Kamu mungkin sudah punya niat. Bahkan bisa jadi sudah punya catatan berisi beberapa ide bisnis. Masalahnya, begitu mau benar benar mulai, kepala malah penuh pertanyaan.
“Jual apa, ya?”
“Modalnya berapa?”
“Kalau tidak laku bagaimana?”
“Harus punya banyak followers dulu, tidak?”
Nah, kalau pertanyaan semacam itu masih berputar putar di kepalamu, santai dulu. Memulai bisnis online tidak harus diawali dengan toko yang langsung ramai atau modal yang besar.
Wah, justru banyak pemula terlalu sibuk mempersiapkan bisnis sampai lupa melakukan satu hal yang paling penting, yaitu menguji apakah ada orang yang benar benar membutuhkan produknya.
Jadi, kalau kamu ingin mulai bisnis online, jangan buru buru membeli stok. Kita mulai dari langkah yang lebih cerdas.
Jangan Tanya “Mau Jual Apa?”
Pertanyaan pertama yang biasanya muncul adalah, “Produk apa yang sedang laku?”
Tidak salah sih mencari tren. Namun, kalau seluruh keputusan bisnis hanya berdasarkan barang yang sedang viral, kamu bisa masuk ke persaingan yang sangat padat.
Coba geser pertanyaannya sedikit.
“Benda atau layanan apa yang sering dicari orang di sekitar saya?”
Nah, ini jauh lebih menarik.
Misalnya kamu melihat banyak ibu bekerja kesulitan menyiapkan camilan untuk anak. Dari situ mungkin muncul ide makanan siap santap.
Atau kamu sering menemukan teman kantor kebingungan mencari hadiah sederhana dengan harga terjangkau. Bisa jadi ada peluang membuat gift box.
Bahkan masalah yang kelihatannya sepele bisa menjadi pintu masuk bisnis.
Kamu tidak sedang mencari produk yang terlihat keren. Kamu sedang mencari sesuatu yang dibutuhkan orang.
Perhatikan Apa yang Orang Keluhkan
Ada cara sederhana untuk mencari ide bisnis tanpa harus duduk berjam jam membuat daftar.
Dengarkan keluhan orang.
Serius, lho.
Obrolan di grup WhatsApp, komentar media sosial, percakapan dengan teman, sampai pertanyaan pelanggan di marketplace sebenarnya penuh dengan petunjuk.
“Kenapa barang ini susah dicari?”
“Kalau ada yang lebih murah tapi bagus, aku mau.”
“Ribet banget kalau harus pesan dari luar kota.”
Kalimat seperti itu bisa menjadi informasi pasar.
Nah, mulai sekarang, ketika seseorang mengeluh tentang sesuatu, jangan langsung menganggapnya sebagai keluhan biasa.
Coba pikirkan, “Apakah masalah ini bisa saya bantu selesaikan?”
Kalau jawabannya iya, mungkin di situlah ide bisnis mulai terbentuk.
Tidak Semua yang Viral Layak Kamu Jual
Satu produk bisa sangat laris di tangan orang lain, tetapi belum tentu cocok untukmu.
Mengapa?
Karena bisnis tidak hanya tentang produk. Ada kemampuan menjelaskan, mendapatkan barang, mengemas, melayani pelanggan, mengirimkan pesanan, sampai menghadapi komplain.
Kalau kamu menjual sesuatu yang sama sekali tidak kamu pahami, masalah baru bisa muncul ketika pembeli bertanya.
“Ini cocok untuk siapa?”
“Bagaimana cara menggunakannya?”
“Bedanya dengan produk lain apa?”
Nah, kalau kamu masih bengong mencari jawaban, kepercayaan calon pelanggan bisa hilang.
Jadi, pilih produk yang setidaknya kamu pahami dan sanggup kamu pelajari lebih dalam.
Tidak harus produk yang paling kamu sukai. Yang penting, kamu tahu apa yang sebenarnya kamu tawarkan.
