Site icon Ngalam Life

Cara Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak Sejak Kecil

Ada anak yang langsung mengangkat tangan ketika guru bertanya.
Ada pula yang sebenarnya tahu jawabannya, tetapi memilih diam.
Bukannya karena tidak tahu.
Bukan pula karena tidak mampu.
Mungkin saja dia hanya belum cukup yakin dengan dirinya sendiri.
Nah, kalau kamu punya anak yang seperti itu, jangan buru buru memberi label “pemalu”, ya.
Setiap anak punya cara berbeda dalam menghadapi dunia. Ada yang nyaman menjadi pusat perhatian, ada yang lebih suka mengamati dari jauh. Ada yang cepat akrab, ada juga yang membutuhkan waktu sebelum akhirnya mau membuka percakapan.


Wah, ternyata percaya diri tidak sesederhana anak berani tampil di depan banyak orang.
Kepercayaan diri justru terlihat dari hal hal kecil yang terjadi setiap hari. Ketika si kecil berani mencoba memakai sepatu sendiri. Ketika dia mau menjawab pertanyaan meskipun belum yakin. Saat dia berani mengatakan tidak. Atau ketika dia gagal, lalu berkata, “Aku coba lagi.”
Nah, kemampuan seperti itulah yang perlahan perlu kamu tumbuhkan sejak kecil.
Bukan supaya anak selalu terlihat berani.
Melainkan supaya dia percaya bahwa dirinya mampu menghadapi berbagai situasi.


Berikan Anak Pilihan Kecil


Pagi hari biasanya penuh keputusan.
Mau pakai baju yang mana?
Mau sarapan apa?
Buku cerita mana yang ingin di baca?
Coba, sesekali berikan anak kesempatan memilih.
Tentu bukan berarti semua keputusan ada di tangannya lho. Kamu tetap menentukan batas yang aman dan sesuai kebutuhan.
Misalnya, kamu sudah menentukan bahwa anak harus memakai pakaian yang nyaman untuk bermain. Dari dua pilihan yang kamu berikan, biarkan dia menentukan sendiri.
“Baju biru atau hijau?”
Ketika pilihannya di hargai, anak mendapatkan pengalaman sederhana bahwa pendapatnya memiliki arti.
Nah, pengalaman seperti ini akan terus menumpuk menjadi rasa percaya diri.

Biarkan Anak Mencoba Sebelum Dibantu


Ada satu kebiasaan orang tua yang sebenarnya muncul karena rasa sayang.
Anak kesulitan mengancingkan baju, langsung di bantu.
Tali sepatu belum terikat, langsung kamu kerjakan.
Mainan sulit di pasang, tangan orang tua yang mengambil alih.
Wajar banget.
Kita memang ingin membantu.
Namun, coba beri jeda beberapa detik sebelum turun tangan.
“Kamu mau coba sendiri dulu?”
Kalau dia belum bisa, kamu bisa memberikan bantuan kecil.
“Bagian ini coba di tarik pelan.”
Bukan langsung menyelesaikan semuanya.
Wah, perbedaannya mungkin terlihat kecil, tetapi pengalaman yang di rasakan anak sangat berbeda.


Dia tidak hanya mendapatkan bantuan.
Dia juga belajar bahwa dirinya mampu menyelesaikan sesuatu.
Pujilah Perjuangannya, Bukan Hanya Kepintarannya
“Anak Mama pintar banget!”
Siapa yang tidak senang mendengar kalimat itu?
Tentu boleh.
Namun, jangan hanya berhenti pada kata pintar.
Ketika anak menyelesaikan puzzle yang sulit, misalnya, kamu bisa mengatakan:
“Kamu tadi hampir menyerah, tetapi kamu coba lagi.”
Atau ketika dia belajar naik sepeda:
“Wah, kamu terus latihan sampai bisa menjaga keseimbangan.”
Nah, pujian seperti ini mengajarkan bahwa usaha memiliki nilai.
Anak pun tidak terlalu takut menghadapi sesuatu yang belum dikuasainya.
Karena dia mulai memahami satu hal.
Belum bisa bukan berarti tidak bisa.
Mungkin hanya belum bisa sekarang.

