang yang entah sejak kapan ada di sana?
Kamu cari kaus yang biasa di pakai di rumah. Tidak ketemu.
Geser tumpukan sebelah kiri, masih ada baju yang sudah lama tidak dipakai. Buka bagian bawah, ternyata ada tas lama. Di sudut lain, muncul kotak bekas barang elektronik.
Nah, di titik seperti ini biasanya kita sadar satu hal. Rumah ternyata bukan kekurangan tempat. Bisa jadi barangnya memang sudah terlalu banyak.
Wah, decluttering terdengar sederhana, tetapi praktiknya sering bikin kita maju mundur. Ada barang yang sebenarnya sudah tidak di gunakan, tetapi sayang di buang. Ada pula benda yang di simpan dengan alasan, “Siapa tahu nanti perlu.”


Masalahnya, kata “nanti” itu kadang berlangsung sampai bertahun tahun.
Jadi, kalau kamu sedang ingin membuat rumah terasa lebih lega, tidak perlu langsung membongkar seluruh isi rumah. Mulailah dari barang barang yang paling sering memenuhi ruang tetapi paling jarang benar benar di gunakan.

Baju yang Tidak Pernah Lagi Kamu Pakai


Coba buka lemari.
Ada baju yang masih bagus, tetapi sudah bertahun tahun tidak pernah kamu kenakan?
Ada pula pakaian yang ukurannya sudah tidak sesuai, tetapi tetap di simpan karena merasa suatu saat mungkin akan muat lagi.
Nah, inilah salah satu tempat terbaik untuk memulai decluttering.
Tidak perlu membuang pakaian yang masih layak. Kamu bisa memilahnya menjadi beberapa kelompok.
Mana yang masih sering di pakai?
Lalu Mana yang hanya di gunakan sesekali?
Mana yang sudah rusak?
Dan Mana yang masih bagus tetapi tidak pernah disentuh?
Untuk pakaian yang masih layak namun tidak digunakan, kamu bisa menyumbangkan atau memberikannya kepada orang lain.
Lemari bukan gudang kenangan, lho.
Kalau sebuah pakaian hanya memenuhi tempat tetapi tidak lagi punya fungsi dalam kehidupanmu, mungkin sudah waktunya mencari pemilik baru.

Kotak dan Kemasan yang Disimpan “Barangkali Berguna”



Punya kebiasaan menyimpan kardus bekas?
Kotak sepatu?
Toples bekas?
Kemasan skincare?
Botol kosong?
Hmm, coba lihat lagi.
Sebenarnya berapa banyak yang benar benar kamu gunakan?
Menyimpan beberapa kotak untuk kebutuhan tertentu tentu tidak masalah. Yang membuat rumah terasa penuh adalah ketika semua kemasan di anggap masih berguna.
“Kotaknya bagus.”
“Nanti bisa di pakai.”
“Sayang kalau di buang.”
Kalimat semacam itu terdengar familiar, ya?
Nah, buat aturan sederhana. Kalau memang ada rencana penggunaan yang jelas, simpan. Kalau hanya di simpan karena merasa suatu hari mungkin berguna, pertimbangkan kembali.
Jangan sampai rumahmu berubah menjadi tempat penyimpanan barang yang belum tentu pernah di gunakan.

Peralatan Dapur yang Jumlahnya Terlalu Banyak



Bagian dapur biasanya cukup menantang.
Ada wadah makanan dengan tutup yang entah pasangannya di mana. Juga Ada gelas yang jumlahnya terlalu banyak. Ada alat masak yang dulu di beli karena terlihat menarik, tetapi ternyata jarang digunakan.
Coba cek satu per satu.
Apakah alat tersebut masih berfungsi?
Lalu Apakah kamu benar benar menggunakannya?
Apakah ada barang lain yang bisa melakukan fungsi yang sama?
Kalau jawabannya iya, mungkin kamu tidak membutuhkan semuanya.
Bukan berarti dapur harus kosong. Justru peralatan yang memang sering di gunakan layak mendapatkan tempat yang mudah dijangkau.
Nah, decluttering bukan soal punya barang sesedikit mungkin. Prinsipnya lebih sederhana, yaitu menyisakan barang yang memang berguna untuk hidupmu.

Kosmetik dan Produk Perawatan yang Sudah Tidak Di pakai



Sekarang coba lihat meja rias atau tempat penyimpanan skincare.
Ada produk yang sudah lama tidak disentuh?
Lipstik yang warnanya ternyata tidak cocok?
Skincare yang di beli karena viral tetapi akhirnya tidak digunakan?
Atau produk yang kondisinya sudah berubah?
Kalau ada, jangan terlalu sayang untuk menyingkirkannya.
Produk perawatan tubuh bukan barang koleksi. Kalau sudah tidak di gunakan atau sudah tidak layak, sebaiknya tidak memenuhi ruang penyimpanan.
Kamu tidak harus menunggu tempatnya penuh dulu untuk memilah.
Sedikit demi sedikit justru lebih ringan.