Tes Dulu Sebelum Belanja Banyak
Bayangkan kamu punya modal Rp2 juta.
Lalu karena merasa sudah menemukan produk bagus, seluruh uang digunakan untuk membeli stok.
Seminggu kemudian, ternyata penjualannya sepi.
Duh, pasti bikin pusing.
Padahal ada cara yang lebih aman untuk pemula.
Uji produknya terlebih dahulu.
Kamu bisa menawarkan sistem pre order, mengambil stok sedikit, menjadi reseller, atau bahkan membuat konten untuk melihat respons calon pembeli sebelum membeli dalam jumlah besar.
Tujuannya sederhana.
Cari tahu apakah orang hanya berkata, “Bagus.”
Atau mereka benar benar berkata, “Saya mau beli.”
Nah, dua kalimat itu punya arti yang sangat berbeda dalam bisnis.
Orang yang memuji belum tentu membeli. Karena itu, transaksi menjadi salah satu bentuk validasi yang paling nyata.
Kenali Orang yang Mau Membeli
Punya produk bagus saja belum cukup.
Kamu juga perlu tahu siapa yang kemungkinan besar membelinya.
Misalnya kamu menjual makanan pedas. Targetnya bisa anak sekolah, mahasiswa, pekerja, atau pencinta makanan pedas.
Tetapi kebutuhan mereka berbeda.
Mahasiswa mungkin mencari harga terjangkau.
Pekerja mungkin lebih memperhatikan kepraktisan.
Orang yang membeli untuk oleh oleh mungkin justru mempertimbangkan kemasan.
Nah, semakin jelas calon pembelimu, semakin mudah kamu membuat penawaran.
Daripada mengatakan, “Jual makanan enak dengan harga murah,” kamu bisa berbicara lebih spesifik kepada orang yang memang membutuhkan.
Kontenmu pun terasa lebih hidup karena kamu tahu sedang berbicara dengan siapa.
Jangan Merasa Harus Ada di Semua Platform
Instagram, TikTok, marketplace, WhatsApp, Facebook, dan berbagai platform lainnya memang menarik.
Tetapi, kamu tidak harus membuka semuanya sekaligus.
Kalau baru mulai, pilih satu tempat yang paling mungkin mempertemukanmu dengan calon pembeli.
Targetmu anak muda? Cari tahu platform yang memang sering mereka gunakan.
Targetnya orang di sekitar tempat tinggal? WhatsApp bisa sangat berguna.
Produknya cocok dicari berdasarkan kebutuhan dan harga? Marketplace mungkin lebih relevan.
Jangan sampai waktumu habis untuk mengurus lima akun, tetapi tidak ada satu pun yang benar benar dikelola dengan baik.
Lebih baik satu kanal aktif daripada banyak akun yang hanya berisi postingan sesekali.
Konten Bukan Pajangan Toko
Konten bisnis bukan sekadar membuat feed terlihat cantik saja lho!
Orang membeli karena mereka merasa produkmu punya alasan untuk dibeli.
Maka, tunjukkan alasan tersebut.
Kalau menjual makanan, ceritakan bahan atau proses pembuatannya.
Lalu Kalau menjual pakaian, bantu calon pembeli memahami ukuran dan cara memadukannya.
Kalau menjual produk rumah tangga, tunjukkan masalah yang bisa diselesaikan produk tersebut.
Sesekali, ceritakan juga proses di balik bisnis.
Kamu sedang membangun sesuatu dari nol. Cerita itu sendiri bisa menjadi bagian dari daya tarik.
Wah, ternyata calon pelanggan tidak selalu ingin melihat produk yang sempurna. Mereka juga suka melihat manusia di balik bisnisnya.
Jangan Mengejar Followers Sebelum Mendapatkan Pembeli
Seribu followers memang terlihat menyenangkan.
Namun, apakah seribu orang tersebut benar benar membutuhkan produkmu?
Belum tentu.
