Site icon Ngalam Life

Aktivitas Montessori Sederhana yang Bisa Dilakukan di Rumah

Pernahkah amu melihat anak sedang sibuk menuang air ke gelas, lalu airnya malah tumpah ke meja?
Refleks ingin bilang, “Sudah, sini Mama saja.”
Wajar banget.
Namanya juga orang tua. Melihat anak hampir membuat sesuatu berantakan, tangan rasanya ingin langsung membantu. Apalagi kalau sedang buru buru. Wah, kalau sudah begitu, eksperimen kecil anak bisa berubah menjadi pekerjaan rumah tambahan bagi kita.
Tapi coba tahan sebentar Karena bisa jadi, kegiatan yang menurut kamu cuma bikin berantakan itu justru sedang menjadi proses belajar yang penting untuk anak.
Nah, di sinilah aktivitas Montessori di rumah menjadi menarik.


Montessori tidak selalu harus identik dengan alat belajar mahal, rak kayu cantik, atau ruangan khusus yang estetik. Jika semua harus seperti itu, tentu tidak semua keluarga bisa menerapkannya.
Padahal, esensinya justru bisa ditemukan dari benda-benda yang sudah ada di rumah.
Gelas.
Sendok.
Pakaian.
Buah.
Tanaman.
Bahkan kaus kaki yang berserakan pun bisa menjadi bagian dari pengalaman belajar anak.
Yang dibutuhkan sebenarnya bukan rumah yang sempurna, tetapi kesempatan untuk anak mencoba.

Bukan Anak yang Harus Selalu Dibantu

Yuk perhatikan rutinitas pagi di rumah seperti Anak mengambil baju. Kamu yang memakaikan.
Anak mengambil sendok. Kamu yang menyuapi.
Anak ingin menuang air. Kamu yang mengambil alih.
Anak mencoba merapikan mainan. Kamu yang akhirnya membereskan semuanya.
Kita sering melakukan itu karena ingin membantu.
Tapi tahukah kamu bunda?
Kalau terlalu sering dibantu, anak jadi punya lebih sedikit kesempatan untuk merasakan, “Oh, ternyata aku bisa.”
Nah, aktivitas Montessori sederhana justru memberi ruang pada anak untuk melakukan sesuatu sendiri.
Bukan berarti kamu meninggalkannya.
Bukan juga berarti semua pekerjaan rumah harus diserahkan kepada anak.
Kamu tetap ada di dekatnya. Dan Kamu menunjukkan. Kamu mengawasi. Kalau memang membutuhkan bantuan, barulah kamu membantu.
Bedanya, kamu tidak buru buru mengambil alih.

Coba dari Aktivitas Menuang Air

Kalau kamu ingin memulai Montessori di rumah, aktivitas menuang air bisa menjadi pilihan yang sangat sederhana juga Lo!
Coba Ambil dua gelas plastik kecil.
Isi satu gelas dengan sedikit air. Kemudian tunjukkan kepada anak bagaimana menuangkannya ke gelas yang kosong.
Setelah itu?
Biarkan dia mencoba.
Mungkin awalnya air akan tumpah.
Juga Mungkin gelasnya terlalu miring.
Mungkin malah separuh air berakhir di meja.
Hehe, jangan langsung panik.
Kamu bisa berkata, “Wah, airnya tumpah. Yuk, kita lap.”
Kalimat pendek itu punya pesan yang bagus.
Tumpah bukan bencana.
Ada sesuatu yang bisa diperbaiki.
Anak belajar mengendalikan gerakan tangan, memperkirakan jumlah air, dan memahami akibat dari gerakannya sendiri.


Nah, tanpa lembar kerja, tanpa pensil, dan tanpa hafalan, proses belajar tetap berlangsung.
Kacang Hijau Bisa Jadi Alat Belajar
Kamu punya kacang hijau di dapur?
Tidak perlu di simpan hanya untuk bahan bubur.
Ambil dua mangkuk kecil dan satu sendok.
Masukkan kacang hijau ke salah satu mangkuk. Minta anak memindahkannya satu per satu ke mangkuk yang lain menggunakan sendok.
Kelihatannya sederhana sekali, ya?
Tapi justru di situlah menariknya.
Anak harus mengarahkan sendok.
Menjaga keseimbangan.
Mengatur gerakan tangan.
Memperhatikan benda yang di pindahkan.
Kalau jatuh?
Biarkan.
“Wah, jatuh satu. Kita ambil lagi, yuk.”
Nah, respons seperti ini jauh lebih menarik daripada, “Aduh, kok tumpah sih?”
Anak tidak hanya belajar melakukan aktivitas, tetapi juga belajar menghadapi kesalahan tanpa langsung merasa gagal.
Untuk anak yang masih kecil, tentu pilih benda yang aman dan lakukan dengan pengawasan agar tidak dimasukkan ke mulut.

Jangan anggap remeh Kegiatan Melipat Baju

Ada aktivitas Montessori yang sebenarnya sudah sering kita lakukan, tetapi jarang di anggap sebagai kegiatan belajar.
Melipat pakaian.
Coba berikan anak handuk kecil atau kaus miliknya.
Tunjukkan sekali bagaimana cara melipatnya.
Lalu?
“Yuk, sekarang kamu coba.”
Hasilnya jangan dibayangkan seperti lipatan pakaian di toko.
Bisa miring.
Atau Bisa tidak sama rata.
Bisa malah menjadi gulungan.
Tidak masalah, kok.
Tujuan awalnya bukan membuat lemari terlihat sempurna.
Tujuannya adalah melatih anak mengoordinasikan gerakan, mengikuti urutan, dan menyelesaikan sebuah pekerjaan.
Nah, ketika anak mulai terbiasa, kamu bisa berkata, “Setelah dilipat, kita taruh di mana?”
Dari sini muncul latihan lain: tanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri.
Wah, satu kaus ternyata bisa mengajarkan banyak hal.