Rumah Harus Menjadi Tempat yang Aman untuk Salah


Kita coba bayangkan kalau seorang anak menjawab pertanyaan dengan keliru.
Lalu orang di sekitarnya tertawa.
Mungkin hanya bercanda.
Tetapi bagi anak, pengalaman itu bisa terasa berbeda.
Jika kesalahan berkali kali membuatnya malu, lama lama dia mungkin memilih diam daripada mencoba.
Nah, kamu bisa mengubah suasananya.
Ketika jawabannya belum tepat, katakan:
“Belum benar, yuk kita pikirkan lagi.”
Atau:
“Menurut kamu, ada jawaban lain nggak?”
Dengan begitu, anak tetap belajar tanpa merasa di permalukan.
Lho, bukankah kita memang ingin anak berani mencoba?
Kalau begitu, mereka juga membutuhkan ruang untuk salah.

Dengarkan Ceritanya, Walaupun Kelihatannya Sepele



Pernah anak bercerita panjang tentang sesuatu yang sebenarnya sederhana?
Tentang temannya yang membawa bekal berbeda.
Atau gambar yang dibuat.
Tentang serangga kecil yang di temukan di halaman.
Kadang kita sedang sibuk dan hanya menjawab, “Oh, iya.”
Padahal, perhatian kamu punya arti besar.
Coba sesekali berhenti sebentar.
Tatap wajahnya.
Dengarkan sampai selesai.
Lalu tanyakan sesuatu.
“Wah, terus setelah itu bagaimana?”
Atau:
“Kalau menurut kamu, kenapa begitu?”
Nah, ketika anak terbiasa di dengarkan, dia belajar bahwa pikirannya layak disampaikan.
Dari sinilah keberanian berbicara bisa tumbuh.

Ajarkan Anak Mengatakan Tidak



Ini salah satu bagian percaya diri yang sering terlupakan.
Kita ingin anak sopan.
Jika Kita ingin anak ramah.
Kita ingin anak mau berbagi.
Tetapi anak juga perlu tahu bahwa dirinya memiliki batas.
Tidak nyaman di peluk orang lain?
Boleh menolak dengan sopan.
Tidak mau melakukan sesuatu karena merasa takut?
Boleh mengatakan belum siap.
Tidak suka diperlakukan kasar?
Boleh meminta berhenti.
Kamu bisa mengajarkan beberapa kalimat sederhana.
“Aku tidak mau.”
Atau”Aku belum siap.”
“Aku tidak nyaman.”
“Tolong berhenti.”
Nah, kemampuan mengatakan batas diri bukan berarti anak menjadi keras kepala.
Justru, dia sedang belajar menghargai dirinya sendiri.

Jangan Bandingkan dengan Anak Lain


“Temanmu sudah bisa.”
“Kakakmu dulu lebih berani.”
“Lihat, adik saja nggak takut.”
Kalimat seperti ini kadang keluar begitu saja.
Namun, hati hati, ya.
Anak bisa mulai mengukur dirinya berdasarkan pencapaian orang lain.
Padahal, perkembangan setiap anak tidak memiliki jadwal yang sama.
Ada yang cepat berbicara.
Juga Ada yang lebih suka mengamati.
Ada yang langsung berani tampil.
Dan Ada yang membutuhkan beberapa kali kesempatan.


Nah, tugas kamu bukan membuat anak menjadi seperti anak lain.
Tugas kamu adalah membantu dia mengenali kekuatannya sendiri.
Berikan Tanggung Jawab yang Bisa Diselesaikan
Mau tahu cara sederhana lainnya?
Berikan anak pekerjaan kecil.
Bukan karena kamu ingin mengurangi pekerjaan rumah, lho.
Tetapi karena tanggung jawab memberi anak kesempatan untuk merasa mampu.
“Setelah bermain, kamu simpan mainannya, ya.”
“Botol minummu dimasukkan ke tas.”
“Tanaman ini kamu bantu siram.”
Awalnya mungkin berantakan.
Tidak apa apa.
Jangan langsung mengambil alih hanya karena hasilnya belum sempurna.
Ketika tugas selesai, katakan:
“Wah, kamu sudah menyelesaikannya sendiri.”
Perasaan berhasil menyelesaikan sesuatu akan menjadi pengalaman positif yang bisa diingat anak.