Kabel yang Tidak Jelas Milik Apa



Nah, ini dia salah satu penghuni rumah yang misterius.
Kabel.
Ada kabel charger lama. Lalu Ada kabel pendek yang tidak di ketahui untuk perangkat apa. Ada adaptor yang sudah tidak pernah di gunakan.
Biasanya semuanya di kumpulkan dalam satu kotak dengan harapan suatu hari akan dibutuhkan.
Padahal ketika benar benar membutuhkan kabel, kita malah bingung mencari yang tepat.
Coba keluarkan semua kabel.
Pisahkan berdasarkan perangkat.
Kalau sudah tidak punya perangkat yang menggunakan kabel tersebut, tanyakan lagi apakah masih ada alasan untuk menyimpannya.
Kalau tidak, mungkin sudah waktunya di lepaskan.

Barang Rusak yang Terus Menunggu Di perbaiki



“Besok di perbaiki.”
Kalimat ini bisa membuat barang rusak tinggal di rumah berbulan bulan.
Kipas rusak.
Tas dengan resleting macet.
Jam yang sudah mati.
Peralatan rumah tangga yang menunggu di perbaiki.
Nah, berikan batas waktu.
Misalnya, kalau memang masih ingin memperbaikinya, tentukan kapan akan di lakukan. Kalau setelah beberapa waktu tidak juga di perbaiki, mungkin barang tersebut memang sudah tidak menjadi prioritas.
Rumah tidak perlu di penuhi benda yang menunggu kamu punya waktu.
Kalau memang penting, segera perbaiki.
Kalau tidak penting, lepaskan.

Barang Duplikat yang Sebenarnya Tidak Di butuhkan



Punya tiga gunting?
Empat botol minum?
Wadah makanan yang jumlahnya lebih banyak daripada kebutuhan keluarga?
Tidak ada yang salah dengan memiliki cadangan. Tetapi coba lihat apakah jumlahnya masih masuk akal.
Barang duplikat sering muncul tanpa disadari karena kita membeli lagi ketika lupa bahwa sebenarnya masih punya.
Nah, sebelum membeli sesuatu, biasakan mengecek rumah terlebih dahulu.
Bisa jadi barang yang kamu cari ternyata sedang bersembunyi di bagian belakang lemari.
Barang yang Disimpan Hanya Karena Merasa Tidak Enak Membuangnya
Ini mungkin bagian tersulit.
Ada hadiah dari seseorang yang sebenarnya tidak pernah digunakan.
Juga Ada barang pemberian yang tidak sesuai kebutuhan.
Ada benda peninggalan acara tertentu yang secara emosional terasa sayang untuk dibuang.
Kamu tidak harus membuang kenangannya.
Foto bisa disimpan.
Cerita bisa dikenang.
Namun, bukan berarti setiap benda harus tinggal selamanya di rumah hanya karena memiliki cerita.


Nah, kalau barang tersebut membuatmu merasa berat untuk melepasnya, tanyakan satu hal.
“Apakah aku menyimpan barang ini karena memang membutuhkannya, atau karena merasa bersalah kalau membuangnya?”
Jawabannya bisa membantu kamu mengambil keputusan.
Jangan Decluttering Satu Rumah Sekaligus
Kalau melihat rumah yang penuh barang, rasanya ingin langsung membereskan semuanya.
Eits, jangan.
Cara seperti itu justru bisa membuatmu cepat lelah.


Mulailah dari satu laci.
Besok satu rak.
Kemudian satu bagian lemari.
Tidak perlu menunggu punya waktu seharian.
Lima belas menit pun cukup.
Yang penting konsisten.
Kamu juga bisa menggunakan tiga kategori sederhana.
Simpan.
Berikan atau jual.
Singkirkan.
Dengan begitu, setiap barang memiliki keputusan yang jelas.

Rumah yang Lega Bukan Berarti Rumah yang Kosong



Pada akhirnya, decluttering bukan perlombaan untuk memiliki barang paling sedikit.
Rumah tetap boleh punya mainan anak. Tetap boleh ada koleksi buku. Tetap boleh menyimpan benda yang memiliki nilai sentimental.
Yang perlu dikurangi adalah barang yang keberadaannya sudah tidak memberikan fungsi, tetapi terus mengambil ruang.
Nah, mungkin setelah membaca ini kamu jadi ingin membuka lemari sekarang juga.
Silakan.
Namun, jangan langsung panik melihat tumpukannya.


Ambil satu bagian kecil saja.
Pilih barang yang sudah jelas tidak digunakan.
Lepaskan satu.
Kemudian satu lagi.
Pelan pelan.
Wah, mungkin awalnya terasa sepele. Tetapi ketika satu rak mulai kosong dan barang yang benar benar kamu gunakan menjadi lebih mudah ditemukan, kamu akan merasakan sendiri bedanya.
Decluttering bukan sekadar membuat rumah terlihat rapi.
Lebih dari itu, kamu sedang membuat ruang untuk kehidupan yang memang sedang kamu jalani sekarang.
Karena rumah seharusnya menjadi tempat untuk hidup, bukan tempat untuk terus menyimpan semua hal yang pernah kita miliki.

Exit mobile version