Ajak Anak Mencuci Buah

Saat kamu sedang menyiapkan buah untuk keluarga, coba jangan langsung mengerjakannya sendiri.
Ajak anak.
Berikan wadah dan beberapa buah yang aman untuk dicuci.
“Yuk, kita cuci apelnya.”
Anak bisa membilas buah, menggosok permukaannya, kemudian meletakkannya di wadah.
Sambil melakukan itu, kamu bisa mengobrol.
“Ini apa?”
“Apel.”
“Warnanya apa?”
“Merah.”
“Setelah dicuci, kita makan.”
Nah, kamu mungkin merasa sedang mengajak anak mencuci buah.
Padahal, di saat bersamaan anak sedang belajar kosa kata, koordinasi tangan, kebersihan, urutan kegiatan, dan tanggung jawab.
Bukankah itu menarik?

Buka Tutup Wadah? Biarkan!



Kamu Pernah melihat anak membuka tutup botol berkali kali?
Dibuka.
Lalu Di tutup.
Di buka lagi.
Kita yang melihat kadang berpikir, “Ngapain sih?”
Tapi bagi anak, itu bukan kegiatan tanpa tujuan.
Ia sedang mencari tahu bagaimana benda bekerja.
Kamu bisa menyediakan beberapa wadah aman dengan jenis penutup berbeda.
Ada yang tinggal di buka.
Juga Ada yang harus di putar.
Ada yang perlu di tekan.
Kemudian biarkan anak mencoba.
Jangan langsung memberi jawaban.
Kalau kesulitan, kamu bisa memberi petunjuk kecil.
“Coba diputar.”
Atau, “Menurut kamu, dibuka ke mana?”
Nah, pertanyaan seperti itu membuat anak berpikir sebelum bertindak.

Menyiram Tanaman Juga Bisa Jadi Montessori

Punya tanaman di rumah?
Ajak anak ikut merawatnya.
Berikan penyiram kecil. Ajarkan bagaimana menuangkan air perlahan ke tanah.
Tapi jangan berhenti di “ayo siram tanaman”.
Ajak anak mengamati.
“Coba pegang tanahnya.”
“Masih basah atau sudah kering?”
Nah, ini menarik.
Anak mulai belajar bahwa melakukan sesuatu tidak cukup hanya karena sudah waktunya. Ada kondisi yang perlu diamati terlebih dahulu.
Kalau tanah masih basah, mungkin belum perlu disiram lagi.
Wah, dari tanaman saja anak sudah belajar mengamati sebelum mengambil keputusan.

Rumah Tidak Harus Montessori untuk Menerapkan Montessori

Kalau kamu selama ini berpikir bahwa “Rumahku biasa saja. Kayaknya tidak bisa menerapkan Montessori,” buang jauh jauh pikiran itu.
Kamu tidak perlu mengubah rumah menjadi ruang kelas.
Tidak perlu membeli semua alat Montessori.
Kamu juga Tidak perlu membuat aktivitas yang rumit.
Lihat saja apa yang sudah ada.
Ada baju? Bisa di lipat.
Ada buah? Bisa di cuci.
Ada gelas? Bisa di gunakan untuk latihan menuang.
Ada tanaman? Bisa di rawat.
Ada mainan? Bisa di rapikan.
Ada dapur? Banyak sekali aktivitas yang bisa di lakukan kok
Terrnyata Montessori bisa sedekat itu dengan kehidupan sehari hari.


Yang paling penting adalah bagaimana kamu memberikan kesempatan kepada anak.
Ketika anak mencoba memakai sepatu sendiri, beri waktu.
Bahkan Ketika dia ingin membereskan mainannya, jangan langsung mengambil alih.
Ketika dia mencoba menuang minuman dan sedikit tumpah, tarik napas dulu.
Karena bagi kita, mungkin itu hanya air yang tumpah.
Bagi anak, itu adalah pengalaman.
Dia sedang belajar mengukur.
Juga Dia sedang belajar mengendalikan tangan.
Dia sedang belajar bahwa sesuatu bisa gagal lalu dicoba lagi.


Dan yang tidak kalah penting, dia sedang membangun keyakinan kecil dalam dirinya:
“Aku bisa.”
Nah, bukankah kalimat sederhana itu yang sebenarnya ingin kita tumbuhkan sejak dini?
Jadi, tidak perlu menunggu punya perlengkapan lengkap.
Jadi Dari aktivitas yang sederhana.
Dari benda yang ada.
Dan dari kesabaran kamu untuk sesekali membiarkan anak mencoba sendiri.
Karena kadang kadang, pendidikan terbaik bukan ketika kita mengajari anak melakukan sesuatu.
Melainkan ketika kita cukup percaya untuk berkata,
“Coba kamu lakukan sendiri. Mama di sini.”
Itulah salah satu hadiah kecil yang bisa kamu berikan kepada anak setiap hari. Semoga pembahasan kali ini bermanfaat untuk kamu dan anak kamu ya!

Exit mobile version