Jangan Memaksa Anak Selalu Tampil


Kalau anak malu maju ke depan kelas, apakah harus di paksa?
Belum tentu.
Kadang anak membutuhkan waktu untuk mengamati sebelum ikut terlibat.
Daripada berkata, “Ayo maju! Jangan malu!”
Coba katakan:
“Kamu mau lihat dulu atau mau Mama temani?”
Nah, kalimat ini memberi rasa aman.
Ketika anak merasa aman, keberanian biasanya lebih mudah muncul.
Percaya diri bukan berarti selalu menjadi pusat perhatian.
Ada anak yang percaya diri tetapi tetap tenang.
Juga ada yang percaya diri namun tidak suka berbicara keras.
Ada yang percaya diri karena berani mengatakan pendapat dalam kelompok kecil.
Semuanya sah.

Ajari Anak Menghadapi Kegagalan


Pernah anak kalah bermain lalu langsung menangis?
Jangan buru buru berkata, “Jangan cengeng.”
Coba validasi dulu.
“Kamu kecewa karena kalah, ya.”
Setelah emosinya lebih tenang, baru ajak berpikir.
“Mau coba lagi?”
Dengan begitu, anak belajar bahwa kecewa itu boleh.
Kalah itu boleh.
Menangis juga bukan sesuatu yang memalukan.
Yang penting, setelah mengalami kegagalan, masih ada kesempatan untuk bangkit.
Nah, kemampuan seperti inilah yang kelak akan membantu anak menghadapi tantangan yang lebih besar.

Tidak Perlu Menunggu Anak Menjadi Pemberani


Ada satu hal yang mungkin perlu kamu ubah dari cara melihat percaya diri.
Percaya diri bukan berarti anak tidak takut.
Anak yang percaya diri tetap bisa gugup.
Tetap bisa malu.
Tetap bisa ragu.
Bedanya?
Dia perlahan belajar menghadapi perasaan tersebut.
“Wah, aku deg degan.”
“Tapi aku mau coba.”
Kalimat seperti itu jauh lebih bermakna daripada sekadar anak yang terlihat berani karena dipaksa.
Jadi, yuk, jangan terlalu sibuk membuat anak terlihat percaya diri di depan orang lain.
Bangun dulu rasa percaya dirinya ketika tidak ada yang melihat.
Saat dia gagal.
Atau Saat dia bingung.
Saat dia mencoba sesuatu yang baru.
Juga Saat dia menyampaikan pendapat.
Saat dia memilih.
Dan Saat dia mengatakan tidak.
Dan saat dia membutuhkan bantuan.
Nah, di situlah fondasi sebenarnya dibangun.
Kamu tidak perlu menjadi orang tua yang selalu tahu jawaban.


Tidak harus selalu mengatakan hal yang sempurna kok, Cukup hadir dan memberi ruang.
Ketika anak mencoba, dukung.
Atau Ketika dia gagal, temani.
Ketika dia takut, dengarkan.
Dan Ketika dia berhasil, apresiasi.
Ketika dia punya pendapat, beri kesempatan untuk bicara.
Lho, ternyata menumbuhkan rasa percaya diri anak bisa dimulai dari hal sesederhana itu.
Bukan dari membuat anak selalu menang.
Juga Bukan dari membuatnya selalu tampil.
Bukan pula dari memaksanya menjadi paling berani.
Tetapi dari membuatnya percaya bahwa apa pun yang terjadi, dia tetap punya tempat yang aman untuk kembali.
Dan mungkin, suatu hari nanti ketika anak berdiri menghadapi dunia dengan segala tantangannya, dia akan membawa satu keyakinan kecil yang sudah kamu tanam sejak rumah.
“Aku mungkin belum bisa sekarang.
Tapi aku bisa mencoba.”
Nah kalau keyakinan itu sudah tumbuh, kamu sudah memberikan salah satu bekal kehidupan yang paling berharga kepada anak Lo! Keren kan!

Exit mobile version