Sementara itu, sepuluh pelanggan yang membeli, memberikan ulasan, lalu kembali bertransaksi bisa menjadi awal yang jauh lebih berharga.
Karena itu, target pertama tidak perlu terlalu muluk.
Cari pembeli pertama.
Dengarkan komentarnya.
Perbaiki pelayanan.
Cari pembeli berikutnya.
Begitu seterusnya.
Dari proses tersebut, kamu akan mengetahui apa yang disukai pasar dan apa yang perlu diperbaiki.
Followers bisa bertambah kemudian. Yang lebih penting, bisnisnya punya kehidupan.
Hitung Untung Sebelum Merasa Sudah Untung
Pernah melihat harga jual Rp25.000 dan modal produk Rp15.000 lalu langsung berpikir, “Untung Rp10.000”?
Eits, belum tentu.
Ada kemasan. Bisa ada biaya admin. Ada ongkos operasional. Mungkin kamu mengeluarkan uang untuk iklan. Belum lagi biaya lain yang kadang luput dicatat.
Nah, semuanya perlu dihitung.
Jangan sampai omzet terlihat besar, tetapi ketika uang dihitung ulang ternyata keuntungan sangat tipis.
Sejak awal, biasakan mencatat pemasukan dan pengeluaran.
Tidak perlu langsung menggunakan sistem akuntansi yang rumit. Buku catatan atau spreadsheet sederhana pun sudah cukup untuk tahap awal.
Yang penting, kamu tahu uang masuk dari mana dan keluar untuk apa.
Bisnis Pertama Tidak Harus Langsung Sukses
Kalau penjualan pertama ternyata belum ramai, jangan buru buru menyimpulkan bahwa kamu tidak berbakat menjadi pengusaha.
Bisa jadi produknya kurang tepat.
Mungkin harganya belum sesuai.
Bisa juga cara kamu menawarkan produk belum menarik.
Atau jangan jangan orang yang kamu targetkan memang bukan pasar yang tepat.
Nah, semuanya masih bisa diperbaiki.
Inilah kenapa memulai bisnis dalam skala kecil justru menguntungkan. Kamu bisa melakukan kesalahan tanpa harus kehilangan terlalu banyak modal.
Anggap saja setiap transaksi sebagai pelajaran.
Setiap pertanyaan pelanggan adalah data.
Atau Setiap komplain adalah bahan evaluasi.
Setiap produk yang tidak laku adalah petunjuk untuk mencari tahu apa yang salah.
Jadi, Bisnis Online untuk Pemula Mulai dari Mana?
Mulailah bukan dari logo.
Bukan pula dari nama bisnis yang terdengar keren.
Bahkan jangan langsung berpikir tentang ribuan followers.
Mulailah dari satu masalah yang bisa kamu bantu selesaikan.
Cari tahu siapa yang mengalami masalah tersebut.
Tawarkan solusi dalam bentuk produk atau jasa.
Uji dengan modal yang masuk akal.
Lihat respons pasar.
Catat hasilnya.
Lalu perbaiki.
Kamu tidak perlu menunggu merasa seratus persen siap. Dalam bisnis, rasa siap sering kali baru muncul setelah kamu mencoba.
Nah, kalau hari ini kamu masih punya ide bisnis yang hanya tersimpan di catatan ponsel, coba keluarkan satu.
Pilih yang paling masuk akal.
Tanyakan kepada beberapa calon pembeli.
Cari tahu apakah mereka membutuhkan.
Lalu buat penawaran kecil.
Tidak perlu langsung besar.
Tidak perlu langsung sempurna.
Yang penting bergerak.
Sebab bisnis online bukan lomba siapa yang paling cepat terlihat sukses di media sosial. Ini tentang siapa yang mau terus belajar membaca kebutuhan orang, berani menguji idenya, dan cukup sabar memperbaikinya.
Dan kalau kamu bisa melakukan itu sih kamu sebenarnya sudah memulai jauh lebih serius daripada sekadar punya keinginan untuk berjualan online. Semoga sukses!
